Home FILM Seorang Aktor Telah Lahir: Ardit Erwandha

Seorang Aktor Telah Lahir: Ardit Erwandha

Film Tunggu Aku Sukses Nanti [2026]

66
0
SHARE
Seorang Aktor Telah Lahir: Ardit Erwandha

Tahun 534 SM. Thespis berdialog dengan paduan suara [chorus] di drama Yunani kuno. Dan istilah aktor pun lahir karenanya.

Istilah aktor yang diserap dari bahasa Inggris sesungguhnya berasal dari bahasa Latin: agere [artinya “melakukan” atau “menyebabkan sesuatu bergerak maju”]. Setelah film Indonesia pertama berjudul Loetoeng Kasaroeng dirilis tahun 1926, istilah aktor bergeser dari panggung ke depan kamera. Mereka yang menyandang predikat aktor adalah mereka yang berakting di depan kamera.

Tapi pergeseran makna terus terjadi. Saya, sebagaimana Martin Scorsese, meyakini bahwa seorang aktor dan seorang bintang film adalah dua hal yang berbeda. Seorang aktor berusaha betul agar peran yang dimainkannya terasa otentik sementara seorang bintang film bergantung penuh pada persona dan karismanya. Meminjam ujaran Martin, “movie stars don’t like to alienate their audience whereas actors just don’t care.”

Setelah mulai menjadi sutradara di tahun 2019 dan berinteraksi langsung dengan beberapa aktor juga bintang film, saya semakin meyakini bahwa keaktoran di Indonesia itu sesungguhnya sebuah hal yang masih jarang adanya. Seringkali kita melihat bintang film yang hanya berganti baju dari satu peran ke peran lainnya tanpa berusaha mengubah gestur, intonasi suara dll yang membuat kita bisa membedakannya.

Sebelum Tunggu Aku Sukses Nanti, saya cenderung tak memperhatikan Ardit Erwandha. Padahal ia sudah tampil dalam puluhan judul/serial, sebagian diantaranya mendulang jutaan penonton. Bisa jadi perannya tak memungkinkannya terlihat lebih menonjol. Tapi saya selalu mengira bahwa pengalaman selama tahunan akan menjadi sumber belajar bagi seseorang yang ingin menjadi aktor. Bisa jadi mereka hanya perlu sebuah kesempatan untuk menampilkan apa yang dipelajarinya selama ini.

Dan di tangan Naya Anindita sebagai sutradara, Ardit memoles dirinya menjadi seorang aktor. Ia menghilang ke dalam sosok laki-laki yang diremehkan bernama Arga. Lahir sebagai anak sulung di tengah keluarga sederhana, dihimpit tante, oom dan sepupu yang sukses yang terus menerus berada dalam tekanan. Sebagaimana jutaan orang lainnya di negeri ini, bisa jadi momen Lebaran justru menjadi momen paling dihindari. Dengan cerdik dan efektif Naya membuka film dengan menampilkan Arga di setiap momen Lebaran dari tahun ke tahun. Bagaimana ia terus ditekan oleh Tante Yuli sejak kecil, bagaimana ayah dan ibunya diperlakukan seperti pembantu di rumah mereka sendiri dan bagaimana ia merasa harga dirinya terus tergerus setiap momen Lebaran tiba.

Hingga Arga bertekad bahwa ia akan membuktikan kesuksesannya. Sebuah motivasi yang tak sepenuhnya benar sesungguhnya namun membuat Arga sukses menjadi agen properti yang dipercaya banyak klien. Tapi di saat kesuksesan mulai digenggamnya, hubungannya dengan kekasihnya, Andin, justru berantakan. Seperti masih belum cukup, hubungannya dengan kedua sahabatnya juga amburadul. Rupanya harga kesuksesan itu terlalu mahal jika dibandingkan dengan uang yang diperoleh Arga selama ini. Uang yang bisa digunakannya untuk membiayai skripsi adiknya, menyewa ruko tempat ayah ibunya berjualan mi ayam dan bisa membayar utangnya kepada kedua sahabatnya.

Apa yang disajikan film ini sesungguhnya adalah realita yang terjadi di banyak keluarga Indonesia hari-hari ini. Bahwa pencapaian selalu diukur dengan sesuatu yang sifatnya materi. Bahwa kesuksesan tak ada batasnya dan akhirnya kita terus terengah mengejarnya. Ardit yang diberi tanggung jawab besar menggerakkan cerita ini menunaikan tugasnya dengan baik. Personanya sebagai stand-up comedian sepeti berusaha disingkirkannya sejenak untuk memberi kesempatan pada dirinya sebagai aktor untuk maju.

Dan tentu saja menyenangkan bagi pembuat film seperti saya jika kita punya alternatif aktor utama segenerasinya. Dan setelah Angga Yunanda dan Chicco Kurniawan, kini kita punya Ardit Erwandha.

Video Terkait: