Tahun 2014. Setelah mengalami pelecehan selama 18 bulan dirinya bekerja, Whitney Wolfe memutuskan enough is enough. Dan ia pun memberanikan diri menuntut Tinder yang turut dibesarkannya.
Dibalik valuasi perusahaan rintisan teknologi senilai miliaran dollar selalu ada pihak yang terluka. Bisa jadi berupa kekasih yang disepelekan, rekanan pendiri yang tak diakui hingga sistem yang memelihara patriarki dengan mengabaikan banyak nilai. Dan kita sudah melihat sejumlah diantaranya divisualkan melalui film/serial, tentu saja dengan dramatisasi yang dirasa perlu. Mulai dari The Social Network [2010], Jobs [2013] dan Steve Jobs [2015], WeCrashed [2022] hingga BlackBerry [2023]. Benang merah sejumlah produk di atas adalah para pelakunya semuanya adalah pria. Kita jarang sekali melihat perempuan berada di tengah medan sebelum pertempuran di tengah publik dimulai. Hingga kita berkenalan dengan Whitney Wolfe.
Jujur saja saya tak pernah mendengar nama Whitney hingga menyaksikan Swiped [2025]. Dan buat saya ini menarik karena akhirnya kita melihat perempuan masuk ke tengah arena yang masih didominasi laki-laki. Whitney datang seperti mercusuar harapan bagi para perempuan yang tengah mencari pijakannya di perusahaan rintisan teknologi. Tapi ketika akhirnya Whitney berada di pusat semesta, akankah ia membantu rekan sesama perempuan untuk juga menemukan jalannya?
Dikerjakan bertiga oleh sutradara Rachel Lee Goldenberg dan dua penulis, Bill Parker dan Kim Caramele, skenario film ini tak serta merta ingin menjadikannya sebagai medium untuk mengglorifikasi girl power. Justru menariknya adalah karena di awal perjuangannya, Whitney justru tampak self-centered dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Posisi strategis yang dijabatnya justru membuatnya lebih banyak menahan diri dan tak bertindak seperlunya ketika tahu ada hal-hal prinsip yang dilanggar di Tinder.
Tinder adalah aplikasi kencan yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012. Nama Tinder justru muncul dari Whitney yang membuat sang CEO, Sean Rad, menariknya menjadi rekan pendiri. Tapi ternyata title rekan pendiri tak pernah benar-benar diseriusi oleh Sean yang pelan-pelan membuatnya merasa tersisihkan. Dan dipuncaki oleh pelecehan yang dilakukan sesama rekan pendiri lainnya, Justin Mateen. Pria yang tampak super simpatik di awal sebelum berubah jadi red flag ini marah besar ketika Whitney memutuskan hubungan cinta mereka. Dan setelahnya Whitney merasa tempat kerja yang sebelumnya sangat dicintainya berubah jadi neraka.
Swiped menawarkan sudut pandang menarik ketika melihat bagaimana seorang perempuan yang bekerja lebih keras dari laki-laki jarang sekali mendapat rekognisi atas kinerjanya. Dan ketika sebuah masalah terjadi, perempuan sering sekali menjadi pihak yang mudah dikorbankan begitu saja. Hingga Whitney bangkit, melawan dan menolak stereotipe itu. Ia tak ingin dikenang sebagai perempuan yang menuntut Tinder karena diskriminasi jender. Whitney tahu ia lebih dari itu.
Dan selebihnya adalah sejarah. Bumble, juga aplikasi kencan, lahir dari luka-luka dan trauma yang dialami Whitney. Kali ini ia ingin perempuan menjadi subyek. Kali ini ia ingin perempuan yang memegang kendali.
Meski tak secemerlang The Social Network yang kini jadi klasik, paling tidak Swiped memberi insight yang selama ini menjadi rahasia dan jarang sekali dibuka lebar di media arus utama. Dari Whitney kita belajar bahwa internet tak seharusnya hanya bisa menjadi medium penyebaran sampah dan pornografi, ia juga bisa menjadi medium penyebar kebaikan. “I don’t believe revenge is part of my agenda. I’m a firm believer that, just like hate spreads hate, love and kindness spread love and kindness.”


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY