Tahun 2017. Pertama kalinya saya menikmati bagaimana dua dewa dalam perfilman Indonesia berkolaborasi dalam sebuah proyek film. Penata kamera Yudi Datau dan penyunting gambar Cesa David Lukmansyah berkolaborasi dalam film Ayat-Ayat Cinta 2.
Sayangnya saya tak begitu menikmati hasil kerja keduanya karena merasa skenario tak memberi ruang lebih lebar bagi keduanya untuk berkreasi maksimal. Hal serupa juga terjadi ketika menyaksikan Twivortiare [2019] yang juga terasa hambar karena skenario yang tak bekerja maksimal.
Perasaan berbeda saya dapatkan ketika menyimak Semua Akan Baik-Baik Saja yang sedang tayang di bioskop. Dari adegan pembuka yang diambil selama beberapa menit tanpa putus memperlihatkan kecanggihan Yudi Datau sebagai salah satu sinematografer jempolan tanah air. Pun ketika menyaksikan bagaimana dinamisnya gambar demi gambar dijahit oleh Cesa yang membuat cerita terasa mengalir dengan baik.
Jika di dua filmnya sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta 2 dan Twivortiare terasa hambar, maka di Semua Akan Baik-Baik Saja justru terasa terlalu penuh. Terlalu banyak karakter yang muncul dan sebenarnya jika pun dihilangkan tak akan berpengaruh pada cerita. Terlalu banyak plot tumpang tindih yang membuat kita merasa sesak selama 113 menit durasinya. Skenario yang diolah keroyokan oleh Oka Aurora, Eurico K Pratama dan Baim Wong terasa terlalu ambisius sehingga meminggirkan beberapa fokus cerita yang seharusnya perlu diberi ruang lebih luas.
Padahal Semua Akan Baik-Baik Saja punya premis menarik. Fokus cerita pada Langit yang luntang-lantung gak karuan dan tinggal melajang di sebuah rumah susun dengan segala keriuhannya. Suatu hari kakak perempuannya berkunjung dan memberi tahu kita bahwa bakal terjadi sesuatu yang memporakporandakan hidupnya. Dan benar saja, kakak perempuannya itu, Mentari, meninggal mendadak karena serangan jantung. Dan meninggalkan 3 orang anak, salah satunya si bungsu dengan down syndrome.
Dari sini skenario mulai kebingungan membagi fokus. Mau fokus pada kehidupan Langit atau kehidupan ketiga keponakannya, belum lagi dengan ibunya dan saudara/saudari Langit yang lain, Bintang dan Banyu. Tak sengaja saya mengingat bagaimana Teguh Karya dengan mahakarya klasiknya, Ibunda, yang tahu diri tak menghamburkan banyak karakter dan banyak masalah dalam satu linimasa. Ibunda hanya fokus pada dua masalah: bagaimana ibunya menghadapi masalah dari dua anaknya, Fitri dan Fikar. Dan jelas Baim Wong selaku sutradara Semua Akan Baik-Baik Saja bukan Teguh Karya yang punya kapasitas besar menghadapi drama keluarga yang rumit sekaligus memberi ruang bagi karakter-karakternya untuk bertumbuh di depan kita dan melihat bagaimana mereka memecahkan masalahnya. Dan terutama bagaimana sang ibu bisa menghadapi semuanya dengan kebijaksanaan yang memang diharapkan dari seorang ibu pada umumnya.
Saya betul-betul bisa menikmati Semua Akan Baik-Baik Saja dan mengacuhkan skenarionya hanya karena bisa menikmati kinerja cemerlang Yudi Datau dan menyaksikannya bagaimana mentransformasi tulisan menjadi bahasa visual yang menarik. Ketika tensi drama meningkat, kita melihat gambar terus bergerak dan ketika tensi drama cenderung minim, gambar pun bergerak pelan bahkan statis. Sinematografer jempolan memang tak sekedar merekam gambar namun memberi nyawa pada gambar dan menyalakan performa para aktor yang menghidupkan karakter dalam bingkai.
Saya juga betul-betul bisa menikmati Semua Akan Baik-Baik Saja dan mengacuhkan skenarionya hanya karena bisa menikmati penyuntingan brilian dari Cesa David yang terasa dinamis membuat kita bisa masuk ke dalam ruang-ruang keluarga dengan tanpa hambatan. Sebagai penyunting gambar jempolan, Cesa tahu kapan harus memberi fokus pada karakter, kapan harus memberi fokus pada atmosfer dan kapan harus memberi panggung pada interaksi sesama karakter. Gambar demi gambar digunting lalu dirajut kembali oleh Cesa dengan penuh cinta dan kita bisa merasakan cinta itu dalam keluarga Langit. Menjadi penyunting gambar tak sekedar memotong gambar namun seringkali membuat struktur cerita yang baru yang memberi nyawa baru pada film.
Saya membayangkan bagaimana sekiranya dua dewa perfilman Indonesia ini kelak bertemu dengan skenario jempolan yang memberi mereka kebebasan kreatif yang lebih lebar. Di Semua Akan Baik-baik Saja yang dibatasi oleh skenario yang kurang bekerja maksimal pun keduanya bisa bekerja optimal. Maka saya menunggu kelak keduanya bisa bekerjasama kembali dan kita sebagai yang lebih yunior bisa belajar dari bagaimana keduanya menggunakan craftmanship mereka menghasilkan karya film yang bisa menjadi mahakarya.
SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA
Produser : Muhamad Ibrahim
Sutradara : Baim Wong
Penulis Skenario : Oka Aurora, Eurico K Pratama, Baim Wong
Pemain : Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY