Tahun 2012. Sutradara Hanung Bramantyo merilis film Habibie & Ainun. Film yang berfokus pada kisah cinta sejati mantan presiden dan istrinya itu membuat jutaan penonton berduyun-duyun ke bioskop.
Sebagaimana film fiksi pada umumnya meski berdasar kisah nyata tentu saja selalu ada dramatisasi. Dan karena berfokus pada kisah cinta maka banyak episode-episode penting dari hidup almarhum yang tak ditampilkan. Paling tidak selama periode 1998-1998 Habibie membuat 2 keputusan bersejarah: menurunkan kurs dollar dari 16 ribu ke 6500 dalam hitungan bulan dan menyetujui referendum Timor Leste untuk memisahkan diri dari Indonesia.
Sayangnya memang hingga saat ini kita tak punya film dokumenter panjang yang diproduksi serius dan cukup komprehensif memperlihatkan sosok presiden di negeri ini. Saya merasa iri betul karenanya setelah menyaksikan film Prime Minister di HBO Max. Film berdurasi 101 menit itu menampilkan mantan perdana menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dengan pendekatan humanis dan simpatik. Setelah Benazir Bhutto, Jacinda menjadi presiden sekaligus menjadi ibu menyusui dalam satu waktu. Ia menjalani kehidupan gandanya dengan baik tanpa menghilangkan sisinya sebagai manusia, sesuatu yang semakin jarang terlihat terlebih pada sosok pemimpin di negeri ini.
Sedari awal film dokumenter yang disutradarai duo perempuan, Lindsay Utz dan Michelle Walshe ini, tahu di mana dirinya harus berpijak. Sisi feminis terasa sangat kuat sejak awal karena Jacinda punya banyak peran sebelum terpilih sebagai perdana menteri. Sejak masih di partai buruh, Jacinda sudah aktif menjadi penjaga gawang bagi sejumlah undang-undang terkait kesehatan dan perempuan. Dalam banyak sekali pidatonya yang ditampilkan dalam film ini, ada satu kata yang sering sekali diulang-ulang oleh Jacinda:kindness. Dan rupanya kindness [kebaikan] menjadi semacam mantra baginya ketika ia terpilih di usia yang belum lagi 40 tahun di 2017.
Sebagai perempuan tentu saja Jacinda pun mengalami diskriminasi jender. Saat terpilih sebagai perdana menteri ia sedang hamil. Maka suara-suara cemooh berhamburan di udara menyangsikan dirinya. “Bagaimana bisa menjadi ibu menyusui sekaligus memimpin negara?”
Tapi Jacinda tak gentar. Ia merasa bertanggung jawab penuh pada rakyat yang memilihnya yang dibuktikannya dalam sejumlah tindakan. Dalam peristiwa teror di sebuah masjid, Jacinda langsung hadir di tengah masyarakat Muslim yang berduka. Sekaligus peristiwa ini membukakan matanya atas penyalahgunaan senjata. Di luar dugaan Jacinda bergerak sangat gesit melebihi presiden pria dan membuat negara menyetujui kontrol senjata yang lebih ketat.
Kali lain Jacinda berhadapan dengan musibah COVID-19 yang menimpa seluruh dunia. Ia membuat sejumlah keputusan strategis dan menutup telinga rapat-rapat atas mereka yang menentang keputusannya. Hasilnya Selandia Baru menjadi negara pertama yang bisa keluar dari bencana itu dalam waktu singkat.
Indonesia juga pernah punya presiden perempuan. Tapi kita nyaris tak banyak tahu menahu tentang sisi-sisi kemanusiaannya. Kita tak tahu menahu apa saja yang dihadapinya sebagai seorang perempuan, istri, Ibu dan seorang presiden. Film dokumenter panjang seperti Prime Minister menjadi etalase penting untuk menelusuri jejak-jejak penting yang pernah dibuat, juga kesalahan-kesalahan yang tak disengaja. Karena kita selalu bisa belajar dari masa lalu untuk hidup yang lebih baik di masa depan.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY