Tahun 2020. Sebuah desa di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, membuat geger. Dari desa itu diberitakan sepasang suami istri memelihara buaya yang dianggapnya sebagai kembaran anaknya. Buaya tersebut diperlakukan secara istimewa layaknya anak kandung mereka sendiri.
Sewaktu menghabiskan masa kecil di Polewali dari tahun 1980-1990, cerita-cerita sejenis terlalu sering saya dengar. Maka kelak ketika cerita yang sama kembali meledak puluhan tahun silam, saya berpikir mungkin alam ingin mengingatkan sesuatu.
Ada sebuah kepercayaan dalam masyarakat Bugis bahwa semua manusia memiliki saudara dalam perwujudan buaya. Mereka akan hadir dalam perantaraan mimpi hingga mengunjungi langsung manusia di darat.
Seorang peneliti dari Tokyo Metropolitan University bernama Makoto Ito menemukan beberapa bukti yang mengonfirmasi mitos tersebut sudah ada secara turun temurun. Peneliti lainnya, Stephen C Druce, juga menuliskannya dalam buku West of the Lakes: A History of the Ajattapareng Kingdoms of South Sulawesi 1200-1600 (KITLV Press, 2009). “Puang ri Sompé punya seorang anak bernama Tomaruli. Tomaruli memiliki sebelas anak. Salah satunya bernama ratu ri Parung, yang masuk ke dalam air dan menjadi buaya. (...) Paleteang memiliki seorang anak bernama La Cellaq Mata. La Cellaq Mata menikahi Wé Lampé Weluaq. Mereka punya empat anak: salah satunya masuk ke dalam air dan menjadi buaya."
Karena memiliki kedekatan dengan mitos tersebut bisa jadi membuat saya menyaksikan film Crocodile Tears dengan perspektif yang sedikit berbeda. Saya tak sekedar melihat cinta yang protektif dari seorang Ibu kepada anaknya namun juga melihat bagaimana mitos itu berusaha bertahan dalam dunia modern, sebuah dunia yang mencoba menjunjung tinggi logika. Maka melihat bagaimana sutradara Tumpal Tampubolon mencampuradukkan mitos itu dengan kondisi hari ini sekaligus menjadikan kebiasaan Ibu biaya yang super protektif kepada anaknya sebagai metafora adalah sesuatu yang bisa jadi tak akan bisa kita lihat lagi dalam perfilman Indonesia 10 tahun mendatang.
Dari luar Crocodile Tears tampak bercerita hal-hal biasa. Ibu dan anak hidup terisolir, hanya ditemani puluhan buaya, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Mama menjalaninya dengan hati riang meski sesekali ia meraung-raung di malam gelap. Yang Mama tak bisa antisipasi adalah putranya semata wayang, Johan [dengan penampilan cemerlang dari Yusuf Mahardika], bersentuhan dengan dunia luar. Ia bersentuhan dengan perempuan lain setelah puluhan tahun hingga dewasa tidur dalam pelukan ibunya. Bahkan ketika tidur pun, Mama melakukan yang biasa dilakukan Ibu buaya. Menaruh anaknya dalam rahangnya. Sementara Mama mendekap erat Johan seakan ia ingin terus melindungi Johan selamanya.
Dan akhirnya Johan memang bersentuhan dengan perempuan lain. Bahkan tidur dengannya. Kita melihat laki-laki naif mencintai perempuan dengan begitu murni. Bahkan ketika ia kelak tahu anak yang dikandung Arumi, perempuan itu, bukanlah anaknya. Tapi ini bukan sekedar cinta biasa. Sudah lama Johan sesak napas dalam cinta protektif ibunya. Dan hanya Arumi yang bisa membebaskannya.
Sebagai sutradara yang juga menulis sendiri skenarionya, kita bisa melihat bagaimana Tumpal menghabiskan banyak waktu agar metafora yang hadir dalam filmnya kelak tak terasa sekedar sebagai sensasi, agar cerita yang dihadirkannya bisa dimaknai lebih dalam. Kita melihat cinta dalam banyak lapisannya yang semakin membuat kita memahami kompleksitas manusia. Kita melihat relasi kuasa hadir dalam ruang paling intim yang pelan-pelan menyesakkan dada. Dan kita melihat bagaimana manusia-manusia dalam film itu tetap manusiawi, tak berubah menjadi hewani, dengan segala khawatir, luka dan trauma yang mereka simpan dalam ruang gelap selama bertahun-tahun.
Johan adalah manusia yang berada di persimpangan. Ia manusia yang hidup di dunia modern. Namun ia harus menoleransi kepercayaan ibunya soal mitos ayahnya adalah seekor buaya putih. Mungkin kita adalah Johan yang juga masih berusaha mencari tahu, masih berusaha mengerti, masih berupaya menyadari dirinya adalah identitas merdeka yang suatu saat memerlukan kebebasannya.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY