Tahun 1982. Pertama kalinya novel House of the Spirits yang ditulis Isabel Allende dipublikasikan di Spanyol. Padahal Isabel berkebangsaan Chile. Ternyata jalan terjal harus dihadapinya sejak awal untuk memperkenalkan novel yang memperlihatkan perubahan di negerinya selama empat generasi.
Perlahan novel tersebut beroleh popularitas dan menuai pujian dari kritikus. Novel tersebut dinilai tak hanya teliti merangkum banyak isu penting dari teropong kacamata keluarganya tapi juga menjadi caranya berbicara ke dunia luar seputar perubahan politik yang terjadi di negerinya.
Novel itu lantas memikat Hollywood dan mengadaptasinya menjadi sebuah film di tahun 1993. Meski dibesut sutradara kaliber Bille August dan memajang 2 aktor jempolan, Jeremy Irons dan Meryl Streep, film tersebut dihujani kritikan keras. Banyak pihak yang menganggap Bille tak memahami esensi ceritanya dan berusaha keras membuatnya terlalu Hollywood. Sebagian lagi menganggap sudah seharusnya film tersebut dibuat dalam bahasa aslinya, dari perspektif orisinal, yang akan membuat nilai-nilai penting di dalamnya tak ikut tergerus.
Maka duo kreator Francisca Alegria dan Fernanda Urrejola mencoba mengembalikan marwah novel ini ke posisi semula. Dengan banyaknya konteks yang ingin dibicarakan plus rentang waktu panjang dari ceritanya bisa jadi format serial paling sempurna untuk mengakomodasinya.
Dalam 8 episode serial yang tayang di Prime Video ini, House of the Spirits bercerita dari sudut pandang seorang perempuan bernama Alba. Ia menceritakan kisah kakek dan neneknya, Clara dan Esteban Trueba. Clara lahir dari keluarga terpandang berkecukupan yang membuatnya hidup di rumah besar, dilayani banyak pelayan dan tak pernah merasa kekurangan. Sejak kecil Clara sudah menunjukkan keistimewaan. Ia bisa menggerakkan benda-benda secara telekinesis dan bisa melihat masa depan. Tapi satu hal yang tak bisa diantisipasinya adalah ketika melihat kakak yang disayanginya, Rosa, tewas diracun oleh lawan politik ayahnya.
Esteban yang menyukai Rosa dan berjanji menikahinya patah hati. Clara bahkan berhenti bicara hingga 9 tahun. Dalam nuansa realisme magis yang tergambar dengan sangat baik dalam novelnya juga bisa diterjemahkan dengan baik oleh kreator serial ini. Dalam khazanah Amerika Latin, sebagaimana Asia, dunia gaib adalah dunia yang dipercaya keberadaannya dan bisa berdampingan dalam damai dengan dunia realitas. Maka kita terus melihat Clara bisa melihat satu persatu anggota keluarganya mati, juga termasuk bisa melihat bahwa Esteban kelak akan menikahinya ketika ia dewasa.
Tapi dunia yang digambarkan Isabel adalah dunia yang juga memperlihatkan perbudakan yang masih terjadi, kekejaman laki-laki yang terus dilanggengkan dan suara para perempuan yang terpinggirkan. Dalam dunia yang kontras ini Clara berada. Dan tiba-tiba ia melihat Esteban menjadi laki-laki kejam yang tak lagi dikenalnya.
Dalam empat episode yang sudah tayang kita dibawa memasuki dua dunia yang sedang berkejaran: dunia gaib dan dunia realitas, juga dunia modern dan dunia perbudakan. Dan kita melihat perubahan juga terjadi dengan cepat, pergolakan terjadi di mana-mana. Isabel menggambarkannya dengan sangat brilian di novelnya dan napas itu coba dihembuskan ke serial ini dengan segala daya upaya.
Mungkin yang tak pernah kita duga adalah bagaimana cerita yang digambarkan terjadi ratusan tahun lalu itu masih relevan hingga hari ini. Kita masih melihat sosok seperti Clara yang lembut hatinya dan tahu bahwa kebodohan adalah sumber malapetaka. Kita juga bisa melihat bagaimana laki-laki seperti Esteban dengan patriarkismenya yang masih sangat kental hari ini. Tak sia-sia upaya Isabel menempuh jalan terjal karena setelah lebih dari 40 tahun sejak penerbitan perdananya, ceritanya masih beresonansi dengan kita hari ini.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY