Tahun 2026. Setelah kemenangannya membawa pulang piala Oscar untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik, beberapa fakta tentang Paul Thomas Anderson lantas terkuak.
Salah satu fakta yang cukup mengagetkan saya adalah bahwa di tahun 2023 atas permintaan Leonardo DiCaprio, Paul Thomas Anderson menulis ulang [rewrite] skenario film Killers of the Flower Moon yang kelak disutradarai auteur, Martin Scorsese.
Bayangkan selevel Martin Scorsese saja mau skenarionya ditulis ulang oleh Paul yang notabene adalah yuniornya, lantas mengapa di industri film Indonesia praktik seperti ini tak mulai dibiasakan terjadi?
Upie Guava adalah seorang visualizer hebat. Alim Sudio adalah seorang penulis skenario cemerlang. Namun ketika keduanya bersatu di film Pelangi di Mars, mengapa mereka tak menyadari atau tak seorang pun mengingatkan mereka bahwa skenario yang mereka tulis bareng itu masih jauh dari memuaskan? Mengapa tak ada aktor seperti Leonardo yang berani bilang “hey, skenariomu buruk. Mungkin kamu bisa memperlihatkannya ke seseorang untuk dibaca, diberi masukan dan direvisi?”
Padahal Pelangi di Mars punya potensi untuk jadi film yang tak cuma cakep secara visual namun juga cakep secara penceritaan. Plotnya juga sederhana. Tentang seorang anak perempuan bernama Pelangi yang punya misi heroik: mencari mineral bernama Zeolith Omega untuk menyelamatkan bumi dari krisis air. Sepintas terkesan terlalu heroik?
Yess dan itu karena pengenalan karakter hingga world building film ini sama sekali tak mulus. Tak ada informasi yang cukup di awal untuk memperlihatkan krisis air dan bagaimana dampaknya ke umat manusia. Dan lantas mengapa harus anak kecil yang berjuang menyelamatkan milyaran manusia di muka bumi?
Pelangi pun tak punya keistimewaan sama sekali. Ia cuma kebetulan lahir di planet Mars dan kebetulan lahir dari seorang ibu astronot. Tapi kita tak pernah sekalipun diperlihatkan apa urgensi Pelangi menyelamatkan bumi? Bandingkan dengan karakter Mabel di Hoppers misalnya. Ia punya alasan emosional menyelamatkan hewan-hewan dari habitatnya dan karakternya yang tukang protes dan pemberontak dari awal sudah diperlihatkan dengan baik.
Di planet Mars pun segala sesuatu serba ada buat Pelangi. Butuh teman ada robot-robot muncul begitu saja. Butuh makanan ada robot Korea yang suka masak [entahlah bahan makanannya didapat dari mana, ia tak menanam kentang seperti Matt Damon di The Martian]. Hidupnya di Mars toh baik-baik saja.
Dan karena skenario yang seharusnya jadi tulang punggung film itu berantakan sejak awal, kita hampir lupa betapa luar biasanya visual film ini. Betapa cukup detilnya film ini memperlihatkan planet Mars sesuai imajinasi penonton. Tapi sekaligus kita kembali diingatkan bahwa film itu tentang cerita terlebih dahulu, bukan visual. Karena visual melengkapi cerita bukan menutupi lubang-lubang menganga di dalamnya.
Jadinya setelah ini semoga ada sutradara/produser/aktor yang tak terlalu percaya diri dengan skenarionya dan lantas meminta beberapa orang, semoga saya termasuk ehm, untuk membacanya. Karena kita semua di industri film ingin semakin banyak film Indonesia berkualitas bagus yang hadir terlebih film dengan pencapaian visual sebaik Pelangi di Mars.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY