Tahun 2006. Hati saya tersentuh betul saat menyaksikan Once. Lagu-lagunya membius, ceritanya sederhana dan dengan mata telanjang kita bisa melihat ini adalah film yang dibuat dengan hati, bukan dengan uang segudang. Dan sejak itulah saya mulai memperhatikan John Carney.
Once menjadi karya yang membuat dunia melirik John. Siapa bisa menyangka film yang terlihat sangat murah itu bisa meluncur ke panggung Academy Awards dan membawa pulang piala Oscar untuk Lagu Asli Terbaik. Dan film-film John pun identik dengan lagu-lagu yang menyenangkan hati termasuk diantaranya Begin Again [2013], Sing Street [2016], Flora and Son [2023] hingga karyanya yang terbaru, Power Ballad.
Tapi dari semua karya John sejauh ini saya merasakan koneksi paling kuat dengan Power Ballad. Seperti karya John sebelumnya, Power Ballad juga mendasarkan dirinya pada kisah yang sederhana. Seorang pria setengah baya dari Amerika bernama Rick Power yang mengubur impiannya menjadi musisi professional demi menghidupi istri dan anaknya di Dublin, Irlandia. Sehari-hari ia mengais rezeki dengan menjadi vokalis dari band pernikahan yang cukup laris. Semuanya berjalan baik-baik saja dan normal hingga kelak Rick bertemu dengan musisi muda yang sedang mengalami transisi karir bernama Danny Wilson.
Danny kebetulan hadir di sebuah pesta pernikahan dan diminta oleh sang pengantin untuk menyumbangkan lagu. Maka ia bernyanyi dan lantas berduet dengan Rick di atas panggung. Kita bisa melihat reaksi kimiawi di antara keduanya. Dan setelahnya malam terasa panjang karena mereka habiskan untuk ngobrol hingga jamming. Hingga akhirnya dalam kondisi keduanya mabuk berat, Rick memainkan lagu iseng ciptaannya berjudul How to Write a Song Without You.
Berbulan-bulan kemudian Danny kembali ke kehidupannya semula sebagai musisi yang berjuang keluar dari bayang-bayang nama boyband yang membesarkannya. Hingga ia memainkan lantunan melodi dari lagu How to Write a Song Without You yang direkognisi oleh kekasihnya yang menganggap lagu tersebut sangat kuat dan potensial. Dan kita tahu bagaimana ceritanya berjalan. Lagu itu meledak luar biasa, melejitkan nama Danny dan melupakan kontribusi Rick. Menariknya adalah John justru ingin bercerita soal pengakuan dan penerimaan di film ini. Dan di titik ini lah saya merasa sangat terkoneksi dengan cerita ini.
Saya bukan musisi yang mengubur impian seperti Rick meski usia kami relatif tak beda jauh. Hingga hari ini saya berusaha mewujudkan satu persatu impian saya sebagai sutradara film. Berbeda dengan Rick yang mendahulukan keluarganya, selama bertahun-tahun saya justru menepikan keluarga terutama kedua anak perempuan saya demi karir. Hingga saya tiba di suatu titik di mana saya ingin semuanya berjalan beriringan. Bisa jadi terlambat tapi bisa jadi juga memang ini waktu paling tepat bagi semesta. Seperti Rick, saya mungkin sudah hampir sampai pada satu titik di mana saya tak memerlukan validasi dari siapapun. Bagi saya yang terpenting adalah kedua anak perempuan saya.
Maka boleh jadi cara Gen Z membaca film ini berbeda dengan cara saya dan generasi saya membaca film ini. John Carney juga beberapa tahun lebih tua dari saya sehingga saya bisa memahami betul apa yang ingin disampaikannya di film ini. Kita menciptakan sebuah lagu bukan sekedar sebagai sebuah aset, kita menciptakannya sebagai pengingat, sebagai memori, sebagai kenangan yang terus bisa rawat. Bagi Rick, lagu adalah caranya untuk mengingat momen-momen terpenting sekaligus terindah dalam hidupnya. Bagi saya, film adalah cara saya untuk membuat anak-anak saya bisa mengingat saya dengan cara yang berbeda-beda ketika saya sudah tiada.
Tapi karakter Rick yang sekilas masih tampak ambisius untuk lantas perlahan bisa menerima apa yang sudah menjadi takdirnya tak mungkin bisa berhasil tanpa faktor pemeranan yang mumpuni. Jujur saja sebagai sutradara, saya pun tak bisa memikirkan aktor yang paling tepat memainkannya selain Paul Rudd. Nama ini adalah aktor yang sudah sering kita remehkan dengan pilihan-pilihan karakter unik sekaligus aneh yang dimainkannya. Namun di Power Ballad, semua keunikan dan keanehan itu membuat Rick seperti salah satu dari kita, bukan sekedar karakter yang hidup di film atau skenario. Rick adalah karakter yang saking manusiawinya membuat kita tak sekedar menyayanginya namun juga peduli padanya. Diam-diam kita ingin Rick memenangkan “pertarungan” dengan Danny namun pada akhirnya apa arti “kemenangan” buatnya?
Saya pun merenungkan betapa sebagian besar dari kita masih menyia-nyiakan John Carney dan karya-karyanya. Di sebuah tulisan yang terbit di Sindo News, saya pernah lantang mendengungkan betapa saya ingin menjadi sepertinya, saya tak tertarik menjadi seperti Quentin Tarantino misalnya. Saya menyukai kesederhanaan ceritanya, karakter-karakternya yang membumi, lagu-lagunya yang selalu menghangatkan hati dan betapa John tak pernah terasa pretensius saat membuatnya. Karenanya karya-karyanya terasa jujur, manusiawi dan bisa menjadi tempat kita untuk melihat diri kita, tak saja di masa lalu namun mungkin juga di hari ini.
Meski malam sudah cukup larut setiba saya di rumah usai menyaksikan Power Ballad di bioskop, saya kembali menyusuri karya-karya John di platform streaming. Saya mulai dengan menonton Begin Again entah untuk keberapa puluh kali. Dan rasanya masih sama. Hangatnya masih sama. Kejujurannya masih sama.
Produser: Anthony Bregman, John Carney, Peter Cron, Rebecca O’Flanagan, Robert Walpole
Sutradara: John Carney
Penulis Skenario: John Carney
Pemain: Paul Rudd, Nick Jonas, Peter McDonald





LEAVE A REPLY