Tahun 2025. Universitas Negeri Makassar geger saat seorang mahasiswi melaporkan dosen pembimbingnya atas tuduhan pelecehan seksual.
Di sebuah negara dengan warga mayoritas muslim dan tampak agamis selalu mengejutkan ketika kita mendapati kasus-kasus seperti di atas. Sang dosen merasa punya kuasa atas mahasiswinya dan mulai melakukan tindakan tak terpuji. Sang mahasiswi sempat merasa tak bisa menolak karena menganggap masa depannya menjadi pertaruhannya. Sejumlah korban berani melapor ke polisi, selebihnya memilih diam menanggung malu dan mencoba berdamai dengan traumanya.
Dan kasus-kasus seperti ini terjadi di seluruh belahan dunia. Kita juga sudah menyaksikan begitu banyak film/serial yang mencoba memotretnya dengan perspektif yang berbeda. Namun Sorry, Baby mengambil jalur yang sama sekali berbeda dari para pendahulunya. Melalui pendekatan dark comedy [komedi gelap], sutradara/penulis skenario sekaligus pemain utama, Eva Victor, mengajak kita menelusuri apa yang dilalui Agnes dan bagaimana selama bertahun-tahun ia mencoba berdamai dengan trauma.
Agnes adalah mahasiswi S2 yang sedang menyusun tesis. Dalam proses pengerjaannya tesis Agnes dipuji oleh dosen pembimbingnya, Decker. Ia terpikat dengan ujaran simpatik dan dengan cepat kita tahu Agnes akan berada di sebuah situasi yang berbahaya.
Decker bukanlah pemerkosa kejam atau pembunuh berdarah dingin yang justru membuat Agnes semakin terpojok. Nyaris tak seorang pun mendukung tindakan yang ia lakukan dengan melaporkan Decker ke pihak universitas. Hanya sahabatnya, Lydie, yang selalu berada di sampingnya. Lydie yang pertama kali mendapati betapa terguncangnya Agnes setelah peristiwa itu. Lydie pula yang menemaninya melakukan visum.
Tapi trauma atas pelecehan seksual itu harus ditanggung Agnes seorang diri selama bertahun-tahun. Sesekali ia masih merasakan serangan panik hingga tak bisa bernapas. Hanya ada Olga, kucing peliharaannya, dan Gavin, tetangganya, yang menjadi pelipur lara.
Skenario yang ditulis Eva memang membiarkan kita melihat dengan jelas tahap demi tahap pelecehan terjadi, bagaimana korban kebingungan mengakuinya dan pada akhirnya bangkit untuk mengatakan bahwa apa yang ia alami itu salah. Skenario juga membiarkan dialog sealamiah yang terdengar dalam percakapan sehari-hari yang membuat kita merasa dekat. Dan penyutradaraan Eva juga meminimalisir dramatisasi, isak tangis berlebihan, ilustrasi musik yang seringkali justru merusak adegan emosional. Dan dengan segala minimalisasi dan ketiadaan itu kita melihat Sorry, Baby berusaha tanpa pretensi.
Melalui komedi Eva justru ingin memperlihatkan bahwa tak mudah menjadi korban sekaligus penyintas. Ada banyak hal yang harus dipertaruhkan. Dan sesekali hidup memang mengubah komedi menjadi tragedi bukan dengan tujuan agar kita bisa terus menerus menangisinya namun agar kelak ketika korban berhasil keluar dari trauma, mungkin ia bisa menertawakannya. Mungkin dengan cara itu trauma bisa pergi, ia bisa sembuh dan kembali ke kehidupan normal.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY