Tahun 1990. Untuk pertama kalinya sutradara Arifin C Noer mengarahkan Meriam Bellina di film Taksi. Dan saking terkesannya ia menjulukinya “magma perfilman Indonesia”.
Saya tak paham metafora magma di sini namun bisa jadi magma diartikan sesuatu yang selalu menggelegak. Tahun 1980-1990-an Meriam Bellina memang berada di puncak karir dan dianggap sempurna sebagai perwujudan kualitas dan komersial. Ia selalu berakting memikat dan hampir semua filmnya juga laris di bioskop. Berkat film Taksi pula di tahun 1990 itu pula Meriam Bellina beroleh piala Citra keduanya.
Kini di usianya yang menginjak 61 tahun karir Meriam kembali moncer di film bioskop. Tahun ini sudah ada 3 judul yang memajang namanya masing-masing Titip Bunda di Surgamu, Senin Harga Naik dan Keluarga Suami Adalah Hama.
Dalam Senin Harga Naik, Meriam Bellina berperan sebagai ibu tunggal dengan 3 anak sekaligus pengusaha toko roti bernama Retno. Tak mudah membesarkan 3 anak sendirian sekaligus membesarkan usaha tanpa bantuan siapapun. Dan karenanya Retno juga menjadi sosok ibu otoriter dan akhirnya bentrok dengan anak keduanya, Mutia.
Perlahan satu persatu anak-anaknya meninggalkan rumah dan mencari kehidupan mereka sendiri. Saya belum merasakan apa yang dirasakan Retno tapi mungkin saya bisa memahami bagaimana dunianya yang dulu ramai dengan canda tawa anak-anak perlahan sepi. Dan yang dimiliki Retno hanyalah toko roti yang juga perlahan ditinggalkan pelanggannya.
Mutia pergi dari rumah dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ibu dan anak itu sama-sama terluka namun keduanya terlalu gengsi untuk mengakuinya hingga tiga tahun kemudian. Dan sekali lagi perkara rumah menjadi isu penting di film Indonesia. Rumah bukan sekedar tempat keluarga bertumbuh namun juga tempat untuk pulang. Meski Mutia pergi dari rumah, Retno selalu merapikan kamarnya setiap hari agar putrinya itu kelak tahu bahwa ia selalu punya tempat untuk pulang.
Di tangan Rino Sarjono yang merakit skenarionya, sedari awal kita tahu siapa karakter utama di film ini dan apa yang ia inginkan. Dan judul Senin Harga Naik adalah cerminan dari apa yang karakter utama inginkan. Tapi kita masih bisa dikejutkan dengan beberapa belokan cerita, bagaimana benang merah cerita terasa solid dari awal hingga akhir dan terutama bagaimana film ini memberi closure yang menyenangkan bagi penonton.
Senin Harga Naik harus dipujikan berkat keinginannya memperlihatkan sosok ibu otoriter yang perlahan merasa gagal sebagai orang tua dan masih mau mengakui kesalahan-kesalahannya dan sekaligus menebusnya. Kita perlu memutus rantai stigma bahwa orang tua selalu benar dan anak selalu salah. Kita perlu memperbaiki stigma bahwa orang tua tak perlu meminta maaf ke anak-anaknya.
Skenario yang sudah rapi ini juga dieksekusi dengan asyik oleh Dinna Jasanti. Kita melihatnya tak sekedar memberi banyak ruang bagi aktor-aktrisnya namun juga memberi ruang bagi kamera untuk merekam momen-momen kosong dalam rumah yang terasa kusam dan hampa dan di akhir film semuanya berubah jadi hangat dan menentramkan. Sinematografi seharusnya memang bukan sekedar komposisi namun juga tentang bagaimana gambar bisa memunculkan perasaan-perasaan yang diinginkan.
Dan nilai plus terbesar Senin Harga Naik memang ada di faktor Meriam Bellina. Bisa jadi baru di film ini saya menyadari beliau sehebat Christine Hakim [maafkan saya, Mbak Mer]. Tatapannya ke anak-anaknya yang selalu terlihat penuh cinta membuat saya trenyuh, responnya ke anak-anaknya dengan sentuhan yang terekam kamera dengan baik dan rasa sedih/kecewa/gundahnya yang tersampaikan dengan ekspresi minor yang bikin saya merinding.
Saya pun teringat ibu saya yang meninggal di tahun 1993. Saya membayangkan jika ibu saya berumur sepanjang Retno, mungkin ia juga merasakan apa yang dirasakan Retno.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY