Tahun 1983. Saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan mulai berkenalan dengan karakter pahlawan He-Man dalam serial animasi He-Man and the Masters of the Universe. Serial animasi ini segera saja menjadi tontonan favorit anak-anak yang menunggunya dengan setia di layar TVRI.
Selain tampilannya yang ikonik dengan rambut bob berwarna kuning, He-Man juga mudah diingat oleh anak-anak berkat pedangnya yang sakti dan kekuatannya yang menggelegar.
Memori itu kembali membuncah saat saya menyaksikan film ulang buat Masters of the Universe sekitar 43 tahun kemudian setelah penayangan perdana serial animasinya. Saya justru belum pernah menyaksikan versi live-action-nya yang dirilis pada tahun 1987 dan dibintangi duo Dolph Lundgren dan Frank Langella. Karenanya saya nyaris tak terganggu apapun dalam upaya melahirkan kembali karakter pahlawan komik tersebut termasuk keisengan para pembuatnya dengan menampilkan sosok He-Man yang konyol bin kocak.
Bayangkan ini. Sang pangeran dari Eternia ini digambarkan bertubuh kecil dan ringkih semasa kanak-kanak. Karenanya dengan mudah ia dirundung oleh banyak orang, bahkan oleh perempuan sekalipun. Sang pangeran bernama Adam itu tak doyan berkelahi, tak ingin menyakiti siapapun. Hingga kelak seorang penjahat bernama Skeletor datang dan meluluhlantakkan Eternia. Tak cuma itu ia pun menahan ayah dan ibu Adam dan membuat Adam harus menembus dimensi lain untuk tiba di dunia yang kita jalani hari ini.
Tak ada yang aneh dengan pengantar dari film yang disutradarai Travis Knight ini. Tapi bukankah membosankan jika film ulang buat hanya sekedar mengulang formula yang sudah diingat di luar kepala bahkan sejak kita kecil? Tidakkah terbersit keinginan untuk melahirkan sesuatu yang mungkin tak perlu revolusioner, mungkin tak perlu sensasional, tapi justru tampak sangat iseng?
Kwartet penulis skenario Chris Butler, Adam Nee, Aaron Nee dan Dave Callaham justru berusaha melahirkan kembali sosok sang pangeran di luar ekspektasi sebagian besar penonton. Yess, mereka membuat Adam sebagai sosok pemuda kikuk, dengan cerita-cerita yang susah dinalar sesamanya dan seperti masih kurang iseng, para penulis skenario ini membuat Adam bekerja di sebuah perusahaan sebagai staf SDM [Sumber Daya Manusia]. Maka dengan latar belakang baru ini keahlian Adam adalah berbicara, membicarakan perasaan dan hal-hal sejenis. Ia bahkan tak pernah tampak seperti seorang pahlawan super. Sebuah risiko perlu diambil agar ulang buat ini terasa segar dan risiko tersebut rasanya menjadi bagian paling menyenangkan dari Masters of the Universe.
Dan kita melihat bagaimana Adam berada di dua dunia: dunia realita yang [pernah] dialaminya di Eternia dan dunia realita yang dihadapinya hari ini. Dunia yang menjadikannya sebagai pewaris Eternia dan dunia yang menjadikannya sebagai staf SDM. Dunia yang [hampir] selalu melihatnya sebagai orang yang dirundung dan dunia yang melihatnya bangkit untuk melawan kejahatan. Dengan segala ironinya tersebut Masters of the Universe justru menyegarkan untuk ditonton.
Sekali lagi sebuah film mendemonstrasikan betapa pentingnya pemilihan pemain yang tepat. Nicholas Galitzine yang aslinya ganteng dan bertubuh atletis bisa dibuat konyol, kocak dan kikuk, sesuatu yang mungkin tak kita sangka akan keluar dari wujudnya. Nicholas menjadi Adam dengan dua sisi berseberangan: sisi manusiawi dirinya yang menganggap segala sesuatu bisa diselesaikan dengan berbicara dan sisi kepahlawanannya yang menganggap bahwa kadang aksi diperlukan dan kebersamaan menjadi kekuatan maha dahsyat. Nicholas bisa mewujudkan semua itu dengan tampilannya yang berbeda dari peran-peran yang pernah dimainkannya sebelumnya.
Nicholas juga tak takut terlihat jelek, tak pernah terlihat ingin serba sempurna, justru melalui karakternya ia selalu mencari jalan agar penonton bisa melihatnya sebagai manusia biasa. Dengan karakterisasi seperti itu bisa jadi sebagian penonton akan merasa terhubung. Adam juga punya beberapa masalah yang kita hadapi sehari-hari. Selain doyan dirundung, Adam juga awalnya terlihat seperti punya daddy issue. Menyenangkan melihat bagaimana skenario mencoba mendekatkan karakter Nicholas lebih sebagai Adam yang sama seperti kita dibanding He-Man seorang jagoan dari Eternia.
Tapi perlu dicatat Masters of the Universe hanya perlu dinikmati sebagai hiburan thok. Ini adalah sebuah film yang dibuat untuk semua umur, demi merawat kembali memori masa kecil kita yang menyenangkan, juga mencoba merangkul jenis penonton baru dengan karakterisasi yang terasa dekat. Tentu saja semuanya dibuat lebih sederhana, dengan penyelesaian serba kebetulan, dengan karakter-karakter lain [di luar Adam] yang stagnan. Tapi mungkin memang Masters of the Universe tak berambisi menjadi film bagus. Ia hanya ingin dilihat oleh anak/remaja yang pernah dirundung, pernah bermasalah dengan sang ayah, yang lantas semesta memberi cara ajaib untuk mereka berdamai dengan masalah-masalah itu. Dan tentu saja tak masalah Masters of the Universe melakukannya sebagaimana banyak film dengan tokoh utama pahlawan dari komik. Dalam segi menghibur, ia sudah berhasil.
Produser: Todd Black, Jason Blumenthal, Robbie Brenner, DeVon Franklin, Steve Tisch
Sutradara: Travis Knight
Penulis Skenario: Chris Butler, Aaron Nee, Adam Nee, Dave Callaham
Pemain: Nicholas Galitzine, Camila Mendes, Idris Elba





LEAVE A REPLY