Tahun 2017. Tiga tahun sebelum pandemi, kiamat mulai melanda media cetak. Satu persatu perusahaan tumbang, majalah dan tabloid berhenti terbit. Perkembangan pesat internet membuat sebagian besar orang meninggalkan majalah dan tabloid yang sebelumnya kokoh berdiri selama puluhan tahun.
Dan setahun setelahnya lonceng kematian terdengar semakin nyaring. Kali ini giliran tabloid Bola menemui ajalnya. Setelah terbit menemani pembaca setianya selama 34 tahun, tabloid tersebut berhenti terbit. Bisa jadi untuk selamanya.
Maka ketika The Devil Wears Prada 2 menjadikan isu tersebut sebagai plot utamanya, nostalgia demi nostalgia seperti terputar kembali di benak kita. Bagaimana kita menunggu terbitan terbaru setiap minggu, tergesa-gesa menuju toko buku atau kios majalah untuk membeli dan menghabiskan semalaman untuk membaca nyaris semua artikelnya. Ternyata bahkan majalah se-ikonik Runway pun tak bisa melawan takdir dan bersedia hanya tampil dalam format digital dan menurut Miranda Priestly, seringkali dibaca sambil pup. Dan bisa jadi menurut Miranda, itu membuat medianya seakan kehilangan marwahnya. Bahkan edisi September [September Issue] yang ditunggu sepanjang tahun karena dianggap sebagai kitabnya fesyen dunia juga harus rela terhapus begitu saja.
Menarik memang bagaimana film yang dicintai begitu banyak orang termasuk saya dan sekomersial The Devil Wears Prada 2 menjadikan isu senjakala majalah sebagai senjata merebut hati penonton seluruh dunia. Ini adalah strategi luar biasa cemerlang karena mengaitkan cinta dan nostalgia akan berujung pada sebuah kerinduan. Dan kerinduan inilah yang dijual film ini.
Bayangkan Miranda yang 20 tahun lalu terkenal jutek hingga diberi julukan The Dragon Lady harus menerima perubahan. Bagaimana ia harus terus menerus ditegur asistennya yang masih Gen Z agar tak memberi komentar yang ofensif. Bayangkan Miranda harus menerima kembali asistennya, Andrea Sachs, yang pernah meninggalkannya begitu saja, untuk kali ini menjadi Feature Editor di Runway.
Sebuah kesalahan harus ditelan dan diterima Miranda yang membuatnya harus menerima keputusan apapun yang ditetapkan pemilik majalah. Tapi sebuah kecelakaan hadir dan mengubah apapun yang sudah direncanakan Miranda dan Andy. Karena anak pemilik perusahaan tak punya nilai sentimental terhadap Runway dan memilih untuk menjualnya di saat mereka terkena masalah dan ditinggalkan pengiklan. Tapi meski tak saling suka, Miranda dan Andy berbagi kecintaan yang sama. Mereka merindukan kehadiran kembali Runway dalam format majalah. Mereka ingin kembali melihat para model dalam busana mengagumkan dan berpose semenarik mungkin di bawah arahan fotografer sekelas dunia seperti Annie Leibovitz. Mereka ingin kembali membaca tulisan-tulisan panjang dengan isu-isu penting dari penulis garda depan seperti Christiane Amanpour.
Maka The Devil Wears Prada 2 menjelma sebagai surat cinta untuk jurnalisme. Dari opening film pun sesungguhnya sutradara David Frankel sudah mengingatkan itu. Miranda, Andy dan juga saya bisa jadi adalah segelintir orang yang berharap datangnya kebangkitan majalah kembali. Bukan Cuma majalah sebenarnya tapi juga tabloid dan surat kabar. Saya juga ingin kembali melihat misalnya Republika dengan tulisan-tulisan panjangnya yang khas tentang Islam. Saya juga merindukan ulasan-ulasan pertandingan yang ditulis detil dalam tabloid Bola.
Mungkin ini cuma sebuah kerinduan. Mungkin ini cuma sebuah nostalgia. Dan The Devil Wears Prada 2 mengingatkan kita kembali dengan penuh cinta.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY