Saat pertama kali membuka The Food of Singapore Malays: Gastronomic Travels Through the Archipelago karya Khir Johari, yang langsung terasa adalah kemewahan buku ini.
Kertasnya tebal, foto-foto makanannya eksklusif dan artistik—bahkan ketika yang difoto adalah hidangan sehari-hari seperti nasi lemak atau sambal goreng. Tapi jangan tertipu oleh tampilan visualnya yang cantik. Buku setebal 621 halaman ini sama sekali bukan buku resep makanan semata.
Yang lebih mengesankan, setiap uraian sejarah kuliner di dalamnya dikemas secara hati-hati, tidak asal tempel dari sana-sini. Tidak heran, penulisnya menghabiskan waktu 11 tahun untuk merampungkan buku ini. Khir Johari, yang lahir dan besar di Gedung Kuning, Kampong Gelam—kawasan bersejarah di Singapura—benar-benar menelusuri manuskrip-manuskrip kuno, mewawancarai puluhan narasumber, dan melakukan perjalanan ke berbagai pulau di Nusantara demi memastikan setiap fakta memiliki akar yang kuat. Bahkan ia mengaku kehilangan banyak narasumber sebelum bukunya terbit—sebuah pengingat bahwa mendokumentasikan warisan leluhur adalah pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Sejak awal, penulisnya dengan tegas menyatakan: "This is not a cookbook. It is the unwritten story of a people." Buku ini adalah cerita yang belum pernah ditulis tentang sebuah bangsa, dan makanan adalah pintu masuknya. Karya ini bahkan memenangkan NUS Singapore History Prize 2024.
Syair Makanan Zaman Dulu yang Tersembunyi di ManuskripTua
Yang membuat buku ini benar-benar istimewa, Khir Johari tidak mencoba membahas bumbu dapur atau teknik memasak belaka. Dia justru "membaca" makanan dari manuskrip kuno dan untaian syair. Di bab Lyric Flavours: Food in Verse, Tale and Song, kita diajak napak tilas bagaimana makanan hidup dalam seni sastra Melayu sejak abad ke-14.
Dalam Sulalatus Salatin, misalnya, digambarkan bagaimana jamuan istana tidak hanya soal hidangan, tetapi juga mencerminkan tatanan sosial. Ada aturan ketat tentang siapa yang boleh duduk dan makan bersama, bahkan jumlah orang dalam satu piring pun diatur. Sang Bendahara, misalnya, boleh makan sendirian atau bersama keluarga raja—sebuah bentuk penghormatan yang menunjukkan posisinya dalam struktur kerajaan.
Dalam Hikayat Hang Tuah dari abad ke-17, kita dapat menikmati gambaran jamuan makan yang meriah: makanan disantap diiringi bunyi-bunyian, minuman dihidangkan dalam piala bertatahkan permata, dan setelah makan para bangsawan mengunyah sirih serta memakai wewangian. Ini menunjukkan bahwa pengalaman bersantap di masa lalu tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal keindahan, keharuman, dan kemuliaan.
Naskah Cerita Kutai dari tahun 1625 turut memperkaya pemahaman kita tentang kekayaan kuliner Melayu. Dalam naskah ini disebutkan hidangan seperti dodol, serikaya, madu mungsu, hingga lelapon dan puteri mandi. Bahkan inilah naskah pertama yang menyebut kata "satai" (sate), lengkap dengan bentuk jamaknya yang kini tak lagi digunakan: "sesatai". Ini membuktikan bahwa sate bukan sekadar makanan rakyat, tetapi telah hadir di meja istana sejak ratusan tahun lalu.
Temuan lain yang tak kalah menarik adalah penyebutan kata "rendang" dalam naskah Hikayat Muhammad Hanafiah dari tahun 1380—lebih dari 600 tahun lalu! Dalam naskah itu, rendang tidak hanya merujuk pada masakan daging, tetapi juga pada teknik memasak kering yang bisa diterapkan pada bahan lain seperti gandum dan jagung. Sementara itu, kata "gulai" muncul lebih awal lagi, dalam naskah Hikayat Bayan Budiman dari tahun 1370-an, menunjukkan betapa kayanya tradisi kuliner Nusantara yang telah tercatat jauh sebelum era kolonial.
Di Sha'er Imhoff (abad ke-18) pun ada petuah bijak yang dikemas dalam syair:
Lemang, tetal, nasi Kabuli
Dodol, wajik, apam dan surabi
Demikianlah titah Sang Maha Raja
Kepada puterinya yang cantik jelita
"Awas, anakku, makan jangan terlena
Kalau sakit nanti kau juga yang merana"
Nasihat "jangan kebanyakan makan" dikemas puitis dengan pantun. Ini membuktikan bahwa sejak dulu, orang Melayu sudah memahami pentingnya moderasi dalam menikmati makanan—dan bahwa makanan bukan hanya soal perut kenyang, tapi juga soal etika, seni, dan kebijaksanaan hidup.
Dari "Semanggi Suroboyo" sampai "Jagung Bakar": Tradisi Panjang Lagu Kuliner Nusantara
Jika kita lihat di Indonesia, tradisi lagu bertema makanan ternyata sudah eksis sejak lama. Di era 50-an, ada lagu keroncong legendaris "Semanggi Suroboyo" ciptaan S. Padimin yang menggambarkan kelezatan semanggi dengan lirik super ikonik: "semanggi suroboyo, lontong balapwonokromo, dimakan enak sekali, sayur semanggi kerupukpuli" . Lagu ini bukan hanya promosi kuliner, tetapi juga menjadi identitas Kota Surabaya ketika masih didominasi rawa-rawa dan pesawahan yang ditumbuhi semanggi .
Ada juga lagu "Ampar-Ampar Pisang" dari Kalimantan Selatan yang diciptakan A. Zaini. Di balik melodinya yang ceria, lagu ini bercerita tentang proses menghamparkan pisang yang sedang dijemur untuk dibuat makanan tradisional. Secara filosofis, lagu ini mengajarkan nilai kesabaran, kerja keras, dan kebersamaan dalam masyarakat Banjar .
Fenomena TikTok: Lagu Kuliner Hidup Kembali
Tradisi ini justru bangkit lagi lewat platform digital. Tahun 2024-2025 kita disuguhi banjir lagu kuliner yang viral. Mari kita periksa fakta-fakta yang beredar:
"Punten Meser Seblak" yang disebut-sebut sebagai ciptaan Wagista dan dinyanyikan Ade Astrid memang viral di TikTok. Lagu dengan lirik sederhana "Punten meser Seblak, ladanalevel 2" ini menjadi backsound favorit anak muda.
Yang menarik, popularitas lagu ini berjalan beriringan dengan fenomena seblak yang viral di Thailand pada September 2025 . Influencer Thailand Chanisara (Oon) memang membuat video mukbang seblak yang ditonton jutaan kali. Dalam videonya, Oon terlihat antusias dan menyebut "Aroi!" yang artinya enak .
Makanan seblak ini diidentifikasi murni hasil kreativitas generasi muda Jawa Barat yang mulai populer di awal 2000-an. Nama "seblak" sendiri berasal dari bahasa Sunda "segak" yang berarti menyengat—merujuk pada aroma kencur yang khas .
"Goyang Nasi Padang" dari Duo Anggrek memang fenomenal. Lagu yang dirilis tahun 2017 ini tiba-tiba viral lagipada Maret-April 2024 karena video seorang bocah menari di depan rumah makan Padang. Video asli yang diunggah akun@prince_bennedict1 mendapat 352.000 views. Akun resmi Juventus FC bahkan membuat video pemain bola mereka menari dengan lagu yang sama. Video tersebut ditonton lebih dari 9 juta kali sebelum akhirnya dihapus. Dari sini kita melihat bagaimana lagu daerah bisa mendunia hanya modal dance challenge.
Metafora Makanan: Santan dan Gula Simbol Cinta Abadi
Kembali ke buku Khir Johari, penulisnya menunjukkan bahwa orang Melayu zaman dulu menggunakan makanan untuk mengungkapkan perasaan. Dalam Syair Kerajaan Bima (1830-an), cinta yang harmonis digambarkan dengan:
"Kedua baginda sangat berpatutan
Seperti manikam dengan intan
Manisnya seperti gula dan santan"
Santan dan gula memang menjadi metafora kesempurnaan dalam budaya Melayu. Kombinasi manis-gurih yang tidak terpisahkan, seperti pasangan serasi. Dalam syair-syair lama, kelapa parut santan dipakai untuk melukiskan pesona seseorang: "Wajahnya berseri-seri, lebih harum dari santan"—bukan hanya wangi, tetapi juga lembut dan memikat.
Bukan Sekadar Syair, Tapi Identitas
Yang ingin Khir Johari tekankan, makanan dan syair adalah dua hal yang menyatu dalam budaya Melayu. Makanan bukan hanya soal rasa di lidah, tetapi juga soal nilai, identitas, dan sejarah. Lewat syair dan pantun, orang Melayu "menulis" makanan mereka jauh sebelum media sosial lahir.
Jika sekarang kita mendengar lagu "Seblak" atau "Goyang Nasi Padang" viral di TikTok, sebenarnya itu kelanjutan dari tradisi panjang yang sudah dimulai berabad-abad lalu. Bedanya, dulu menggunakan manuskrip dan syair istana, sekarang menggunakan dance challenge dan video pendek.
Bacaan Wajib Sebelum Gigitan Pertama
The Food of Singapore Malays adalah mahakarya yang mengingatkan kita bahwa makanan itu lebih dari sekadar nutrisi. Dia adalah bahasa, dia adalah puisi, dia adalah lagu yang terus dinyanyikan turun-temurun. Buku ini juga menegaskan posisi Singapura sebagai bagian tak terpisahkan dari jaringan perdagangan dan budaya Nusantara jauh sebelum kolonialisme Eropa.
Untuk kamu yang doyan nongkrong sambil mencari kuliner enak, atau suka membuat konten TikTok dengan lagu-laguviral, membaca buku ini akan menambah wawasan. Ternyata di balik setiap suapan, ada ribuan tahun cerita yang menunggu untuk didengarkan. Dan di balik setiap lagu viral tentang makanan, ada tradisi panjang yang menghubungkan kita dengan leluhur.
[ditulis oleh Latifah, dosen di Batu - Malang].


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY