Tahun 2006. Saya berkenalan pertama kali dengan Anne Hathaway dari film The Devil Wears Prada. Sebuah perkenalan yang sebetulnya terlambat karena Anne sudah merilis beberapa film yang membuatnya populer. Tapi baru di The Devil Wears Prada, saya seperti melihat seorang bintang baru telah lahir.
Sebagai Andrea alias Andy, Anne tampil pas. Ia tampak seperti seseorang yang baru lulus kuliah, bermimpi berkarir sebagai jurnalis di majalah-majalah terkemuka hingga akhirnya berlabuh sebagai asisten pemimpin redaksi dari majalah yang menjadi kiblat—nya dunia fesyen, Runway.
Ada sesuatu dari diri Anne yang membuat saya menyukainya. Ketika saya akhirnya terjun sebagai produser film, saya tahu sesuatu itu lumrah disebut sebagai “loveable”. Dalam The Intern yang dirilis beberapa tahun setelahnya, saya merasa semakin menyukai Anne.
Tapi saya melihat sisi Anne yang sama sekali berbeda saat menyaksikan Mother Mary. Tak ada lagi senyum lebarnya yang hangat yang seringkali mengingatkan saya pada Julia Roberts. Kita melihat Anne yang menjadi Mary dengan segala permasalahan yang lama dipendamnya dan menunggu untuk meledak.
Dalam Mother Mary, Anne bertransformasi menjadi Mary, penyanyi terkenal dengan aksi-aksi panggung spektakuler dan seringkali diasosiasikan dengan sesuatu berbau spiritual. Tapi saat kamu berada di puncak karir, di puncak gunung tertinggi, kamu akan merasakan banyak hal. Tiba-tiba saja kamu harus berhadapan dengan masa lalu yang jauh, dengan luka-luka yang sesungguhnya tak pernah sembuh, yang membuatmu hampir gila. Kamu merasakan identitasmu hilang, tersedot oleh popularitasmu sendiri. Kamu perlahan akan merasakan dirimu hilang tertutup oleh persona yang secara konstan kamu hadirkan di depan publik. Kamu tak bisa lagi membedakan mana yang nyata mana ilusi, mana kekal mana fana, mana persepsi mana halusinasi.
Mary merasa ia butuh gaun yang baru. Di sini sutradara David Lowery memperlihatkan kejeniusannya. Gaun itu sesungguhnya adalah metafora. Mary butuh untuk merasa dirinya kembali, merebut kembali dirinya dari masyarakat. Dan hanya Sam, sahabatnya dari masa lalu yang jauh, yang menurutnya bisa membuatkannya untuknya.
Tapi ini memang bukan sekedar perkara membuat gaun baru. Ini adalah soal membongkar kembali tubuh yang kelak akan mengenakan gaun baru itu. Maka David meminta kita memasuki ruang-ruang yang kadang terasa sempit, personal dan seringkali menyakitkan. Mary bersama Sam harus bertualang ke masa lalu yang jauh, mencari apa yang hilang di sana, membongkar kembali perjalanan yang mereka alami agar gaun baru itu kelak cocok di tubuh Mary yang baru.
Dengan nuansa kelam dan eklektik semacam ini, cerita ini butuh seorang aktor tangguh yang bisa menggunakan seluruh tubuhnya untuk menyampaikan pesan. Jika biasanya seorang aktor hanya menggunakan wajah dan suaranya, di sini sebagai Mary, Anne harus bisa menggunakan semuanya. Dan kita melihat bagaimana tubuhnya yang lentur, menggeliat, terluka dalam. Kita melihat tubuh yang mengalami trauma dan mencari jalan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Anne sudah melampaui apa yang kita sebut akting, ia membuang seluruh dirinya dan menjadi Mary yang baru. Bisa jadi inilah penampilan paling cemerlang dari Anne sekaligus penampilan paling “mentah” yang pernah diperlihatkannya.
Dan dalam penampilan paling “mentah” itu kita melihat kejujuran. Dalam penampilan paling “mentah” itu kita merasakan pergulatan dengan luka. Dan dalam penampilan paling “mentah” itu kita melihat kemanusiawian.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY