Tahun 1999. Boleh dibilang tahun ini menandai bangkitnya genre horor kontemporer. Dua film bergenre horor dirilis masing-masing The Sixth Sense dan The Blair Witch Project dirilis. Dan di tahun yang sama, Curry Barker lahir ke dunia.
Entah ada hubungannya atau tidak dengan tahun kelahirannya, setidaknya melihat rekam jejaknya, ketertarikan Curry pada horor cukup jelas. Maka tak heran jika ia memilih genre itu sebagai pijakan pertamanya di dunia film professional sebagai sutradara. Begitupun Curry memilih dunia yang dekat dengan dirinya: bagaimana ia memandang hubungan percintaan generasinya hari ini jika dilihat dalam sebuah film horor.
Dalam sebuah wawancaranya dengan majalah TIME, Curry melihat apa yang terjadi pada generasinya hari ini. "We live in a world where everybody's on the internet and human connection feels like it's at an all-time low. Bear is a guy who's too scared. A lot of things would have been avoided in this movie if he had just told her how he felt." Dua kata kunci dalam wawancara ini: koneksi manusia. Dan dalam dua kata kunci itulah Obsession membangun cerita dan semesta yang mengitarinya.
Curry menyoroti bagaimana manusia dengan keinginannya selalu bisa begitu egois. Dari sisi percintaan, ada keinginan untuk dicintai sedemikian rupa dari seseorang. Padahal bukankah seharusnya rasa cinta itu bukan diminta namun diperjuangkan? Bukankah seharusnya rasa cinta itu datang dari dua pihak? Bukan salah satu pihak memaksakan keinginannya sehingga membuat pihak lain tak berdaya? Dalam Obsession Curry membuat toxic relationship yang sudah mengerikan menjadi bertambah beberapa level lagi mengerikannya. Dan kita melihat toksisitas itu berubah mewujud menjadi racun yang memakan perlahan sisi kemanusiaan kita.
Bear adalah perwujudan cowok hari ini. Hidup terlalu lama di dunia internet sehingga merasa tak berdaya saat berada di dunia nyata. Ia tahu ia menyukai Nikki namun tak pernah cukup berani untuk mengungkapkannya. Dalam sebuah adegan pembuka yang kocak sekaligus ironis dan juga efektif memperkenalkan karakter Bear, kita melihat sebuah dunia yang berubah. Dunia yang senantiasa berlindung di balik anonimitas yang membuat kita menjadi pengecut untuk keluar dari bayang-bayangnya.
Padahal masalahnya bisa jadi lebih sederhana jika Bear mengungkapkan perasaannya pada Nikki. Tentu saja selalu ada tiga kemungkinan: Nikki menerima, menolak atau mengombang-ambingkannya. Tapi risiko itu seharusnya berani ditempuh seorang laki-laki. Tapi Bear memilih jalan lain. Dalam sebuah interaksinya dengan permainan bernama One Wish Willow, Bear tak sadar sedang bermain-main dengan api. Bear tak menyadari pemeo “hati-hati dengan apa yang kamu inginkan.” Dan kita tahu apa yang diinginkannya kelak berubah menjadi sesuatu yang tak pernah diantisipasinya.
Maka Nikki di film ini yang sekilas tampak seperti cegil di bawah pengaruh keinginan Bear menjadi perwujudan obsesi dalam levelnya yang paling maksimum. Kita melihat seorang perempuan yang sebelumnya tak pernah memperlihatkan ketertarikan sedikit pun bertekuk lutut begitu saja. Dan perlahan pengaruh itu membuatnya terperosok ke dalam lubang obsesi yang mengerikan. Teror dari Curry menjadi sedemikian efektif karena sebagian besar dari kita sadar betapa cinta bisa sedemikian destruktifnya dengan atau tanpa pengaruh semacam one wish willow, atau pellet, atau apapun namanya.
Tapi yang perlu diberi keplokan meriah selain kerapihan Curry menjahit ceritanya adalah betapa Obsession bertransformasi menjadi komentar sosial menyakitkan. Terasa sedemikian menyakitkan hingga membuat kita takut karenanya. Hubungan Bear dan Nikki menjadi toksis dengan atau tanpa pengaruh apapun karena faktor keegoisan seseorang. Dalam perspektif ini kita pun menjadi susah melihat Bear sebagai korban karena sesungguhnya ia yang memulai semuanya. Ia yang dengan sadar melakukan permintaan egoisnya. Ia yang dengan sadar menginginkan seseorang mencintainya melebihi apapun.
Dan dengan perspektif demikian pula kita bisa dengan mudah jatuh iba pada Nikki dan melihatnya sebagai korban. Ia tak menyadari tindakan apapun yang dilakukannya dan konsekuensi dari perbuatannya yang bisa jadi harus dipertanggungjawabkannya kelak. Ia berada dalam situasi relasi kuasa yang tak adil dan menyakitkan. Ia tak berdaya, ia kehilangan apapun untuk menampiknya.
Karenanya Obsession berhasil sebagai horor yang menakuti sisi terdalam kita dengan memperlihatkan konsekuensi dari keinginan egois kita. Curry tak perlu setan, hantu, jin atau iblis sebagaimana film horor Indonesia yang selalu seakan seperti tak percaya diri dengan ceritanya sendiri. Curry hanya melihat apa yang sesungguhnya bisa terjadi sekiranya kita hanya terus menerus mendahulukan kepentingan kita dan meminggirkan keberadaan orang lain. Dalam sebuah semesta harus kita yang menjadi pemeran utamanya dan orang lain hanya menjadi obyek pelengkap/penderita. Sebagaimana Nikki yang terjebak dalam dunia Bear dan hanya menjadi obyek pemuas keegoisan Bear.
Cinta. Obsesi. Egoisme. Dalam sebuah hubungan ketiganya seringkali berpilin. Tapi jangan sampai kita terjebak di dalamnya dan semuanya berubah menjadi racun yang mematikan.
Produser: James Harris, Haley Nicole Johnson, Christian Mercuri, Roman Viaris
Sutradara: Curry Barker
Penulis Skenario: Curry Barker
Pemain: Michael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Tomlinson





LEAVE A REPLY