Tahun 2013. Penurunan angka kelahiran di Thailand mulai terjadi secara signifikan. Di tahun itu jumlah kelahiran merosot hampir sepertiga dalam satu dekade terakhir.
Angka kelahiran di Thailand lantas terus menurun drastis, mencapai titik terendah dalam 74 tahun terakhir pada tahun 2022, di mana kelahiran berada di angka 485.085 jiwa.
Sutradara Nawapol Thamrongrattanarit bisa jadi gelisah dengan situasi tersebut. Dan ia memahami film sebagai platform yang dikuasainya sebagai medium paling tepat untuk menyampaikan kegelisahannya. Tapi Nawapol tak ingin bercerita sesederhana itu. Imajinasinya melambung jauh, menciptakan sebuah semesta tentang dunia kerja di mana staf human resource department [HRD] menjadi karakter utamanya. Ia memilih menggunakan dunia kerja yang toksik paralel dengan ketakutan melahirkan anak di sebuah dunia yang kejam.
Tokoh utama di cerita ini bernama Fren. Film dibuka dengan tampilan foto USG hingga 2 menit tak bergerak dan bersuara yang hampir membuat kita menyangka ada kesalahan teknis pada film ini. Tapi Nawapol melakukannya dengan sengaja seakan ingin memperlihatkan dunia yang bisa saja berhenti bagi Fren ketika ia dinyatakan hamil. Padahal sebagaimana banyak generasi muda lainnya, Fren bisa saja berpikir untuk tak mempunyai anak [childfree]. Dan tentu saja ini sebuah pilihan di tengah situasi dunia yang serba tak pasti, dengan peperangan yang bisa muncul kapan saja dan dengan kondisi ekonomi yang terus menggelisahkan. Karenanya Fren memilih menyembunyikan kehamilannya bahkan dari suaminya sekalipun.
Dalam banyak adegan yang diambil secara long take, kita bisa memahami kebimbangan Fren. Kita melihat kekalutannya tentang apa yang mungkin terjadi, kita melihat kegusarannya mengenai bagaimana anaknya kelak akan berhadapan dengan dunia.
Kondisi Fren diperparah karena ia bekerja dalam lingkungan yang tak saja toksik namun juga sangat menuntut. Sabtu harus masuk, gaji lebih rendah dari standar, dan dengan bos yang bisa membuat mental karyawan menciut seketika.
Menariknya Human Resource berbicara lebih dari sekedar lingkungan pekerjaan. Soal SDM ini juga diperlihatkan ketika Fren dan suaminya menyetir di jalan raya. Mirip dengan kondisi di Indonesia di mana pengemudi motor tak mempedulikan rambu dan menerobos jalan satu arah. Lebih menarik lagi karena meski berada di pihak yang salah, si pengemudi motor tak mau kalah dan nekat memukul kaca mobil mereka. Ternyata Fren tak hanya berhadapan dengan kualitas sumber daya manusia yang rendah di lingkungan kerja namun juga di kehidupan nyata.
Human Resource adalah sebuah komentar sosial yang jernih dan relevan dari Nawapol. Meski beralur lambat dan tanpa iringan music score namun kita masih bisa melihat bagaimana idenya yang menarik itu bekerja dengan maksimal. Kita dipaksa melihat apa yang selama ini kita anggap normal dalam kehidupan sehari-hari namun bisa jadi sudah saatnya untuk ditanggapi serius. Dan Fren yang dianggap ibunya sebagai “people pleaser” juga harus berubah lebih tegas.
Melihat dunia dengan sebagian manusia yang tak paham aturan dan tak tahu diri, masihkah kita ingin melahirkan anak ke dunia itu yang bisa jadi kelak akan memerangkapnya?

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY