Home FILM Melihat Dari Dekat Bagaimana Kristoffer Borgli Memproses Karyanya

Melihat Dari Dekat Bagaimana Kristoffer Borgli Memproses Karyanya

Film The Drama [2026]

22
0
SHARE
Melihat Dari Dekat Bagaimana Kristoffer Borgli Memproses Karyanya

Tahun 2024. Pertama kalinya saya duduk di kursi sutradara setelah 9 film panjang/bioskop sebelumnya saya menyandang jabatan produser. Dan kali ini saya memahami betapa besar tanggung jawab seorang sutradara dan betapa berkuasanya sutradara bisa mengobrak-abrik karyanya sendiri.

Sebagaimana sutradara yang pertama kali berurusan dengan film panjang, tentu saja saya membuat banyak kesalahan. Salah satu kesalahan pemula yang saya lakukan adalah tak melibatkan penyunting gambar alias editor sejak pra-produksi film SOLATA dilakukan.

Saya tahu kesalahan ini setelah ditegur oleh editor saya, Waluyo Ichwandiardono. Ini adalah kerjasama ketiga saya dengan beliau namun menjadi kerjasama pertama saya sebagai sutradara. Tapi saya belajar dengan cepat dari kesalahan itu dan mencoba memperbaikinya saat kami berproses bersama di pasca produksi.

Kristoffer Borgli yang lebih muda beberapa tahun dari saya tak melakukan kesalahan itu di The Drama. Sedari awal ia melibatkan editor Joshua Raymond Lee padahal Kristoffer biasanya menyunting filmnya sendiri. Dan jadinya menurut saya salah satu kekuatan The Drama adalah bagaimana penyuntingan bekerja sangat efektif. Dan bagaimana ia menyusun kepingan demi kepingan cerita menjadi sebuah film yang terasa baru, terasa segar dan menarik, dan punya daya ledaknya sendiri.

Meski tak pernah mengenyam pendidikan film secara formal, saya tahu cerita/skenario film sesungguhnya ditulis tiga kali. Saat masih berupa tulisan/skenario di par-produksi, saat produksi/syuting berlangsung dan saat editing/penyuntingan gambar dilakukan. Seperti sebagian sutradara, saya pun melakukannya di SOLATA. Saya dan Mas Dono [panggilan akrab Waluyo] menyusun ulang struktur film setelah melakukan forum group discussion [FGD] berkali-kali, membuang 14 menit durasi awal demi membuat ritme film yang lebih pas. Tapi Kristoffer melakukan lebih dari itu di The Drama. Ia merekonstruksi ulang semua adegan yang sudah diambilnya saat syuting, betul-betul berani melakukan fast-cut yang dirasa perlu dan menaruh sejumlah kepingan di tempat-tempat tak terduga.

Pada awalnya The Drama terkesan seperti drama/komedi romantik biasa. Charlie jatuh cinta pada pandangan pertama pada Emma di sebuah kedai kopi. Mereka lantas berpacaran dan setelah beberapa lama memutuskan inilah saat yang tepat untuk menikah. Hingga di sebuah acara persiapan pernikahan di mana sahabat mereka berdua, Mike dan Rachel hadir. Sebuah permainan menyeruak di antara alkohol. Apa hal terburuk yang pernah mereka lakukan? Dan jawaban jujur dari Emma menjungkirbalikkan tak saja hidup Charlie namun juga pandangannya terhadap Emma. Dan tentu hubungan persahabatan keduanya dengan Mike dan Rachel juga ikut berantakan.

Dari sini kita lantas melihat The Drama lebih dari sekedar drama/komedi romantis biasa. Ia bicara soal moral, penghakiman, cancel culture, penggunaan senjata dan terutama bagaimana kita mengevaluasi perasaan kita terhadap seseorang. Kristoffer berani mempertanyakan semua itu tanpa tedeng aling-aling. Kita dibuat tertawa melihat Charlie yang selalu tampak canggung dan seringkali khawatir terhadap calon istrinya. Kita dibuat meringis melihat bagaimana penghakiman yang diterima Emma atas sebuah pengakuan yang sebenarnya tak pernah betul-betul dilakukannya. Dan tiba-tiba kita semua seakan manusia tanpa dosa menghakimi Emma sebegitu kejamnya.

Menarik sekali melihat bagaimana Kristoffer menulis karyanya, memvisualkannya lantas mengacak-acaknya di ruang editing untuk menjadi sebuah karya yang terasa tak sekedar lebih berani dan tegas namun juga lebih relevan. Melalui The Drama kita bisa melihat dari dekat bagaimana seorang sutradara berproses dan menyajikan karyanya kepada penonton.

Video Terkait: