Tahun 2010. Untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan aktor asal Australia, Joel Edgerton. Penampilannya yang magnetik dalam film Animal Kingdom menghantarkan dirinya ke pusat industri film dunia.
Perlahan kita melihatnya dalam banyak film dan menyadari keterampilannya bertransformasi bak bunglon. Sejumlah film dengan penampilannya yang mengesankan diantaranya Black Mass [2015], The Gift [2016], Loving [2016] dan tentu saja yang terbaru, Train Dreams [2025].
Dalam Train Dreams, Joel bertransformasi menjadi sosok pekerja rel kereta api sekaligus penebang kayu di awal abad ke-20. Ia menjadi Robert Grainier yang terperangkap di tengah jaman yang mulai berubah dengan cepat. Di tengah hutan Pacific Northwest, Amerika, Robert menjalankan tanggung jawabnya. Namun di sisi lain, di tengah rasa sepi yang sering menyergap, ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Dan bisa jadi yang dibutuhkannya adalah sebuah keluarga.
Dengan film yang bergerak pelan, kita melihat Robert menemukan kebahagiaannya dengan Gladys. Dan kebahagiaan itu semakin lengkap dengan hadirnya putri kecil mereka. Dan kita tahu keberadaan seorang anak seringkali mengubah cara pandang kita tentang kehidupan. Maka Robert menyusun rencana, mencoba menata masa depan untuk keluarga kecilnya.
Tapi hidup seringkali memberi pengalaman yang menyakitkan. Dalam sebuah kebakaran hutan yang dahsyat, dalam sekejap Robert kehilangan semuanya. Tak hanya kehilangan keluarga kecilnya, Robert juga kehilangan impiannya dan perlahan merasa kehilangan dirinya sendiri.
Di sinilah kekuatan Train Dreams ketika sutradara Clive Bentley memperlihatkan bagaimana seorang laki-laki yang selalu tampak tegar mencoba menerima kehilangan dan berdamai dengannya. Dengan penataan sinematografi yang memanfaatkan keindahan alam dengan cahaya yang tersedia berlimpah [available light], Adolpho Veloso menghadirkan tak hanya perasaan melankolik namun juga terasa kontemplatif. Kita melihat lansekap menjadi karakter tersendiri yang membuat kita mencoba memahami emosi-emosi yang dirasakan Robert.
Dengan penampilan sejujur ini banyak pihak yang menyayangkan mengapa Joel hanya menembus nomine Golden Globe dan tak sekaligus Oscar. Karena praktis Joel banyak berakting sendirian dan membawa film ini sepenuh hati. Tak mudah memperlihatkan luka batin tanpa dramatisasi berlebihan, cukup sulit memperlihatkan trauma tanpa airmata yang terus berlinang. Dan kita berharap di film mendatang akting Joel akhirnya direkognisi Academy Awards.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY