Home FILM Sayang Sekali Livi Ciananta Dengan Aksi Keren Harus Terjebak Dalam Cerita Bak Film Tahun 80-an

Sayang Sekali Livi Ciananta Dengan Aksi Keren Harus Terjebak Dalam Cerita Bak Film Tahun 80-an

Film Ikatan Darah [2026]

106
0
SHARE
Sayang Sekali Livi Ciananta Dengan Aksi Keren Harus Terjebak Dalam Cerita Bak Film Tahun 80-an

Tahun 2024. Pertama kalinya saya “berkenalan” dengan Livi Ciananta di film aksi Bonnie. Tak saja kagum dengan aktingnya yang cukup baik sebagai pendatang baru namun terutama Livi menonjol berkat keterampilannya beradegan aksi.

Maka ketika tahu Livi kembali jadi pemeran utama di film aksi, saya ingin melihat sejauh mana pencapaiannya setelah 2 tahun. Kali ini Livi beraksi di film Ikatan Darah garapan Sidharta Tata. Dalam film yang skalanya lebih besar dari Bonnie tentu saja saya ingin tahu apakah film aksi ini bisa menyenangkan hati kita sebagai penonton.

Jujur saja saya menyukai film aksi dengan karakter utama seorang perempuan. Buat saya karakternya bisa menggabungkan kekuatan sekaligus kelembutan yang tidak bisa dilakukan oleh karakter laki-laki. Saya sangat menyukai film Kill Bill Vol 1 dan 2 yang menampilkan Uma Thurman sebagai petarung hebat yang menghabisi musuh-musuhnya dengan kejam. Di Ikatan Darah, Livi melakukan hal serupa, sayangnya film ini tak didukung cerita dan skenario jempolan.

Cerita Ikatan Darah terasa betul seperti cerita film tahun 80-an. Ada penjudi, ada mafia dan ada korban yang berada di tengah-tengahnya. Dan di cerita ini anehnya Mega, karakter yang diperankan Livi, bukan korban. Yang jadi korban justru Bilal, karakter kakak kandungnya yang sama sekali tak berguna di cerita ini.

Ceritanya seperti ini. Mega adalah mantan atlet nasional yang cedera dan memutuskan masuk ke dunia hitam setelah kakaknya terlilit urang karena judi online sebesar 300 juta rupiah. Bilal yang tolol itu juga menggadaikan sertifikat rumah satu-satunya harta mereka.

Suatu hari Bilal datang ke Henri, tempatnya berutang, dan ia minta waktu tambahan. Karena ucapan dari Henri yang menyinggung Mega membuat Bilal gelap mata. Ia tak saja membunuh Henri namun sekaligus mencuri uang dalam jumlah besar. Tentu saja Bilal diburu antek-antek Henri dan membuat Mega terjepit di tengah-tengah.

Padahal ada sub-plot lain yang menurut saya lebih menarik dikembangkan ketimbang hubungan kakak-adik. Ada sub-plot persahabatan Mega dan Dini yang selalu jadi musuh bebuyutannya ketika bertanding dan akhirnya berada di pihak berseberangan ketika ketololan Bilal mengacaukan semuanya. Dibanding melihat Bilal yang tak bisa bertarung tentu saja jauh lebih menarik melihat pertarungan jarak dekat antara Mega dan Dini.

Seperti masih belum cukup dengan cerita yang seperti film tahun 80-an, Ikatan Darah masih mengisinya dengan karakter-karakter penjahat yang terasa sangat karikatural. Bukannya menyenangkan untuk dilihat, justru menyebalkan melihat karakter dikembangkan seperti itu. Dan capek sekali mendengar dialog-dialog tak bermutu yang sudah sangat jenerik seperti “Anjing” atau “Ngentot” atau “Maju lo, bangsat!” Jelas sekali skenarionya ditulis dengan malas.

Tapi yang paling menjengkelkan buat saya adalah karakter pastur sebagai penjahat di film ini. Tak ada urgensi menjadikan karakter ini tampil dengan simbol-simbol agama dan dengan mengutip banyak ayat Alkitab. Saya bukan penganut Kristen namun saya merasa terhina sekali dengan karakter ini. Ketimbang membuatnya unik malah terasa seperti penistaan agama.

Sayang sekali memang aksi maksimal Livi justru jomplang dengan semesta, karakter hingga cerita/skenario yang dibangun di film ini. Sekali lagi tolong para produser/sutradara yang terhormat, beri perhatian pada cerita/skenario, minta masukan dari sebanyak mungkin orang, sehingga cerita itu terasa seperti berada di dunia kita hari ini.

Video Terkait: