Tahun 2016. Angela Duckworth pertama kali merilis buku berjudul Grit dalam bahasa Inggris. Dalam buku yang kelak laris luar biasa dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama di tahun 2018, kita belajar banyak hal berharga.
Grit membahas soal pentingnya ketabahan [grit] yang merupakan kombinasi antara hasrat [passion] dan kegigihan [perseverance] untuk mencapai kesuksesan jangka panjang melebihi sekedar bakat atau IQ.
Patricia Cornwell bisa jadi tak pernah membaca buku itu. Tapi ia sudah menerapkannya sejak karakter rekaannya, dokter Kay Scarpetta, muncul di novel berjudul Postmortem yang terbit di tahun 1990. Ketika lantas novel tersebut laris dan dilirik untuk diadaptasi jadi film, tak terhitung berapa banyak meeting yang dilakukan, berapa banyak waktu yang terbuang dan begitu banyak aktris yang konon tertarik memerankannya. Sebutlah diantaranya Susan Sarandon, Jodie Foster hingga Demi Moore. Ketabahan berusia 36 tahun itu akhirnya terbayar. Tahun ini kita melihatnya mewujud dalam tubuh Nicole Kidman di serial 8 episode berjudul Scarpetta yang tayang di Prime Video.
Kekuatan cerita dan karakter Scarpetta lahir dari latar belakang Patricia sebagai jurnalis yang bergelut menangani peristiwa kriminal. Latar belakang itu ditambah dengan ketelitian Patricia melakukan riset membuat serial ini terasa betul lahir dari orang yang pernah berada di dunia itu selama bertahun-tahun. Kita melihat bagaimana pembunuhan mengerikan terjadi di depan mata, membayangkan apa yang melatarbelakanginya dan memahami bagaimana rasanya menjadi dokter Kay Scarpetta yang terus dihantui peristiwa pembunuhan tertentu selama puluhan tahun.
Dituturkan selang-seling antara tahun 1998 dan tahun sekarang, kita melihat bagaimana Kay bertumbuh di tengah peristiwa pembunuhan mengerikan. Bayangkan rasanya menjadi seorang dokter forensik menangani pembunuhan beberapa perempuan yang dilakukan dengan penuh perhitungan dan dengan darah dingin. Di tengah lingkungan yang didominasi laki-laki, Kay berusaha untuk menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Tak ada ruang untuk melakukan kesalahan. Banyak orang menginginkannya lalai sekali saja namun Kay menolak untuk dijadikan kambing hitam.
Padahal hidup Kay tak melulu berpusat menganalisa mayat. Ia juga punya Lucy yang dititipkan oleh kakaknya, Dorothy, kepadanya. Lucy tumbuh sebagai seorang remaja dengan keterampilan mengolah data komputer di atas rata-rata. Kedua perempuan yang tampak sama-sama kesepian itu pada akhirnya saling bergantung satu sama lain dalam waktu lama.
Serial ini menarik karena selain memperlihatkan peristiwa pembunuhan yang tak saja mengerikan namun juga kaotik juga mengedepankan kisah keluarga disfungsional dengan tiga perempuan berada pada pusat semesta cerita. Semakin menarik karena sosok tiga perempuan ini diperankan aktris kaliber Oscar. Selain Nicole Kidman, ada Ariana DeBose yang menjadi Lucy dan Jamie Lee Curtis yang menjadi Dorothy.
Dengan dua plot utama yang berjalan beriringan dari sudut pandang karir dan keluarga Kay, juga dengan skema penceritaan bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, skenario berusaha betul membangunnya dengan cermat, memberi ruang bagi eksplorasi karakter yang lebih dalam dan menghormati kita sebagai penonton dengan memperlihatkan proses yang dilakukan hati-hati untuk menyingkap sosok pelaku pembunuh berantai. Variety memuji “excellent storytelling” dari serial ini. Sementara National Public Radio [NPR] memuji serial ini sebagai “a captivating murder mystery and a high-wire balancing act”.
Akhirnya kita tahu ketabahan Patricia tak sia-sia. Penantian selama 36 tahun itu berbuah manis. Dan tentu saja kita berharap akan bisa kembali menyaksikan aksi dokter Kay Scarpetta di tahun-tahun mendatang.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY