Home FILM Ketika Film Bergantung Sepenuhnya Pada Kekuatan Skenario

Ketika Film Bergantung Sepenuhnya Pada Kekuatan Skenario

Film Crime 101 [2026]

48
0
SHARE
Ketika Film Bergantung Sepenuhnya Pada Kekuatan Skenario

Tahun 1995. Michael Mann merilis film Heat dan dunia tersadar betapa film aksi juga bisa tak sekedar dar-der-dor berkat kekuatan skenario.

Di tangan Michael Mann yang juga menulis sendiri skenarionya, Heat menjadi sebuah contoh bagus bagaimana film aksi bisa didorong kualitasnya ke tak sekedar film hiburan thok. Heat mengasyikkan untuk ditonton karena Michael canggih merakit adegan demi adegan, membungkusnya dalam plot rumit dan keberanian memperlihatkan kedalaman karakter-karakter utamanya.

Dan setelah 30 tahun berlalu, Bart Layton mengikuti jejak Michael Mann. Menariknya karena Bart justru berangkat dari dokumenter yang seringkali bergantung pada hal-hal tak terduga yang terjadi di lapangan. Tapi di Crime 101, Bart membuat segalanya serba terukur dengan skenario sebagai pondasi utamanya. Mungkin adegan-adegan kejar-kejaran super seru atau adegan-adegan kelahi penuh kekerasan tak sebanyak biasanya namun Bart mengkompensasinya dengan film yang penuturannya sabar dan rapi, dengan plot/sub plot penuh kejutan, juga dengan karakter-karakter yang kompleks.

Dengan adegan pembuka super seru dan menegangkan, Crime 101 secara efektif memperkenalkan karakter utamanya. Namanya Davis, dengan postur atletis, wajah ganteng namun memilih jalan hiduonya sebagai pencuri budiman. Hah budiman? Yess, Anda tak salah baca. Davis adalah pencuri penuh kalkulasi, hanya mencuri barang-barang super berharga dengan aturan ketat yang selalu dipegangnya: tak boleh ada seorang pun yang terluka ketika ia menjalankan aksinya.

Crime 101 lantas memperkenalkan kita dengan karakter berikutnya. Seorang polisi detektif bernama Lou. Ia sudah lama memperhatikan aksi Davis yang selalu dilakukannya di sekitar jalan tol 101 di California Selatan.  Lou bisa menghubungkan beberapa kejadian pencurian dengan Davis namun tak mendapat dukungan dari atasannya yang membuatnya terlihat seperti polisi tak berprestasi.

Dan karakter berikutnya seorang agen asuransi barang-barang mewah bernama Sharon. Sebagaimana Lou, Sharon juga merasa kurang diapresiasi di tempat kerjanya. Ia menyangka bisa jadi karena ia perempuan dan sudah berusia 40-an pula.

Dengan cerdik skenario yang ditulis Bart bersama Don Winslow memusatkan semesta cerita ini pada tiga karakter utama sekaligus. Dengan plot berpilin seperti ini toh skenario tak kehilangan fokus sama sekali dari awal hingga film berakhir. Bahkan seperti masih belum cukup, Crime 101 masih dijejali beberapa karakter yang dimainkan aktor-aktris level Oscar.

Maka di Crime 101 kita melihat skenario memberi ruang bagi Chris Hemsworth untuk tak perlu terus menerus tampil tangguh. Ia perlu takut, ia perlu meragu, ia perlu terluka. Dan justru membuat Davis, karakter yang dimainkannya, tak sekedar semakin kompleks namun juga semakin tak mudah ditebak.

Skenario juga memberi ruang-ruang permenungan dalam porsi besar. Soal bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri, bagaimana saling menghargai bisa tercipta di tengah suasana kaotik dan terutama bagaimana kita melihat aksi pencurian tak sesederhana yang kita lihat dengan segala dampak yang ditimbulkannya.

Tapi apakah penonton sudah bisa menerima film aksi yang bertumpu pada skenario asyik? Apakah penonton bisa memberi waktu bagi cerita maupun karakter bertumbuh di tengah aksi? Dan apakah penonton semakin tertarik melihat karakter utama yang tak saja manusiawi namun tersadarkan dengan keterbatasannya sebagai manusia?

Semoga Crime 101 bisa mengikuti jejak Heat dan masih relevan ditonton dan dibicarakan 30 tahun mendatang.

Video Terkait: