Tahun 1962. Untuk pertama kalinya Korea Selatan mendaftarkan film untuk seleksi Academy Awards kategori Best International Feature Film. Film yang didaftarkan tersebut berjudul My Mother and the Roomer.
Butuh 56 tahun bagi Korea Selatan hingga akhirnya bisa menembus daftar pendek di tahun 2018 melalui film berjudul Burning. Dan setahun berikutnya Korea Selatan membuat sejarah dengan Parasite yang berhasil membawa pulang 4 piala Oscar sekaligus termasuk untuk kategori Best Picture.
Hingga kini Korea Selatan tak berhenti bereksperimen dan terus berevolusi. Kita melihat sineas-sineasnya semakin berani melakukan penjelajahan ide, memasuki ruang-ruang yang sebelumnya asing dan terus mengasah craftmanship mereka. Colony menjadi salah satu film yang membuka mata saya lebar-lebar bahwa Korea Selatan sudah sampai di titik yang dicapai Hollywood: tak saja bisa membuat film berbiaya besar yang menghibur namun juga melakukannya dengan super serius, dengan riset matang dan berbekal skenario yang dirakit sangat menarik.
Sekedar tahu saja, saya tak pernah betul-betul menyukai film tentang zombie. Saya tak tahu apa alasan jelasnya tapi mungkin sekali memang alasannya sesederhana karena saya belum bertemu dengan film sejenis yang unggul dari banyak segi. Kita tak usah berdebat soal efek khusus karena Colony berbiaya hingga 17 juta Won [sekitar 200 milyar rupiah] yang membuatnya bisa melakukan apa saja. Karenanya saya sungguh hormat pada sutradara Yeong Sang-ho yang meletakkan skenario sebagai pondasi di atas segalanya. Mungkin faktor inilah yang membuat saya menyukai Colony dan mencermati setiap detil cerita hingga karakter yang dibangun dalam semestanya yang nyaris sempurna.
Colony datang dengan premis menarik dan rasanya bisa terjadi pada umat manusia kapan saja. Sebuah teror yang datang dari kemajuan ilmu pengetahuan yang lantas disalahgunakan. Tolong garisbawahi soal ilmu pengetahuan ini karena Yeong Sang-ho menggunakannya dengan sungguh-sungguh dan dengan riset super serius.
Latar cerita Colony pun dibuat secermat mungkin. Semuanya berawal dari sebuah konferensi sains di mana ilmuwan Seo Yeong Chol membuat panggilan anonim ke pusat penanganan masalah [semacam 911 di Amerika] bahwa ia telah membuat virus yang akan mengubah manusia menjadi zombie seketika dan bahwa ia telah menyuntikkan antivirus ke dalam dirinya sendiri. Dengan cerdik sedari awal skenario meyakinkan kita bahwa Seo Yeong Chol menjadikan dirinya sebagai vaksin hidup.
Dan cerita terus meliuk-liuk cerdik mengitari sejumlah karakter terutama karakter utama seorang ilmuwan perempuan bernama Prof Se Jeong. Sekali lagi saya kagum dan hormat dengan keputusan menjadikan ilmuwan perempuan sebagai tokoh utama. Kita melihat Se Jeong sebagai ilmuwan yang kompleks, merasa dirinya tak banyak disukai dan bekerjasama dengan mantan suaminya sendiri. Seperti masih belum cukup cerita masih memilin-milin dirinya dengan memperlihatkan bagaimana Se Jeong kelak berinteraksi dengan istri dari mantan suaminya.
Tapi Colony tak membenamkan dirinya ke dalam drama. Ia tahu betul takdirnya sebagai thriller dan memenuhi segala ekspektasi itu bagi penonton. Karakter-karakter menarik yang kita temukan sepanjang film adalah bagian dari orkestrasi besar yang memang disiapkan untuk terus menerus membuat penonton tegang selama 122 menit penuh. Segala fakta ilmu pengetahuan yang menjadi basis bagaimana virus berevolusi dan membuat Colony unggul dari film sejenis ketika ia menyodorkan sebuah pemahaman bahwa manusia yang terinfeksi sangat mematikan karena bergerak dalam kelompok, berbagi informasi dan menyerang dengan cara yang sama sekali tak disangka-sangka. Dan dalam sebuah adegan puncak yang membuat penonton merinding ketika kita melihat bagaimana zombie ini mengikuti pola yang dilakukan semut dengan koloninya.
Sebenarnya secara teknis tak ada yang tak bisa kita capai dalam hal memproduksi film sejenis Colony sepanjang didukung oleh pendanaan yang memadai. Yang mengesankan dari Colony justru kerendahhatiannya untuk tak melihat efek khusus sebagai dewa, bagi Yeong Sang-ho bisa jadi skenario adalah dewanya. Ia membuat cerita yang tak sekedar familiar sehingga mudah kita identifikasi, ia juga merakit skenario dengan membuat karakter-karakter yang tak sekedar menarik namun punya tujuan-tujuan tersembunyi yang dipersiapkan untuk membuat cerita terus melaju dengan asyik.
Sampai di sini kita bisa memahami bahwa kita pun sesungguhnya bisa membuat film bergenre zombie thriller sekeren Colony. Tapi pertanyaan sejuta dollar-nya adalah bisakah kita kembali mendudukkan skenario sebagai dewa saat memproduksi film jenis apapun? Bisakah kita kembali pada prinsip dasar bahwa skenario adalah pondasi dari keinginan melahirkan film bagus? Dan maukah kita terbuka dengan penjelahan ide, keberanian memasuki ruang-ruang asing, kemauan melakukan riset panjang dan melelahkan berbasis ilmu pengetahuan yang semuanya kelak bermuara pada sesuatu yang bernama skenario?
Mungkin sesungguhnya kita sudah bisa. Tapi kita belum mau.
Produser: Yeon-ho Kim, Hailey Yoomin Yang
Sutradara: Yeon Sang-ho
Penulis Skenario: Kyu-Seok Choi, Yeon Sang-ho
Pemain: Jun Ji-hyun, Koo Kyo-hwan, Ji Chang-wook





LEAVE A REPLY