Tahun 1996. Penulis Jepang, Koji Suzuki, menerbitkan buku kumpulan cerita horornya berjudul Honogurai Mizu No Soko Kara [Dari Kedalaman Perairan Gelap]. Buku tersebut memuat tujuh cerita yang memiliki keterikatan dengan air.
Salah satu cerita tersebut berjudul Floating Water yang lantas diadaptasi menjadi film oleh sutradara Hideo Nakata di tahun 2022 berjudul Dark Water. Saking suksesnya film tersebut lantas kembali dibuat ulang versi Amerika-nya berjudul sama.
Meski bernuansa horor, Koji justru lebih banyak menyoroti kekejaman yang dilakukan manusia ketimbang sekedar peristiwa gaib. Ia berfokus pada bagaimana perubahan sebuah kota, bagaimana kota bisa menjadi masalah buat sebuah keluarga hingga soal kekerasan dalam rumah tangga. Elemen horor digunakannya sebagai pintu masuk untuk membicarakan hal-hal yang fundamental ketimbang hanya sekedar dibuat untuk menakut-nakuti penonton.
Tapi Lee Sang-min, sutradara film Salmokji: Whispering Water, bukanlah “penerus” Koji. Meski sama-sama menggunakan elemen air sebagai medium untuk meneror penonton, Lee tak mencoba membangun semesta filmnya dengan hal-hal fundamental: karakter-karakter yang dibangun dengan baik, motivasi tiap karakter yang bisa terbaca jelas dan sebab-akibat apapun yang terjadi dalam film. Mungkin 1-2 hal memang tak perlu dijelaskan dan dibiarkan untuk bisa ditafsirkan sendiri oleh penonton namun bagaimana jika kausalitas plot utama pun sengaja tak dihiraukan?
Padahal Salmokji: Whispering Water bisa lebih menarik jika penulis skenario mau repot menggali lebih dalam, menambahkan alasan kuat dan tak membuat penonton terus bertanya-tanya sepanjang film yang pada akhirnya tak sekalipun dijawab.
Alkisah produser Su-in mengajukan diri untuk melakukan pemetaan ulang di sekitar waduk Salmokji setelah sosok misterius tertangkap kamera. Kita tak tahu seberapa urgensinya sehingga membuat Su-in bersedia membawa timnya ke lokasi yang memang terkenal angker itu. Rasanya mirip dengan sebagian film horor lokal di mana tokoh-tokohnya memang terkesan sekedar ingin uji nyali atau memang mau cari mati.
Maka berangkat lah Su-in dengan 4 orang timnya. Dan kita sudah tahu sesuatu pasti akan terjadi. Yang membuatnya terasa lebih maju dari film horor lokal adalah Salmokji: Whispering Water tak berusaha membuat gendang telinga pecah dengan musik dan efek yang memekakkan telinga, masih berupaya kreatif menampilkan hantu demi hantu dengan ritme terjaga [tak perlu 10-15 menit muncul seperti di film horor lokal yang membuat kita imun dengan penampakannya] dan masih berusaha untuk tak terburu-buru.
Kita melihat satu persatu korban berjatuhan. Kita melihat satu persatu mati dengan cara mengenaskan. Dan kita melihat betapa waduk tersebut ternyata adalah sebuah kuburan massal [dengan penggambaran spektakuler yang super mengerikan].
Tapi tak ada penjelasan apapun tentang apa yang sesungguhnya terjadi di sana di masa lalu. Dari mana semuanya berawal dan bagaimana waduk itu mulai memakan korban. Dan terutama bagaimana sebuah ungkapan terus bergema “siapapun yang masuk tak akan bisa ke luar hidup-hidup”.
Karenanya saya sama sekali tak setuju jika ada yang menganggap Salmokji adalah the next Exhuma. Film yang disebut terakhir terasa betul keteliannya meriset sejarah dan memasukkannya dengan brilian ke dalam cerita. Sementara Salmokji: Whispering Water hanya berhenti sebagai film horor yang berupaya menakut-nakuti penonton dengan formula yang sesungguhnya basi.
Sayangnya memang Lee Sang-min tak belajar dari apa yang ditulis Koji Suzuki 30 tahun sebelumnya.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY