Home FILM Disclosure, Ladies First dan Dinamika Jender Tradisional

Disclosure, Ladies First dan Dinamika Jender Tradisional

Film Ladies First [2026] - Tayang di Netflix

4
0
SHARE
Disclosure, Ladies First dan Dinamika Jender Tradisional

Tahun 1994. Sutradara Barry Levinson mengadaptasi novel Michael Chrichton yang kontroversial dan laris manis menjadi film bioskop berjudul Disclosure. Film yang dibintangi Michael Douglas dan Demi Moore ini menyoroti isi pelecehan seksual di dunia kerja dengan membalikkan dinamika jender tradisional.

Disclosure berkisah tentang Tom Sanders, seorang eksekutif perusahaan teknologi, dituduh melakukan pelecehan seksual oleh mantan kekasihnya sekaligus bosnya yang baru, Meredith Johnson. Padahal faktanya bertolak belakang. Justru Tom adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh bosnya sendiri. 

Bayangkan 32 tahun lalu eksplorasi soal pembalikan jender tradisional sudah terjadi dalam cerita-cerita di film Hollywood. Karenanya di masa di mana CEO perempuan menjadi sesuatu yang lumrah hari ini, Ladies First pun terasa ketinggalan jaman dan hanya mengulang-ulang sesuatu yang sudah sering diobrolkan dan tak menginjeksikan sesuatu yang baru di dalam ceritanya.

Ladies First yang tayang di Netflix adalah sebuah komedi ulang buat dari film Prancis rilisan tahun 2018 berjudul I Am Not an Easy Man. Ceritanya berkisar pada sosok seorang CEO bernama Damien Sachs. Damien digambarkan stereotipe sebagai seorang laki-laki penggila kerja, penggila pesta, penggila perempuan dan juga sering menganggap rendah perempuan, bahkan oleh asistennya sendiri yang rajin mencatat kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Damien seperti [masih] berada di ruang dan waktu yang salah di mana kesadaran emansipasi perempuan semakin terasa darurat dan pelecehan seksual tak dianggap sebagai sesuatu yang normal lagi. Hingga sebuah kecelakaan tak disangka menimpa Damien dan selamanya mengubah perspektifnya tentang perempuan.

Damien menabrak tiang besi dan menyebabkannya tersungkur. Ketika terbangun Damien sudah berada di dunia yang jauh berbeda. Kini perempuan memegang kendali. Glenda yang di dunia sebelumnya “hanya” seorang petugas kebersihan kini menjelma sebagai bos besar dari perusahaan tempatnya bekerja. Felicity yang di dunia sebelumnya “hanya” seorang resepsionis kini menjadi CEO menggantikan dirinya. Dan Alex Fox, rekan kerja perempuan, yang di dunia sebelumnya seringkali tak dianggap oleh Damien, kini menjadi pesaing terdekatnya memperebutkan posisi CEO yang ditinggalkan Felicity. 

Memang sangat menggelitik melihat di dunia yang baru itu laki-laki berada di dapur, laki-laki sekedar menjadi penggembira di dunia kerja dan laki-laki menjelma sebagai obyek kepuasan seksual oleh para perempuan yang berkuasa. Namun di dunia yang kita pijaki hari ini, pembalikan peran tersebut sesungguhnya semakin sering terjadi dan dianggap normal. Banyak laki-laki modern memilih menjadi “stay home dad” alias bapak rumah tangga, sejumlah laki-laki membiarkan dirinya menjadi obyek kepuasan seksual oleh perempuan demi bayaran dengan jumlah tertentu. Sayangnya trio penulis skenario Ladies First, Natalie Krinsky, Cinco Paul dan Katie Silberman, tak menyadari segala fakta yang terjadi di depan mata kita itu hari ini. Dibanding menyodorkan perspektif segar yang belum banyak diobrolkan dalam film bertema sejenis, penulis skenario malah fokus mengulang-ulang hal-hal yang sudah banyak termuat di film-film sebelumnya.

Premis menarik yang tak diimbangi keterampilan penulisan skenario cemerlang memang bisa jadi malapetaka. Apalagi sutradara Thea Sharrock juga tak terlihat berusaha menyelamatkan penulisan skenario yang malas ini dengan penyutradaraan yang menarik. Beruntungnya Thea punya barisan pemain kaliber yang masih bermain cemerlang. Meski masih membawa energi Borat-nya, Sacha Baron Cohen bisa tetap tampil charming sekaligus brengsek sebagai Damien. Rosamund Pike juga masih membawa energi Gone Girl-nya dan bisa tampil garang sekaligus rapuh. Di depan kamera, reaksi kimiawi keduanya terasa padu dan menyelamatkan banyak kekurangan dari film ini sehingga masih bisa kita nikmati hingga film selesai.

Konstruksi jender adalah sebuah pembahasan nan seksi hari ini. Kita bisa melihat bagaimana jender banyak berperan dalam segala sendi kehidupan kita. Kita juga melihat bagaimana posisi jender secara perlahan berubah menjadi lebih cair belakangan ini. Banyak hal terjadi depan mata kita secara alamiah dan kita perlahan mengakuinya sebagai sesuatu yang normal. 

Maka film pun perlu berpijak pada apa yang terjadi hari-hari ini. Karena film pun seringkali menjadi pijakan tertentu bagaimana kita melihat tak saja masa lalu namun terutama apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin agar kita bisa lebih memahami secara jernih sebelum membuat keputusan. Mungkin agar kita bisa lebih peka mencermati sebelum melakukan hal-hal yang mendobrak jaman. Bisa juga film menjadi pengingat bahwa apa yang terjadi hari ini sesungguhnya sudah ada penandanya sekian puluh tahun lalu. Seperti halnya novel/film Disclosure yang sudah ada 32 tahun lalu dan membuat kita bisa lebih memahami apa yang terjadi di film Ladies First hari ini. 


LADIES FIRST

Produser: Liza Chasin, Eleonore Dailly, Edouard de Lachomette
Sutradara: Thea Sharrock
Penulis Skenario: Natalie Krinsky, Cinco Paul, Katie Silberman
Pemain: Sacha Baron Cohen, Rosamund Pike, Fiona Shaw

Video Terkait: