Home FILM Bruce Springsteen Melawan Depresi

Bruce Springsteen Melawan Depresi

Film Springsteen: Deliver Me From Nowhere [2025] - Tayang di Disney Plus

46
0
SHARE
Bruce Springsteen Melawan Depresi

Tahun 2009. Pertama kalinya saya berkenalan dengan Scott Cooper. Filmnya Crazy Heart tak saja memenangkan hati pemilih Oscar yang menobatkan Jeff Bridges sebagai Best Actor namun juga memenangkan hati saya.

Mengakukturasikan musik ke urat nadi cerita film tak selalu mudah. Semakin menantang jika semuanya mesti diwujudkan sebagai biopik. Di Indonesia beberapa mencoba melakukannya dan hasilnya adalah sebuah klise. Sesungguhnya demi melawan klise yang diperlukan adalah sebuah keberanian. Sebuah upaya kuat untuk bercerita dengan jernih, tak takut masuk ke relung-relung paling kelam hati manusia dan selalu punya visi untuk memperlihatkan kemanusiaan seorang karakter. Di Crazy Heart, Scott melakukannya tak saja dengan brilyan namun ketulusannya terasa di hati penonton.

Dan 16 tahun setelahnya Scott mencoba melakukannya lagi. Masih dengan formula yang sama. Tapi kali ini tantangannya adalah karakter utamanya seorang musisi besar [bukan fiksi seperti di Crazy Heart] yang begitu dihormati hingga hari ini. Scott dengan gagah berani mengadaptasi biografi Bruce Springsteen dan mencoba melihat apakah tangannya masih sedingin seperti kala ia membesut Crazy Heart.

Selain faktor Bruce Springsteen, film Springsteen: Deliver Me From Nowhere juga menarik karena Scott berani memperlihatkan harga mahal yang harus dibayar atas sebuah kesuksesan. Harga mahal itu ternyata bernama depresi.

Meski depresi semakin familiar hari-hari ini, masih banyak orang yang kurang mengerti [dan bisa jadi kurang bersimpati] tentang bagaimana seseorang bisa diserangnya. Bagaimana seseorang yang sepertinya punya masa depan cerah perlahan merasakan awan hitam menggulung di atas kepalanya. Ia mencoba mencari tahu apa penyebabnya, menyusuri jejak-jejaknya sedemikian rupa hanya untuk akhirnya tahu bahwa semuanya bermuara di masa lalu.

Setelah sukses album The River yang jadi album dengan penjualan terlaris, Bruce tak sadar energinya terkuras. Tekanan yang dirasakannya semakin besar. Mungkin saja ia tak pernah menyangkanya, mungkin saja ia hanya mencoba menuangkan isi hatinya lewat lagu dan beresonansi dengan yang dirasakan oleh pendengarnya.

Meski tak menolak sukses selalu ada efek darinya. Scott lantas mengajak kita pelan-pelan melalui adegan-adegan kilas balik yang efektif untuk melihat ada sesuatu yang terjadi di masa lalu Bruce. Hubungan ayah dan ibunya yang tak akur dan sebagai anak ia terjepit di tengahnya. Ayahnya yang meski tak abusive namun selalu mendidiknya dengan keras. Scott menelusuri masa lalu Bruce untuk membuat kita sebagai penonton mengerti bahwa penyebab depresi tak pernah sesederhana yang kita bayangkan.

Depresi membuat Bruce selalu frustrasi dengan prosesnya berkarya. Depresi membuat Bruce ingin menuangkan apa yang selama ini tak bisa disuarakannya melalui musik. Dan hasilnya adalah album Nebraska yang kelam, apa adanya dan memang terdengar depresif. Lalu kita sadar bagi Bruce musik adalah terapi. Musik tak sekedar menjadi cara baginya untuk berdamai dengan dirinya sendiri, namun juga dengan masa lalunya.

Tapi tak mudah menghidangkan depresi secara visual. Meski Jeremy Allen White bersama Jeremy Strong [yang berperan sebagai manajernya] tampil meyakinkan, seringkali kita merasa lelah memahami depresi yang dialami Bruce. Apalagi Scott banyak sekali memanfaatkan momen-momen hening penuh perenungan yang mungkin membuat penonton hari ini tak cukup sabar.

Scott Cooper. Bruce Springsteen. Jeremy Allen White. Jeremy Strong. Musik. Kesuksesan. Depresi. Di atas kertas semua faktor di atas akan bisa berpadu sempurna menjadi film yang cemerlang. Tapi kita tahu film juga punya cara magisnya untuk merekatkan semuanya menjadi sebuah karya yang tak sekedar indah namun juga membuat kita sadar akan keterbatasan kita sebagai manusia

Video Terkait: