Tahun 1936. Palestina di bawah Mandat Inggris mengalami Pemberontakan Arab Besar (1936–1939), sebuah gerakan perlawanan masif penduduk Arab Palestina. Pemberontakan ini dipicu oleh peningkatan imigrasi Yahudi Eropa dan penguasaan tanah oleh Zionis, yang memicu protes, pemogokan umum, dan perlawanan bersenjata terhadap kekuasaan kolonial Inggris.
Tiga tahun sebelumnya Adold Hitler mulai berkuasa di Jerman. Diskriminasi sistemik terhadap bangsa Yahudi sudah mulai terjadi meski belum terjadi pembantaian massal. Namun bangsa Yahudi mulai waspada dan secara berangsur-angsur meninggalkan Jerman, menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Palestina.
Dan setelahnya kita tahu apa yang terjadi. Inggris mencoba melakukan pemusnahan bangsa Palestina di tanahnya sendiri dan Jerman mencoba membasmi bangsa Yahudi di negeri mereka sendiri. Hingga hari ini jejak kekacauan dari 2 negara itu masih terlihat di Palestina. Perang masih berkecamuk, tanah yang seharusnya suci masih terus mengeluarkan darah dan kita terusik. Karena bangsa Palestina hanya ingin mempertahankan apa yang memang seharusnya menjadi milik mereka.
Dalam film Palestine 36 kita melihat dari mana semuanya berawal. Meski tetap ada dramatisasi dan fiksi namun film besutan Annemarie Jacir ini mencoba memperlihatkan apa yang sesungguhnya pernah terjadi 90 tahun lalu. Annemarie juga memasukkan rekaman-rekaman bersejarah ke dalam filmnya sekali lagi untuk sebisa mungkin memperlihatkan otentisitas cerita.
Kita melihat Palestina dalam Palestine 36 dari beragam sudut pandang yang menarik. Keberagaman yang disengaja demi memperlihatkan obyektifitas. Kita bertemu Yusuf yang mencoba mengadu nasib di Yerusalem. Ia membantu Khalid yang tampak sibuk melakukan pendekatan ke pemerintah Inggris. Istri Khalid, Khouloud, adalah jurnalis ternama lulusan Inggris yang bersimpati pada perjuangan bangsanya. Senasib dengan Khouloud ada Thomas yang bekerja pada pemerintah Inggris namun bersimpati pada perjuangan bangsa Palestina.
Di kutub berlawananan kita melihat ada High Commissioner Wauchope yang tampak berusaha netral dalam soal Palestina-Yahudi namun sesungguhnya selalu berat sebelah. Dan tentu saja ada tokoh yang ditakdirkan menjadi antagonis sejati dalam cerita ini yaitu Captain Wingate yang berambut sebahu yang selalu tampak berminyak dan percaya bahwa Palestina adalah tanah suci yang dijanjikan Tuhan untuk bangsa Yahudi.
Penduduk desa Al Basra yang awalnya tampak tenang tiba-tiba terusik. Puluhan orang Yahudi datang begitu saja mematok tanah mereka dan membangun garis-garis demarkasi. Semakin lama jumlahnya semakin banyak dan semakin membuat mereka tersingkir. Tentara Inggris pun terus berdatangan dan mengacak-acak tanah kelahiran mereka, tanah tempat nenek moyang mereka lahir, bertumbuh dan wafat.
Dan teror terus terjadi di sekujur desa. Adik Yusuf yang dianggap membangkang dijebloskan ke penjara. Ayahnya ditembak di depan mata Yusuf. Kita tahu Inggris tak saja ingin merebut tanah mereka dan menyerahkannya ke Yahudi, Inggris ingin memusnahkan bangsa Palestina dari peradaban.
Dalam durasi 119 menit, perut kita terkoyak, jantung kita berdebar dan hati kita teriris melihat betapa Inggris ternyata sama jahatnya dengan Jerman saat membasmi Yahudi. Mungkin Jerman sedikit lebih bermartabat karena mereka melakukannya di tanah mereka sendiri. Kita melihat ketidakadilan itu telah dimulai sejak 90 tahun lalu, terus dirawat dan dilestarikan dan akhirnya menjadi bom waktu hingga hari ini. Kita bersimpati pada keberanian bangsa Palestina yang tak ingin merebut apapun, mereka sekedar ingin mempertahankan apa yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi bangsa Palestina menyaksikan film ini. Tanpa menjadi Palestina, dengan hanya menjadi seorang manusia, saya tahu Inggris harus bertanggung jawab atas nyawa-nyawa yang sudah tak terhitung jumlahnya di medan perang.
Lamat-lamat terdengar puisi dari penyair Palestina, Saleem Al-Naffar, di telinga saya.
Knives must eat
what remains of my ribs,
machine might smash
what remains of stones,
but life is coming,
for that is its way,
creating life even for us

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY