Home FILM Sayang Sekali Michael Jackson Diabadikan Dalam Sebuah Biopik Membosankan

Sayang Sekali Michael Jackson Diabadikan Dalam Sebuah Biopik Membosankan

Film Michael [2026]

61
0
SHARE
Sayang Sekali Michael Jackson Diabadikan Dalam Sebuah Biopik Membosankan

25 Juni 2009. Michael Jackson dinyatakan meninggal dunia akibat keracunan propofol akut dan benzodiazepin, yang memicu henti jantung (cardiac arrest). Dokter pribadinya, Conrad Murray, memberikan obat bius kuat tersebut untuk mengatasi insomnia parah, namun dosisnya berlebihan dan dilakukan tanpa peralatan pemantau yang memadai.

Conrad lantas dinyatakan bersalah atas pembunuhan tidak berencana karena kelalaian memberikan obat bius tersebut di luar lingkungan rumah sakit. Kematian mendadak Michael ini terjadi di saat dirinya tengah mempersiapkan konser yang dijaminnya akan menjadi konser terbesar yang pernah dibuat. Sayangnya konser bertajuk This Is It yang rencananya akan diadakan di Los Angeles itu tak pernah terjadi.

Jelang 17 tahun kematiannya, sosok Michael Jackson dibangkitkan kembali oleh sutradara Antoine Fuqua. Sayangnya karena film berjudul Michael ini melibatkan para saudara Michael Jackson sebagai produser eksekutif membuat film ini terlalu berusaha membuat Michael seperti malaikat, bukan sebagai manusia dengan luka, trauma dan rahasia-rahasia yang selama ini disembunyikannya. Pendekatan aman ini justru membuat Michael sebagai sebuah biopik membosankan, alih-alih menyenangkan para penggemar Michael Jackson di seluruh dunia.

Michael juga membosankan karena berusaha dengan tertib dan runut menceritakan bagaimana awal karirnya sejak kecil dan masih menjadi vokalis dari grup keluarga Jackson Five. Diperankan secara luar biasa oleh aktor cilik Juliano Valdi, kita melihat benih-benih kebencian Michael kepada ayahnya yang abusive, Joseph, sejak awal. Joseph menjalankan rumah tangga hingga Jackson Five secara otoriter. Ia tak peduli dengan pendidikan anak-anaknya meskipun ia punya maksud baik agar rantai kemiskinan itu putus di dirinya. Ia tak mau anak-anaknya berakhir seperti dirinya yang bekerja sebagai buruh di pabrik baja. Tapi ia mendidik anak-anaknya dengan cara yang salah yang pada saat itu mungkin dianggap lumrah. Michael sesekali merajuk dan berbalas cambukan yang perih di sekujur tubuhnya. Cambukan itu tak sekedar menghadirkan luka fisik namun juga luka batin yang teramat dalam bagi Michael. Sayangnya memang luka ini tak coba dikorek oleh penulis skenario ketika kelak Michael beranjak dewasa. Sebagaimana biopik pada umumnya maka dramatisasi pun halal dilakukan demi menyajika film yang mengesankan. Bekas luka ini harusnya bisa terlihat pada bagaimana Michael menjalani hari-harinya dalam kesendirian setelah dewasa dan hanya berteman hewan-hewan peliharaannya.

Kelak ketika Michael menjadi dewasa [juga diperankan dengan cemerlang oleh pendatang baru, Jaafar Jackson – anak dari Jermaine Jackson], kita melihat luka itu nyaris tak ada. Cerita seakan mengubur luka itu dan menggantikan dengan silaunya pencapaian demi pencapaian yang diraih Michael. Di tubuh Jaafar, kita melihat seolah Michael Jackson bereinkarnasi. Dengan suaranya yang khas, gerak tubuh yang tak tertandingi dan rasa simpatinya pada anak-anak membuat kita tahu ada yang berbeda dari Michael. Sekali lagi sayangnya skenario tak mencoba berbuat lebih dari sekedar menumpukan harapan pada Jaafar.

Antoine mengajak kita memasuki teritori yang sesungguhnya sudah diketahui banyak orang. Mulai dari bagaimana Michael melihat dirinya sebagai seniman dengan talenta luar biasa, dengan ambisinya ingin menjadi yang terbaik, dengan keseriusannya mengubah seni sebagai pelariannya dan bagaimana ia terus melahirkan karya demi karya yang fenomenal. Tak ada hal baru yang disajikan Antoine di sana. Saking bagusnya akting Jaafar, saya seringkali merasa Michael seperti film dokumenter yang tersaji apa adanya. Ini pujian bagi Jaafar namun celaan bagi Antoine. Karena penggemar Michael Jackson di seluruh dunia tak sekedar ingin melihat bagaimana proses penciptaan karyanya yang super populer seperti Beat It atau bagaimana Michael mengimajinasikan lagunya Thriller dalam sebuah film pendek yang tak sekedar fenomenal namun sampai hari ini sangat ikonik.

Dan saya pun menyayangkan keputusan produser film ini untuk membelah filmnya menjadi 2 bagian. Sehingga bagian pertama yang kita saksikan terasa terlalu berpanjang-panjang, menyajikan nyaris 1 lagu full dan membuat kita melihatnya seperti konser dan bukan sebagai film. Tak bisakah membuat film menjadi 2 bagian yang bisa berdiri utuh dengan kepadatan dan ritme cerita yang terjaga? Tak bisakah membuat film menjadi 2 bagian yang tetap punya konklusinya masing-masing di penghujung film?

Sayang sekali jika kualitas film yang tak maksimal ini membuat penampilan cemerlang Jaafar Jackson tak dilihat oleh ajang penghargaan. Buat saya apa yang dilakukan Jaafar di film ini melebihi apa yang dilakukan Rami Malek di Bohemian Rhapsody [yang membuatnya beroleh piala Oscar] dan Taron Egerton di Rocketman [yang membuatnya beroleh nominee Golden Globe]. Meski kecewa dengan kualitas filmnya yang disajikan secara membosankan, kita tetap perlu memberi aplaus panjang untuk Jaafar yang rasanya akan punya masa depan cerah di industri film.

 

MICHAEL

Produser: John Branca, Graham King, John McClain

Sutradara: Antoine Fuqua

Penulis Skenario: John Logan

Pemain: Jaafar Jackson, Colman Domingo, Nia Long

Video Terkait: