Home FILM Irma Rihi dan Kasting Yang Sering Disepelekan

Irma Rihi dan Kasting Yang Sering Disepelekan

Film Na Willa [2026]

150
0
SHARE
Irma Rihi dan Kasting Yang Sering Disepelekan

16 Maret 2026. Dari atas panggung gelaran Academy Awards, aktor Wagner Moura memberi tahu betapa menantangnya proses kasting. Ia bilang casting director film The Secret Agent, Gabriel Domingues, harus mencari pemeran dengan wajah-wajah terasa pantas di film berlatar tahun 1970-an itu.

Pengantar dari Wagner menjadi penanda penting untuk kategori perdana yang diadakan di panggung Oscar tahun ini: Best Casting. Dan kita pun bisa menduga betapa sulit sesungguhnya mencari pemeran terutama film dengan setting periodik. Seperti Na Willa misalnya.

Film Na Willa adalah sebuah pertaruhan besar. Terutama menyajikan latar kota Surabaya di tahun 1960-an dan meyakinkannya kepada para penonton. Dan tak cuma itu. Tantangan terbesar sesungguhnya datang dari bagaimana menyajikan para pemeran dengan representasi wajah yang seperti kata Wagner, “belong to that era”. Karena bagaimana para pemeran adalah wajah dari sebuah film. Seberapa meyakinkannya sebuah latar dibangun tanpa pemeran yang meyakinkan maka kita pun sulit dipaksa menerimanya.

Tapi sebelum kita bicara lebih jauh soal kasting, mari membicarakan ceritanya terlebih dahulu. Na Willa, sebagaimana judulnya, berkisah tentang seorang anak perempuan bernama unik. Sewaktu ia diperkenalkan di depan kelasnya, ia ditertawakan karena namanya. Tapi sutradara seperti tak hirau memberi tahu ke penonton mengapa namanya menjadi bahan tertawaan.

Willa berteman dengan Dul, Farida dan Budi. Hari-hari mereka dilalui dengan gembira, seceria warna-warna baju para pemeran dan rumah beserta pernak-perniknya. Di rumah Willa hanya ada Mak dan Mbok. Mak yang cantik dan tegas dan Mbok yang cekatan dan humoris. Pak hanya sesekali ada dalam hidup Willa karena ia menghabiskan hidupnya di lautan.

Saya tak membaca buku yang menjadi sumber materi film ini tapi menurut saya dan selalu menjadi keyakinan saya bahwa film tak berutang pada materi asli. Film harus melakukan cara apapun agar ceritanya terus bergerak, agar karakter-karakternya terus melakukan penjelajahan. Dan sayangnya bagian yang paling penting itu hilang dari film ini. Bayangkan 40 menit film berjalan dan tak ada hal besar yang terjadi. Orang dewasa saja sudah keburu bosan, apalagi anak-anak hari ini yang attention span-nya semakin pendek. Cerita baru berjalan ketika Willa masuk ke sekolah dan itu terjadi setelah 90 menit durasi film berlalu.

Dan tahu lah saya penyebabnya. Karena film ini sepertinya dipecah jadi 2 bagian. Seharusnya meski film dipersiapkan menjadi 2 bagian, kita tetap bisa menontonnya sebagai sebuah produk utuh. Masalah di film awal sudah terselesaikan dan baru lah ada masalah baru di film berikutnya.

Kembali ke soal kasting. Meski saya menyukai pemeran anak-anak dan kealamiahannya berakting namun saya masih sangsi dengan tampilan fisik seperti mereka di tahun 1960-an. Apalagi Willa dkk diceritakan tinggal di dalam gang. Belum lagi tampilan fisik beberapa pemain pendukung yang cukup menganggu. Kenapa harus memaksakan filmnya berlatar tahun 1960-an sementara latar itu sesungguhnya sama sekali tak memberi kontribusi signifikan pada cerita/skenario.

Untungnya ada Irma Rihi. Perempuan asal Kupang yang tampil mencengangkan dalam penampilan akting perdananya di film Women From Rote Island [2023] itu menjadi satu-satunya alasan saya berusaha betah menyaksikan film Na Willa hingga akhir. Setelah tak direkognisi Festival Film Indonesia, saya berdoa agar Irma menemukan keberuntungannya di film. Dan ternyata Irma bisa bersinar di film produksi sebuah rumah produksi besar. Dengan dialek yang khas sekaligus tampilan fisik berciri perempuan Timur, sosok Irma sebagai Mak terlihat dan sekaligus terdengar menyenangkan bagi saya.

Setelah Jumbo yang cemerlang dari berbagai sisi, saya tentu berharap banyak dari penyutradaraan panjang kedua dari Ryan Adriandhy ini. Sayangnya mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi.

Video Terkait: