Home SERIAL Isu Pelecehan dan Kekerasan Seksual Dalam Selubung Agama

Isu Pelecehan dan Kekerasan Seksual Dalam Selubung Agama

Serial Unchosen [2026] - Tayang di Netflix

32
0
SHARE
Isu Pelecehan dan Kekerasan Seksual Dalam Selubung Agama

Tahun 2016. Tak sengaja saya mendapati sebuah artikel menarik dari Vice tentang sebuah komunitas Kristen yang tertutup dan anti teknologi. Artikel itu memuat wawancara dengan seorang fotografer bernama Cam McLaren.

Komunitas itu bernama Gloriavale yang sudah berdiri sejak tahun 1968 di kawasan pegunungan Selandia Baru. Justru karena ketertutupannya dengan dunia luar membuat Gloriavale seringkali dikaitkan dengan tuduhan pelecehan seksual, penelantaran anak, pernikahan dini hingga pembunuhan. Tapi yang selalu menarik dari komunitas tertutup sejenis adalah betapa mandirinya mereka dan nyaris tak tergantung dari dunia luar. Dalam komunitas mereka yang tertutup, mereka mempraktikkan nilai-nilai yang mereka yakini.

Komunitas Kristen tertutup lainnya yang menyeruak belakangan adalah Fellowship of the Divine. Tapi ini adalah komunitas fiksi yang menjadi latar dari serial Unchosen yang tayang di Netflix. Komunitas ini memiliki banyak kemiripan dengan Gloriavale. Yang menarik dari Unchosen adalah ketika warga komunitas bersinggungan dengan warga dunia luar melalui kejadian luar biasa.

Suatu hari jelang badai, Grace menghilang dari keramaian warga. Sesuatu menuntunnya masuk ke dalam hutan. Ketika hujan mulai turun dan semakin deras, Grace tersungkur masuk ke dalam sebuah danau. Gadis kecil dengan disabilitas pendengaran ini ternyata tak bisa berenang. Untungnya di saat yang tepat, seorang pria asing melihatnya dan serta merta menyelamatkannya.

Unchosen memilih berfokus pada Rosie, ibu Grace, ketimbang Sam, pria asing yang menyelamatkan anaknya. Dari sudut pandang Rosie kita melihat dunia yang berjalan teratur dalam sebuah komunitas tertutup yang saling menjaga satu sama lain. Ketika dunia Rosie dan Sam bersinggungan, kita tahu ada ledakan yang akan terjadi.

Rosie dan suaminya, Adam, berada dalam sebuah pernikahan yang dingin. Bisa jadi karena Rosie hanya bisa memberinya seorang putri sementara ipar Adam bisa memberi 4 orang anak sekaligus. Bisa jadi pernikahan itu perlahan membeku juga karena kasarnya Adam saat berhubungan seks dengan istrinya sendiri.

Dan dalam dinding-dinding tinggi, tertutup, jauh dari manapun, banyak hal bisa terjadi. Sesuatu yang terus menggelisahkan Rosie namun tak bisa diteriakkannya. Seperti saat pendeta terang-terangan melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Sam adalah pemicu bagi Rosie untuk mempertimbangkan ulang apakah dirinya akan terus berada dalam komunitas yang serba mengungkung? Apakah ia akan membiarkan tubuhnya dihisap dan oksigennya dienyahkan perlahan dari dirinya? Tapi Rosie punya anak, ia punya suami yang kini telah dipilih sebagai pemimpin yang baru. Apakah ia berani mempertaruhkan apa yang diyakininya selama puluhan tahun atas sebuah hal bernama kebebasan?

Meski belum secemerlang serial dengan tema serupa, Under the Banner of Heaven [2022], serial sebanyak 6 episode ini tetap menarik diikuti. Skenarionya ditulis dengan rapi, dengan karakter-karakter yang tak saja berhadapan dengan dilema namun terus bertumbuh juga dengan akting menarik dari sejumlah pemainnya. Ritmenya terjaga dengan lekukan-lekukan cerita yang kadang tak terduga dan membuat kita kerap kali bimbang ingin berpihak pada siapa dalam cerita ini.

Tapi memang selalu tragis jika membaca dan mengetahui sebuah komunitas agama yang menggunakan selubungnya justru untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya menodai agama. Maka saya geram ketika membaca ustadz di sebuah pesantren menjadi predator bagi puluhan anak laki-laki selama bertahun-tahun sebagaimana saya gemas melihat betapa permisifnya komunitas yang didiami Rosie atas pelecehan dan kekerasan seksual.

Agama sejatinya untuk melindungi, bukan merusak. Agama seharusnya mengayomi, bukan menghancurkan. Karena yang selalu berlindung di balik selubung agama adalah manusia bejat

Video Terkait: