Home FILM Teror Yang [Seharusnya] Menyegarkan dari Sulawesi

Teror Yang [Seharusnya] Menyegarkan dari Sulawesi

Film Songko [2026]

46
0
SHARE
Teror Yang [Seharusnya] Menyegarkan dari Sulawesi

Tahun 2022 adalah tahun istimewa bagi film horor Indonesia.

Di tahun itu KKN di Desa Penari menjadi film Indonesia pertama yang menjebol penjualan tiket hingga 10 juta lembar. Dan di tahun yang sama ada film Qodrat dan Inang yang menyajikan kesegaran baru dan membuat kita optimis bahwa film horor Indonesia akan semakin inventif.

Tapi 4 tahun setelahnya harapan itu tak terjadi. Film horor jalan di tempat. Hanya sekedar mengulang-ulang formula, mengulang-ulang setan yang sama, mengulang-ulang cara mengagetkan yang sama, bahkan menggunakan banyak pemain yang sama sehingga susah membedakan antara satu sama lain. Hingga film Songko diumumkan.

Sebagai orang dari Sulawesi, tentu saja saya menantikan betul jadwal tayang film Songko. Saya mencari tahu banyak hal tentang film tersebut yang jarang sekali saya lakukan untuk film lainnya. Dan tahu lah saya bahwa film tersebut dikerjakan oleh alumni program studi film dari Universitas Multimedia Nusantara [UMN]. Sebagai mantan dosen yang pernah mengajar di sekolah film sejenis, saya punya harapan besar terhadap generasi terbaru perfilman Indonesia tersebut. Ekspektasi saya pun membubung tinggi, harapan saya melesat jauh hingga saya dihadapkan pada kenyataan pahit: film Songko masih mengulang kesalahan yang sama yang banyak dilakukan oleh sineas yang tak mengenyam pendidikan formal di bidang film.

Sejak film dibuka dengan narasi yang sama sekali tak menjelaskan asal muasal Songko, saya sudah tak terkesan sama sekali. Ditambah lagi dengan penorehan nama kota dan tahun yang spesifik: Tomohon 1986. Saya mencari jejak-jejak Tomohon di tahun 1986 di film Songko yang nyaris tak saya temukan sama sekali. Pertanyaan terbesar yang lantas muncul di kepala saya adalah mengapa bersusah payah menyematkan nama kota dan tahun tersebut juga tak dipergunakan sebagaimana mestinya? Toh jika terjadi di kota manapun di Sulawesi Utara dan di tahun berapa pun sama sekali tak mengganggu alur cerita.

Sebagaimana kebiasaan saya ketika menonton film, saya selalu mencari tahu siapa sebenarnya karakter utama, apa yang diinginkannya dan apa saja hambatan demi hambatan yang harus dilaluinya demi mendapatkan keinginannya itu. Sebagai mantan dosen, saya kecewa betul karena sama sekali tak menemukan apa yang saya cari tersebut dalam film ini. Hampir semua film yang diproduksi dalam ranah komersial menggunakan formula itu yang sudah teruji. Karena premis akan menjadi cikal bakal lahirnya cerita yang fokus. Dan di Songko semuanya kabur sejak awal.

Tiba-tiba saja kita melihat seseorang menuduh Helsye, istri Ekel Luther, sebagai pelaku Songko di dalam gereja pula. Tak ada introduksi yang lebih baik untuk memperkenalkan mereka ke dalam semesta cerita ini. Tiba-tiba saja kita dikurung dalam sebuah situasi yang [maunya] meneror namun karena sebab-akibat-nya tak dipedulikan oleh penulis skenarionya membuat kita pun tak menghiraukannya.

Kita lantas berkenalan dengan anggota keluarga lainnya, Mikha dan Lina. Keduanya anak bawaan dari Ekel dan Helsye. Karena dituduh sebagai pelaku Songko membuat Ekel memutuskan mengasingkan keluarganya selama 1 bulan. Tak jelas pula alasan pemilihan waktu ini untuk apa kepentingannya dalam cerita.

Lantas masuk begitu saja dua karakter baru yang juga kita tak tahu siapa dan apa kaitannya dengan keluarga Ekel. Dengan alasan yang terlalu dibuat-buat, Mintje dan William menginap di rumah keluarga Ekel hanya untuk membuat Mintje [maunya] diteror oleh Songko. Dan cerita terus menerus berputar tak tentu arah tentang bagaimana tiba-tiba dua karakter lain datang begitu saja untuk mencari tahu siapa pelaku Songko. Segala ketiba-tibaan ini begitu memusingkan kepala karena tak saja menghina [logika] penonton namun juga dihasilkan oleh penulis skenario yang malas. Skenario film ini terasa sangat mentah, sementah draft 1 yang harusnya memang dibabat habis-habisan untuk terus menerus disempurnakan sebelum syuting.

Kemalasan penulis skenario tidak saja berkutat pada soal riset namun juga bagaimana ia tak menguji dialog-dialog yang ditulisnya terlebih dahulu untuk diucapkan oleh para pemeran. Bayangkan frasa “oleh karena” hingga “bahkan” yang sesungguhnya bahasa tulisan, bukan bahasa tutur, bertaburan sepanjang film. Dialog-dialog itu terasa kaku diucapkan meskipun oleh aktor kaliber sekalipun. Dan saya kok juga merasa dialog-dialog dalam skenario ini awalnya ditulis dalam dialek Jakarta yang lantas dibumbui dengan dialek Manado. Padahal seharusnya dialog itu bisa disesuaikan dengan apa yang biasa dibicarakan oleh penutur asli.

Saya kecewa betul karena berharap bisa menyaksikan teror yang menyegarkan dari Sulawesi. Saya sudah bosan setengah mati dengan hantu dan setan dari Jawa. Tapi ketika Songko hadir, saya tak melihat aspek pembedanya dibanding dengan hantu dan setan dari Jawa. Mungkin saya terlalu berharap banyak, mungkin pula ekspektasi saya ketinggian. Sayang sekali.

 

SONGKO

Produser: Hans Andreas, Avandrio Yusuf

Sutradara: Gerald Mamahit

Penulis Skenario: Gerald Mamahit

Pemain: Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany

Video Terkait: