Tahun 2003. Sutradara Gus Van Sant mengejutkan dunia dengan filmnya yang kontroversial berjudul Elephant.
Di tahun itu juga Elephant beroleh pujian dari banyak festival bergengsi di seluruh dunia. Cannes Film Festival bahkan menganugerahkan 3 penghargaan sekaligus, dua diantaranya untuk Best Director dan Palme d’Or.
Salah satu yang paling menonjol dari Elephant adalah bagaimana film tersebut mencoba mereka ulang peristiwa penembakan massal di sebuah sekolah di Amerika dan mencoba melihatnya dari dua sudut pandang yang berbeda.
Serial His & Hers yang tayang di Netflix juga mengandalkan pendekatan serupa. Bedanya Elephant berbasis kisah nyata sementara His & Hers sepenuhnya fiksi. Namun yang menarik adalah keduanya mencoba menegaskan bahwa selalu ada dua sisi [bahkan lebih] dari sebuah cerita. Dan kita sebagai penonton diminta untuk melihat keduanya dengan jernih, mempertimbangkannya tak sekedar hitam-putih dan kelak bisa meramu kedua sisi menjadi sebuah keputusan yang bijak.
Sisi pertama di His & Hers bernama Anna Andrews, seorang jurnalis yang baru saja berduka dan masih bergulat dengan trauma. Di sisi berikutnya ada Jack Harper, seorang detektif yang juga merupakan mantan suami Anna. Dan di tengah-tengah mereka ada pembunuhan berantai penuh rahasia.
Dua sisi atau sudut pandang ini sudah ada sebelumnya dari materi asli novel laris karya Alice Fenney. Dua sisi yang sudah sama-sama kokoh dan seringkali bertolak belakang dan saling menguji sisi kebenaran satu sama lain. Dalam format serial terbatas sebanyak 6 episode tentunya cukup banyak waktu untuk membuka pilinan-pilinan cerita yang ada di novel ke dalam episode demi episode. Juga cukup waktu untuk menyibak rahasia masa lalu Anna dan Jack dan bagaimana keduanya masih menyimpan miskomunikasi yang menyebabkan hubungan keduanya merenggang.
His & Hers bisa jadi terasa lebih kompleks dari serial kriminal sejenis karena ia mencoba menyusuri jejak-jejak masa lalu yang diyakini bersinggungan dengan peristiwa pembunuhan berantai di masa kini. Mencoba mencari koneksi peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Karena seringkali apa yang terjadi adalah sebab akibat dari peristiwa yang bisa jadi nyaris terlupakan di masa lalu.
Intensitas cerita, ritme yang ketat dan skenario yang penuh kejutan-kejutan menegangkan itu tak akan tersaji mulus jika tak disampaikan dengan baik oleh tulang punggung serial ini. Baik Tessa Thompson maupun Jon Bernthal sama-sama aktor/aktris cemerlang yang tahu bagaimana memanfaatkan reaksi kimiawi di antara mereka untuk menyiratkan aura kerahasiaan yang akan semakin membingungkan penonton dalam arti yang baik. Sebagai Anna, Tessa membuat kita bisa memahami bagaimana rasanya kehilangan seseorang terkasih dan mencoba bangkit dari luka. Sebagai Jack, Jon tahu bagaimana memunculkan rasa bersalah, juga mungkin rasa malu, dari karakternya yang kompleks.
Sesuai judulnya kita diarahkan untuk memilih di sisi mana kita ingin berada. Apakah di sisi laki-laki atau di sisi perempuan. Tapi kita selalu tahu batas-batas bisa kabur dan selalu ada dua sisi [bahkan lebih] dari sebuah cerita.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY