Home SERIAL Menantang Konsep Persahabatan Sesama Perempuan Dalam Film

Menantang Konsep Persahabatan Sesama Perempuan Dalam Film

Serial Imperfect Women [2026] - Tayang di Apple TV

1
0
SHARE
Menantang Konsep Persahabatan Sesama Perempuan Dalam Film

Tahun 2022. Industri film Korea mengadaptasi drama Tiongkok yang sukses besar berjudul Nothing But Thirty. Disadur menjadi serial 12 episode di Netflix berjudul Thirty-Nine, drama ini mengisahkan tentang persahabatan mendalam, percintaan, dan suka duka kehidupan tiga orang perempuan yang bersahabat erat sejak SMA dan akan menginjak usia 40 tahun. Drama ini menyoroti bagaimana mereka saling mendukung di tengah krisis, penyakit serius, dan kehilangan.

Dalam Thirty-Nine kita melihat bagaimana Cha Mi-jo (Son Ye-jin), kepala dokter kulit di sebuah klinik di Gangnam, Jeong Chan-young (Jeon Mi-do), guru akting yang memimpikan karier sebagai aktris dan Jang Joo-hee (Kim Ji-hyun), manajer kosmetik di sebuah departemen store merajut persahabatannya. Sebagaimana drama Korea lainnya, serial ini fokus menyoroti masa-masa sulit yang harus dihadapi ketiga perempuan menjelang usia 40 termasuk ketiga salah satu di antara mereka harus bergulat melawan penyakit serius.

Dan seperti itulah biasanya persahabatan perempuan disajikan dalam film. Persahabatan yang benar-benar memperlihatkan kesempurnaan pertemanan, ketulusan dari sesama perempuan dan bagaimana ketiganya saling bahu membahu untuk meringankan beban satu dari yang lain.

Dilihat dari jauh serial Imperfect Women pun bisa jadi menyiratkan kesan serupa. Sebagaimana Thirty-Nine, Imperfect Women juga menyodorkan persahabatan tiga perempuan berbeda ras: 2 perempuan berkulit putih dan 1 orang keturunan Afrika-Amerika. Namun ketika kita menelisik lebih dalam tahulah kita makna judul tersebut. Oleh penulis novelnya, Araminta Hall, kita diajak masuk ke dalam kehidupan tiga perempuan dengan segala ketidaksempurnaannya. Di balik penampilan serba sempurna ketiganya, kita dipaksa melihat borok-borok yang disembunyikan, hubungan-hubungan rahasia yang selama ini tertutup rapat dan ketidaktahuan mereka akan kehidupan mereka satu sama lain.

Berbeda dengan Thirty-Nine, Imperfect Women justru menantang kita untuk melihat kembali persahabatan sesama perempuan: apakah kita bisa menyebutnya persahabatan jika banyak hal-hal yang disembunyikan? Bisakah kita menyebutnya persahabatan jika terjadi hubungan-hubungan rahasia di antara suami-istri mereka? Dan masih bisakah kita menyebutnya persahabatan jika semuanya terbongkar?

Serial yang diproduksi sebanyak 8 episode dan tayang di Apple TV ini tak menghabiskan waktu untuk memperkenalkan karakternya. Di episode perdana kita langsung diguncang sebuah fakta: Nancy, salah satu dari ketiga perempuan bersahabat, meninggal mengenaskan. Padahal di malam sebelumnya bersama Eleanor dan Mary, ketiganya masih menghabiskan malam bersama. Ketiganya masih menghabiskan waktu senggang mereka sebelum kembali ke kehidupan masing-masing. Kita melihat betapa ketiganya tak terpisahkan sejak duduk di bangku kuliah. Tapi di episode perdana, serial ini langsung memberitahu satu awal: apa yang terlihat bisa jadi tak terlihat sebagaimana adanya.

Maka kreator serial ini, Annie Weisman, tak membuang waktu langsung membongkar secara perlahan apa yang sesungguhnya terjadi. Nancy awalnya seorang gadis miskin yang lantas dinikahi lelaki kaya raya, Robert. Nancy tak pernah membiarkan dirinya menjadi perempuan materialistis meski masuk ke lingkungan elit. Ia tetap membiarkan dirinya bekerja sebagai sukarelawan untuk sejumlah organisasi, diantaranya untuk teater balet yang dicintainya sejak remaja.

Sementara Eleanor, satu-satunya perempuan kulit hitam dari ketiganya, juga berasal dari keluarga kaya raya. Ia memimpin sebuah organisasi kemanusiaan dan berusaha betul membuat dirinya tak merasa bersalah dengan kekayaan yang dimiliki keluarganya meski kakaknya, Donovan, senantiasa mengingatkannya soal itu.

Dan Mary adalah seorang ibu rumah tangga biasa dan tinggal di pemukiman luar kota. Ia mengasuh tiga anaknya seorang diri dengan suami seorang dosen yang tampak tak berbahaya, Howard. Ketergantungannya kepada obat di masa lalu membuat dirinya punya kelemahan yang selalu digunakan oleh suaminya.

Dengan sudut pandang penceritaan yang seringkali berganti di tiap episode dari Eleanor ke Nancy ke Mary membuat serial ini justru bisa bercerita dengan lebih efektif dan lebih jernih. Kita bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi dari sudut pandang masing-masing. Kita bisa mempertimbangkan siapa yang sebenarnya bisa disalahkan atas sebuah kejadian dan siapa yang sesungguhnya menjadi korban karena bisa melihatnya dari beragam perspektif. Tak ada yang benar-benar sempurna di cerita ini. Semua punya borok dan lukanya masing-masing yang mereka coba sekuat tenaga untuk ditutupi.

Setelah menyaksikan Imperfect Women bisa saja ada pergeseran konsepsi dari kita tentang persahabatan sesama perempuan. Dan tentu saja ini bukan saja sebuah terobosan tapi juga sebuah kesegaran. Jadinya kita juga bisa melihat beragam versi persahabatan, tak sekedar saling mandukung dalam penyakit namun juga tetap bisa saling berpegangan tangan dalam tragedi.

 

IMPERFECT WOMEN

Produser: Jesse Sternbaum, Carlota Pino, Kyle Warren

Sutradara: Lesli Linka Glatter, Daina Reid, Nzingha Stewart, Jet Wilkinson

Penulis Skenario: Annie Weisman, Allison Abner, Aaron Fullerton, Haily Hall, Kay Oyegun, Kyle Warren

Pemain: Elisabeth Moss, Kerry Washington, Kate Mara

Video Terkait: