Home FILM Damien McCarthy dan Ciri Khas Teror Psikologisnya

Damien McCarthy dan Ciri Khas Teror Psikologisnya

Film Hokum [2026]

31
0
SHARE
Damien McCarthy dan Ciri Khas Teror Psikologisnya

Tahun 2020. Dunia dikejutkan dengan kemunculan sineas asal Irlandia, Damien McCarthy. Damien datang dengan filmnya, Caveat. Sebuah film menegangkan yang berfokus pada seorang pria yang setuju untuk mengawasi seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa di sebuah rumah terpencil di pulau terisolasi. Dengan syarat, ia harus mengenakan sabuk kekang dengan rantai panjang. Film ini dipuji karena klaustrofobia, ketegangan yang konsisten, dan visual yang sangat menakutkan.

Damien menjadi menonjol karena kegemarannya bermain-main dengan unsur psikologis dalam sejumlah karyanya. Dan ia tak sekedar membuatnya sebagai tempelan namun menempatkannya sebagai kendaraan utama bagi karakter-karakternya memasuki dunia kelam nan menakutkan. Damien juga menjadikan unsur psikologis itu untuk menakut-nakuti kita dengan mengundang masa lalu, trauma hingga luka-luka yang menjadi terasa lebih menakutkan karena terasa dekat dengan kita.

Ciri khas Damien dengan teror psikologisnya itu kembali diperlihatkannya di film terbarunya berjudul Hokum. Diambil dari bahasa slang Amerika, hokum bermakna omong kosong, bualan, atau hal yang tidak masuk akal (omong kosong). Kata ini juga sering dipakai untuk menyebut banyolan atau humor murahan. Damien memanfaatkan betul makna ganda dari judul filmnya tersebut untuk menyesatkan penonton di awal film untuk kemudian memborbardirnya dengan adegan-adegan yang justru menjadi antithesis dari makna tersebut.

Dalam Hokum kita berkenalan dengan penulis populer asal Amerika bernama Ohm Bauman. Ia tak ramah, bertingkah kasar dan sama sekali tak peduli siapapun. Dalam kebuntuannya mengolah bab terakhir dari trilogy novelnya yang terkenal, Conquistador, Ohm memutuskan untuk berkunjung ke sebuah pedesaan di Irlandia. Ia menginap di The Billberry Woods Hotel yang merupakan tempat di mana ayah dan ibunya dulu menghabiskan bulan madu. Ohm punya misi lain untuk menebarkan abu ayah dan ibunya di sebuah tempat di mana Ohn yakini sebagai tempat mengesankan bagi kedua orangtuanya. Tapi ada sesuatu nan kelam yang tersimpan jauh di masa lalu Ohm. Sesuatu yang traumatik dan kelak merobek-robek apa yang diyakininya selama ini. Namun sesuatu itu pula yang kelak mengubahnya menjadi seseorang yang lebih ramah dan simpatik.

Hokum berjalan dengan premis biasa yang sudah banyak sekali kita lihat di ribuan judul film horor lainnya. Yang bisa jadi menarik bagi kita adalah ciri khas Damien yang terlihat sangat jelas di film ini. Ia membawa karakter utama yang problematik, tak sekedar tak ramah namun juga punya masalah dengan alkohol. Ia membawa karakter utama untuk kita, para penonton, eksaminasi bersama. Ia membawa karakter utama yang susah bagi kita untuk bersimpati dan perlahan membuat kita tahu bahwa ada sesuatu yang terlalu besar baginya untuk ditaklukkannya. Sesuatu itu adalah masa lalu kelam dan rasanya lebih menakutkan dari sekedar puluhan makhluk gaib yang muncul di film ini.

Masa lalu adalah pintu masuk bagi Damien untuk membuka lembar-lembar rahasia yang tersembunyi di hotel itu. Masa lalu juga menjadi pintu masuk bagi Damien untuk menghempaskan kita mengarungi masa kecil Ohm yang ditekannya serapat mungkin. Dan perlahan kita bisa memahami mengapa Ohm bisa begitu tak ramah, bisa begitu kejam dan tak simpatik. Masa lalu dan luka yang masih menganga itu yang membuatnya menjadi manusia seperti hari ini.

Sayangnya memang teror psikologis ini tak dibungkus oleh skenario cemerlang. Begitu banyak karakter menarik bermunculan di film ini namun tak diolah latar belakangnya secara meyakinkan oleh Damien. Hasilnya kita cenderung tak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka. Kita seakan sengaja difokuskan untuk peduli pada Ohm seorang. Padahal Ohm melakukan segala tindakan yang bertentangan dengan prinsipnya justru karena ia perlahan peduli. Skenario juga cenderung menjadi kabur karena Damien mencoba mengolah terlalu banyak sub-plot dalam waktu yang sempit dan ternyata ia belum punya cukup keterampilan untuk bisa melakukannya dengan baik. Hasilnya sub-plot itu hadir tak utuh dan membuatnya mudah untuk terlupakan begitu saja oleh penonton.

Tapi Damien masih cemerlang menyajikan teror psikologis yang menyiksa. Ia sangat sabar merajut adegan demi adegan, memilin cerita demi cerita untuk kemudian diledakkannya di akhir film. Ia cerdik menggunakan berbagai elemen untuk memperlihatkan betapa tersiksanya Ohm dengan masa lalunya dan kita bisa memahaminya dengan baik. Dan bisa jadi kelebihan Damien yang sudah jarang sekali bisa kita saksikan di film horor adalah keunikannya menyajikan adegan-adegan jumpscare yang terasa orisinal dan efektif mengagetkan penonton. Atmosfer musik hingga suara dioptimalkannya dengan baik sehingga mendukung teror psikologis yang memang diniatkannya sejak awal. Tak sekedar mengagetkan karena volume suaranya namun juga karena desain suara dirancang sedemikian rupa agar berpadu menarik dengan gambar-gambar yang dirakitnya. 

Dengan serbuan film horor yang bejibun selama beberapa tahun terakhir, ciri khas Damien bisa jadi akan membuatnya bertahan dan dikenang di genre ini. Selama ia terus melakukan eksplorasi dan memperbaiki keterampilannya menulis skenario maka Damien potensial menjadi sutradara film horor garda depan dalam beberapa tahun mendatang.


HOKUM

Produser: Derek Dauchy, Mairtin de Barra, Julianne Forde, Roy Lee, Steven Schneider, Ruth Treacy
Sutradara: Damien McCarthy
Penulis Skenario: Damien McCarthy
Pemain: Adam Scott, David Wilmot, Michael Patric

Video Terkait: