Home FILM Akankah Wregas Bhanuteja Mengikuti Jejak Garin Nugroho?

Akankah Wregas Bhanuteja Mengikuti Jejak Garin Nugroho?

Film Para Perasuk [2026]

52
0
SHARE
Akankah Wregas Bhanuteja Mengikuti Jejak Garin Nugroho?

Tahun 1991. Festival Film Indonesia merayakan seorang sineas baru. Namanya Garin Nugroho. Film panjang perdananya berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti dianggap menjadi salah satu cikal bakal pengucapan baru generasi pembuat film Indonesia kontemporer. Film tersebut juga membawa pulang Piala Citra sebagai Film Terbaik.

Dan setelahnya kita melihat Garin banyak menautkan unsur budaya yang kental dalam sejumlah filmnya. Misalnya dalam Opera Jawa [2006], Garin memasukkan seni rupa, tari hingga instalasi ke dalam filmnya. Dalam Kucumbu Tubuh Indahku [2018], Garin memotret karakter utama filmnya sebagai penari Lengger Lanang.

Tiga puluh tahun setelah kemenangan perdana Garin di Festival Film Indonesia, nama Wregas Bhanuteja mencuat setelah film panjang pertamanya, Penyalin Cahaya, memborong 12 piala Citra sekaligus di Festival Film Indonesia. Dan di film panjang ketiganya berjudul Para Perasuk, Wregas lebih berani bereksperimen. Kali ini ia memotret tradisi sambetan yang dikenal luas di Kebumen, Jawa Tengah, dengan imajinasinya yang liar dan luar biasa menarik. Membandingkan rekam jejak Garin, akankah Wregas akan mengikuti jejaknya yang belum tertandingi hingga hari ini?

Meski Islam menjadi agama mayoritas di sebagian besar pulau Jawa, berkat pendekatan Wali Songo sebagai penyebar Islam pertama di sana yang ramah terhadap akar budaya sebelumnya, membuat sejumlah tradisi tetap terpelihara hingga hari ini. Meski berakar pada tradisi sambetan, Wregas membuat pesta sambetan kreasinya lebih liar, jauh lebih menarik dan menjadi pintu masuk baginya untuk bercerita dari hal se-personal penyucian diri, trauma dan memaafkan diri sendiri hingga hal besar soal bagaimana penolakan masyarakat adat terhadap modernisasi yang berpotensi merusak bumi.

Para Perasuk memusatkan dirinya pada Bayu yang berupaya sekuat tenaga ingin mejadi perasuk, salah satu profesi yang semakin terkubur di era modern. Bayu pernah hidup di Jakarta, dengan bapak yang tak bisa bertanggung jawab atasnya dan membuat hidup mereka sengsara dikejar penagih utang, dipenjara hingga cuma bisa makan dua hari sekali. Bayu menemukan ketenangan batinnya dalam sebuah sanggar yang mendedikasikan dirinya pada upaya untuk memberi sebuah saluran pelarian bagi warga dari kehidupan yang mendesak. Ketika tradisi pesta sambetan dilakukan, mereka bisa dirasuki roh apa saja dan meski sejenak mereka bisa melupakan kepenatan hidup. Bagi Laksmi, kerasukan adalah wadah baginya untuk melarikan diri dari trauma. Ia meninggalkan Jakarta untuk mencari ketenangan itu dan didapatkannya ketika dirasuki roh apa saja dari bulus, kerbau hingga lintah.

Meski tadinya hanya semata sebagai kesenangan sesaat, pesta sambetan ternyata bisa menjadi sebuah bentuk perlawanan terhadap modernitas. Kala sebuah perusahaan ingin menguasai mata air di desa dan dikhawatirkan akan membuat sawah-sawah mengering, maka para perasuk yang dipimpin Guru Asri pun pasang badan. Mereka mencari jalan keluar yang damai. Mereka ingin warga bertahan. Mereka ingin mata air tetap terjaga. Dan melebihi semuanya, mereka ingin menjaga bumi dari segala kerusakan.

Sepintas cerita yang tertulis di atas normal adanya. Namun di tangan Wregas, ia membiarkan imajinasinya bergerak liar bebas dan seringkali tak terkendali. Ia mengeksekusi gambar-gambarnya seperti seorang anak yang membiarkan tangannya bergerak bebas mengukir kanvas dengan gambar apapun yang terpikirkan olehnya. Dibantu oleh desain suara yang terasa sangat teliti dan music score yang juga terdengar aneh di telinga namun terasa menyatu betul dengan gambar membuat Para Perasuk menjadi lebih dari sekedar film. Ia berubah menjadi sebuah pengalaman memasuki alam pikiran Wregas yang tak takut bereksperimen. Ia berubah menjadi sebuah pengalaman yang menantang alam kesadaran kita melihat imajinasi dari perspektif yang berbeda. Susah rasanya melihat film seperti ini bisa dibuat sekali dalam 10 tahun dalam sebuah industri yang masih sangat mengagungkan pencapaian jumlah penonton melebihi segalanya.

Di tangan Wregas, aktor-aktor sekomersial Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan hingga Bryan Domani terlihat sangat nyaman dengan pengalaman ketubuhannya. Terutama Angga yang terasa semakin matang dengan tak sekedar akting namun juga dalam proses menjadi. Angga menjadi bulus [saya baru tahu bulus adalah sejenis hewan kura-kura air tawar dari film ini], ia juga menjadi lintah [menyedot darah dari sapi, ayam hingga manusia] dan ia total menjadi seseorang yang terasa ingin betul mencapai puncak ketenangan batinnya dengan menjadi perasuk.

Setelah Garin Nugroho rasanya lama betul kita menunggu seorang sutradara lahir dan secara konsisten memadukan tradisi dalam sejumlah filmnya. Saya tak tahu apakah Wregas akan menjadi hal ini sebagai sebuah kebiasaan. Tapi saya berharap ia akan terus melakukannya dan meneruskan jejak yang sudah diukir Garin sebelumnya. Di tengah industri yang seakan tak berani melahirkan perintis bercerita, upaya yang dilakukan Wregas di Para Perasuk rasanya perlu diberi apresiasi tinggi.

 

PARA PERASUK

Produser: Amalia Fitriani, Amalia Rusdi, Siera Tamihardja, Iman Usman

Sutradara: Wregas Bhanuteja

Penulis Skenario: Alicia Angelina, Wregas Bhanuteja, Defi Mahendra

Pemain: Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun

Video Terkait: