Home FILM Sebuah Keberanian Dari Kristen Stewart Sebagai Sutradara

Sebuah Keberanian Dari Kristen Stewart Sebagai Sutradara

Film The Chronology of Water [2026] - Tayang di KlikFilm

86
0
SHARE
Sebuah Keberanian Dari Kristen Stewart Sebagai Sutradara

Tahun 2008. Pertama kalinya saya berkenalan dengan Kristen Stewart. Melalui perannya sebagai Bella Swan dalam film Twilight, Kristen bertransformasi menjadi salah satu aktris muda paling menjanjikan.

Dan setelah sukses fenomenal 5 jilid Twilight, kita melihat Kristen mulai mengambil peran-peran yang lebih berisiko. Ia tak takut terlibat dalam film indie berbiaya rendah, ia juga terus mengeksplorasi dirinya sebagai seorang aktris hebat. Bisa jadi puncaknya saat ia memerankan Putri Diana dalam film berjudul Spencer yang membuatnya beroleh nomine Oscar pertamanya.

Tapi saya tak pernah menduga Kristen membelokkan karirnya untuk menjadi sutradara. Saya juga tak menduga ia akan memilih materi yang terbilang berat untuk karya perdananya sebagai sutradara film panjang. Memoar dari seorang perenang dengan salah satu kisah hidup paling mengenaskan bernama Lidia Yuknavitch.

Lidia, seorang penulis Amerika berasal dari Oregon, dengan masa kecil/remaja yang abusif, dengan seorang ayah yang buas dan sebuah rumah yang selalu membuatnya memilih untuk tak bersuara. Membaca memoar yang diterbitkan tahun 2011 itu membuat kita menelusuri potongan-potongan memori, yang seringkali terasa acak, namun melihatnya dalam sebuah perspektif besar terasa disusun secara kronologis.

Dengan pendekatan non linear yang berani, Kristen membuka pintu untuk kita memasuki hidup Lidia [diperankan dengan brilian oleh Imogen Potts]. Kita melihat Lidia menggunakan renang sebagai caranya melarikan diri dari hidup yang mengungkung. Dalam air ia merasakan kebebasan. Dalam air ia menghirup kebebasan. Dalam air Lidia menjadi kebebasan itu sendiri.

Tapi tak mudah menjadi seorang gadis remaja dalam lingkungan yang toksik. Dalam jangka waktu lama pengalaman itu akan menghantui. Ia akan masuk menjelajah ke dalam tubuh dan pikiran. Ia merasuk ke dalam jiwa dan semangat dan membuat kita merasa kehilangan kendali akan hidup.

Lidia akhirnya menemukan medium membebaskan lainnya selain renang. Ia menemukan menulis sebagai caranya untuk berdamai dengan masa lalu, menulis juga menjadi caranya untuk kembali mengunjungi potongan-potongan kenangannya yang pernah ingin ia kubur dalam-dalam. Lidia menulis pengalamannya sebagai anti-memoar yang membuat kita melakukan perenungan dan melihat kembali apa saja yang pernah terjadi dalam hidup kita.

Sebagai khittah-nya sebagai anti-memoar, Kristen pun mengemas filmnya seakan sebuah anti-biopik. Ia menolak membuat film biopik secara tradisional dengan menggunakan struktur tiga babak. Walau di beberapa bagian terasa seperti dibuat oleh mahasiswa film namun kita perlu memuji keberanian Kristen. Ia memilih pendekatan naratif selayaknya prosa yang di awal film minim dialog bagi para tokohnya namun dilontarkan melalui narasi Lidia. Kristen membuat kita lebih peduli pada Lidia dan apa yang dialaminya daripada sekedar menjahit adegan demi adegan yang membuat film terasa lebih mengalir.

Kristen bekerjasama intens dengan penyunting gambar, penata suara dan penata musik untuk membuat film punya ritmenya sendiri yang disesuaikan dengan lapisan-lapisan emosi yang dirasakan Lidia. Ia menggunakan tiga elemen di atas secara maksimal untuk membuat The Chronology of Water terasa sebagai “collective female embodied experience,", focusing on the sensory and emotional journey of the writer rather than just biographical facts.”

Pendekatan non tradisional Kristen tentu saja punya risikonya sendiri. Film ini akan sulit dikunyah oleh mereka yang tak terbiasa dengan pendekatan eksperimental. Tapi saya percaya keberanian ini juga akan menemukan penontonnya tersendiri. Jenis penonton yang lebih terbuka melihat, mendengar, merasa dan pada akhirnya berempati meski dengan cara yang sama sekali berbeda.

Video Terkait: