Home FILM Beban Hanung Bramantyo Menyutradarai Film Ulang Buat Kelas Oscar

Beban Hanung Bramantyo Menyutradarai Film Ulang Buat Kelas Oscar

Film Children of Heaven [2026]

58
0
SHARE
Beban Hanung Bramantyo Menyutradarai Film Ulang Buat Kelas Oscar

Tahun 1997. Film Children of Heaven dirilis dan kita terperangah melihat negara dunia ketiga, Iran, berhasil menembus seleksi ketat nomine Oscar. 

Di tangan sutradara Majid Majidi, Children of Heaven dipujikan karena ceritanya yang membumi, pendekatannya yang realistis dan tentu saja penghayatan akting kedua aktor [cilik] utamanya. 

Maka ketika mendengar MD Pictures berani-beraninya hendak membuat ulang film selevel Children of Heaven, saya mencoba berbaik sangka. Bisa saja Manoj Punjabi ingin kembali membuat film berkualitas dan tak lagi membuat film “sekedar” untuk tembus sejuta penonton. Toh ia sudah punya KKN di Desa Penari yang menjadi film Indonesia pertama dengan perolehan 10 juta penonton. Manoj tak perlu membuktikan apapun terkait dengan kelarisan produknya, maka bisa jadi ia menantang dirinya untuk bisa membuktikan bahwa ia bisa kembali memproduksi film bermutu.

Manoj pun menunjuk Hanung Bramantyo sebagai nakhoda proyek. Skenario pun digarap yang berusaha tetap setia kepada cerita aslinya. Hanung pernah berhasil membuat ulang film sukses Korea, Miracle in Cell No 7, yang menurut saya lebih bagus dari materi aslinya. Pertanyaan sejuta dollarnya adalah mampukah Hanung kembali membuktikan bahwa ia bisa membuat Children of Heaven minimal sebagus aslinya?

Beban berat ada di pundak Hanung. Terlebih skenario yang diberikan padanya nyaris tak memberi perkembangan apapun dari materi asli. Bahkan sejumlah sub-plot tak memberi sumbangsih besar pada plot utama, sekedar hadir untuk memanjang-manjangkan durasi saja. Tapi salah satu pendekatan menarik yang dilakukan Hanung untuk versi Indonesia ini adalah dengan membawanya ke era tahun 1988. Sayangnya memang tak banyak catatan sejarah tahun itu yang muncul di film ini. Ia sekedar latar di awal film dengan pidato Soeharto yang memberi harapan bagi penonton bahwa Children of Heaven versi Indonesia akan menjadi film yang paling tidak menyamai film aslinya. Tapi nyatanya …….

Tapi sebelumnya saya ceritakan kembali inti kisah Children of Heaven yang sebagian besar dari kita sudah hapal karena terlalu sering menontonnya di televisi. Film ini menyandarkan kisahnya pada Ali yang tak sengaja menghilangkan sepatu adiknya, Zahra, yang baru saja dijahit. Dari adegan menjahit sepatu ini kita tahu betapa miskinnya keluarga Ali. Ayahnya hanya kuli kasar di pasar. Ibunya yang masih menyusui adik bayinya tengah sakit-sakitan. Anak sekecil Ali dipaksa berhadapan dengan realita kehidupan. Dan betapa cemerlangnya Majid Majidi menyusun skenarionya karena sedari awal kita tahu bahwa keinginan Ali sepanjang film hanyalah membelikan adiknya sepatu pengganti. Dan jalan satu-satunya bagi Ali untuk bisa mendapatkan keinginannya adalah dengan menjadi juara tiga lomba maraton.

Sayangnya skenario malah terlalu sibuk dengan sub-plot dan malah tak menginformasikan soal lomba lari sejak awal. Sub-plot ayah Ali ditawari menjadi tukang kebun dari seorang kakek kaya jika dicabut dari film pun tak akan mengganggu keseluruhan film, malah justru akan memperlancarnya. Sub-plot rentenir yang menagih utang juga tak banyak memberi kontribusi pada cerita, malah cenderung terasa berpanjang-panjang dan membuat filmnya terasa lebih lama dari seharusnya. Padahal jika mengeksplor soal lomba lari dan rintangan demi rintangan yang mungkin dihadapi Ali sebelum akhirnya bisa ikut perlombaan tersebut justru bisa menjadi bagian paling menarik dari cerita ini.

Tapi Hanung memang sudah bukan level sutradara biasa. Ia bisa jadi paham dengan kelemahan skenario dan memberi porsi bagi energinya untuk mengarahkan dua aktor cilik yang akan menyalakan filmnya, Jared Ali dan Humaira Jahra. Di tangan keduanya kita lupa dengan kelemahan yang muncul di sana-sini pada skenario. Saya memberi catatan khusus pada Jared yang bermain sangat cemerlang sebagai Ali. Saya bisa diyakinkan dengan tampilan hingga gestur bahwa ia benar-benar terlahir di keluarga miskin. Jared bisa meyakinkan saya bahwa ia adalah Ali, anak seorang kuli kasar di pasar Kalisari, Semarang. Di usianya yang baru menginjak 11 tahun, Jared sudah menjelma sebagai aktor hebat yang mampu menubuhkan karakternya dengan luar biasa baik. 

Meski sudah puluhan kali menonton Children of Heaven versi Iran, saya toh masih bisa ikut menangis bersama Ali ketika ia ternyata tak menjadi juara tiga seperti harapannya. Saya bisa merasakan kekecewaannya karena tak bisa membahagiakan adiknya. Saya bisa merasakan airmata yang mengalir deras di pipinya karena ia tak bisa memenuhi janji pada adiknya. Dan itu semua berkat Jared yang membawa beban [hampir] seluruh film bersama Hanung di pundaknya. Saya pun membatin usai menonton film ini seandainya Jared tak masuk sekedar nomine Peran Utama Pria Terbaik di Festival Film Indonesia tahun ini bisa jadi ada sesuatu yang salah dengan festival yang masih jadi barometer bagi penggiat film tanah air. 

Begitupun jika ditanya apakah versi remake Children of Heaven bisa menyamai film pendahulunya, saya mungkin akan menjawab diplomatis. Hanung belum bisa mengulang keberhasilannya di film ulang buat Korea, Miracle in Cell No 7.


CHILDREN OF HEAVEN

Produser: Manoj Punjabi
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis Skenario: Majid Majidi, Hanan Novianti, Oka Aurora
Pemain: Jared Ali, Humaira Jahra, Andri Mashadi

Video Terkait: