Home FILM Hachiko, Gohan dan Kisah Anjing Paling Setia

Hachiko, Gohan dan Kisah Anjing Paling Setia

Film Gohan [2026]

29
0
SHARE
Hachiko, Gohan dan Kisah Anjing Paling Setia

Tahun 1935. Anjing dengan ras Akita Inu yang menjelma sebagai anjing paling setia itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Dunia pun berduka dan mengenang kisah kesetiaan Hachiko, nama anjing itu, kepada tuannya selama puluhan tahun.

Pada tahun 1920-an, seorang profesor dari Universitas Tokyo bernama Hidesaburo Ueno, mengadopsi Hachiko. Sang profesor punya kegiatan rutin mengajar tiap hari dan membuat Hachiko selalu mengikutinya hingga stasiun Shibuya. Hachiko juga selalu sudah ada di stasiun tersebut ketika sang profesor hendak kembali ke rumah.

Kegiatan rutin itu berlangsung bertahun-tahun dan membuat Hachiko terbiasa. Hingga ketika sang profesor meninggal secara mendadak. Hachiko tentu saja tak mengetahui bahwa tuannya tak akan lagi muncul di stasiun Shibuya. Begitupun Hachiko menungguinya selama bertahun-tahun setelah sang profesor meninggal dunia.

Dan setelah Hachiko muncul Gohan. Anjing ini juga diberi nama ala Jepang namun sesungguhnya ia berasal dari Thailand. Bedanya lagi Hachiko adalah anjing dari kisah nyata sementara Gohan adalah anjing dari kisah fiksi dalam film berjudul sama. Yang menarik adalah Gohan mencoba melakukan eksplorasi melampaui kisah nyata Hachiko. Ditulis oleh tiga penulis skenario sekaligus, Gohan memperlihatkan linimasa film hingga 10 tahun yang melingkari kisah dari empat orang kesepian yang ditemani oleh seekor anjing liar yang menggemaskan.

Semuanya berawal dari seorang pegawai yang dipaksa pensiun bernama Hiro. Seseorang berkebangsaan Jepang dengan etos kerjanya yang luar biasa yang merasa masih bisa bekerja membaktikan diri bagi perusahaan di usianya yang sudah sepuh. Dalam masa-masa paling rentan baginya ia bertemu dengan seekor anjing putih menggemaskan di luar sebuah minimarket. Gohan tak sengaja terbawa oleh Hiro yang masuk ke dalam dus berisi berbotol-botol bir miliknya. Padahal di apartemennya dilarang untuk memelihara anjing. 

Tapi Hiro terlanjur jatuh cinta dengan Gohan. Konon ketika seseorang menamai seekor binatang maka serta merta ikatan batin itu terbentuk. Hiro menamai anjing itu Gohan karena warnanya putih mirip nasi [dalam bahasa Jepang, Gohan berarti nasi]. Hiro pun memutuskan pensiun dan malah menghabiskan masa pensiunnya berbahagia bersama Gohan hingga pandemi menerjang seluruh dunia.

Kita lantas melihat Gohan mengalami episode paling tragis dalam hidupnya ketika ia terjerat oleh seornag oknum yang mengaku penyayang anjing namun sesungguhnya mengeksploitasi anjing-anjing liar untuk mendapatkan donasi dari masyarakat. Episode ini adalah sentilan dari apa yang banyak terjadi akhir-akhir ini, tak hanya di Thailand namun juga di Indonesia. Dari binatang hingga bayi manusia hanya dilihat sebagai properti dan dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Dan kita geram karena di tengah-tengahnya juga ada Gohan yang terperangkap setelah kembali hidup luntang-lantung.

Film Gohan sepertinya memang didesain untuk menghanyutkan perasaan-perasaan kesepian dari manusia, dalam hal ini penonton. Dan kita hanyut melihat betapa anjing ini tak hanya hadir sebagai teman, namun juga hadir sebagai obat yang menyembuhkan jiwa-jiwa yang sepi. Manusia-manusia yang selama ini mungkin tak menjadi pemeran utama dalam banyak cerita namun bagi Gohan, mereka adalah pemeran utama di kisah hidupnya.

Kesetiaan dan ketulusan seekor anjing berhasil dipotret oleh trio sutradara Chayanop Boonprakob, Atta Hemwadee dan Baz Poonpiriya. Sesuai judulnya, kita melihat bagaimana Gohan tak sekedar hadir dalam kehidupan manusia-manusia yang menyayanginya, namun ia juga menemani mereka tak hanya dalam saat-saat terbaik namun juga masa-masa terburuk. Gohan membuat kita percaya bahwa manusia selalu punya sisi-sisi yang disembunyikannya dan bisa terlihat lebih jelas di mata seekor binatang yang hadir tanpa menghakimi dan menemani tanpa berharap balas kasih.

Dan kita ikut hancur melihat bagaimana Gohan terus bertumbuh setelah melewati banyak episode dalam hidupnya. Tak sekedar bertumbuh, Gohan perlama menua. Di depan mata kita melihat kegesitannya berkurang, kita melihat ruang geraknya semakin terbatas namun kita masih bisa melihat nyala kasih di matanya yang seakan tak pernah padam. 

Dari Hachiko hingga Gohan kita belajar sebuah kesetiaan.
Dari Hachiko hingga Gohan kita belajar sebuah ketulusan.
Dari Hachi hingga Gohan kita belajar lebih jauh mengenai arti cinta.
Sebuah konsep yang dipahami manusia secara terbatas namun dipahami binatang seakan tak berbatas.

Dari Hachiko hingga Gohan kita lagi-lagi belajar banyak.


GOHAN

Produser: Vanridee Pongsittisak, Baz Poonpiriya
Sutradara: Chayanop Boonprakob, Atta Hemwadee, Baz Poonpiriya
Penulis Skenario: Chayanop Boonprakob, Sopana Chaowwiwatkul, Atta Hemwadee, Baz Poonpiriya, Thodsapon Thiptinnakorn
Pemain: Kitachima Yasushi, Poe Mamhe Thar, Tu Tontawan Tantivejakul

Video Terkait: