Tahun 1990. Di usianya yang menginjak angka 22 tahun, Cheryl Strayed merasa dunianya jungkir balik. Di tahun itu ibunya meninggal karena kanker yang membuatnya hancur berkeping-keping. Ia lantas terlibat narkoba, menjalani seks bebas, bercerai dan merasa hidupnya tak tentu arah.
Empat tahun setelahnya Cheryl mengambil keputusan yang kelak mengubah hidupnya secara drastis. Ia memutuskan melakukan pendakian solo sejauh lebih dari 1000 mil [sekitar 2540 kilometer] di Pacific Crest Trail. Ia belajar bertahan hidup selama tiga bulan di alam liar. Sebuah perjalanan dan pengalaman yang membuatnya bisa melawan rasa kesepian, ketakutan dan rasa sakit emosional.
Kelak pengalaman fisik/spiritual Cheryl ini dituangkan dalam memoarnya yang lantas laris berjudul Wild. Dan di tahun 2014 film yang diadaptasi dari memoar tersebut beroleh 2 nomine Oscar.
Sosok Cheryl mengingatkan saya pada tokoh fiksi bernama Sasha di film orisinal Netflix berjudul Apex. Bedanya saya nyaris tak punya informasi apapun soal Sasha yang membuat saya bisa bersimpati dengannya. Satu-satunya informasi yang dimunculkan di awal film adalah bagaimana berdukanya ia setelah ditinggal kekasihnya, Tommy, karena kecelakaan saat pendakian di tebing Norwegia.
Sutradara Baltasar Kormakur hanya memberi secuil pengenalan pada karakter utamanya itu. Kita hanya melihat bagaimana Sasha dan Tommy bahu membahu menaklukkan tebing-tebing curam di Norwegia. Bagaimana mereka saling memberi semangat, bagaimana keduanya memperlihatkan rasa sayang satu sama lain. Kita melihat bagaimana Sasha yang keras hati untuk menaklukkan puncak tebing di kondisi cuaca buruk. Bagaimana Tommy yang mulai merasa gundah [mungkin bisa jadi adalah pertanda?] bahwa apa yang mereka lakukan saat ini juga bisa dilakukan kelak di kemudian hari. Dan ketika musibah itu terjadi, kita tak melihat apa yang terjadi pada Sasha. Kita hanya melihat Tommy yang dihempaskan oleh situasi yang tak menguntungkan. Baltasar tak membukakan pintu kepada kita, para penonton, untuk bisa memahami kedukaan yang dialami Sasha.
Maka ketika Sasha menjelajahi hutan Australia, susah sekali kita melihatnya sebagai caranya untuk melalui rasa duka yang dipendamnya. Bisa jadi juga karena kita tak melihat Sasha berinteraksi dengan siapapun. Bisa jadi juga karena kita tak pernah melihat Sasha yang masih menangisi Tommy diam-diam. Sekuat apapun akting dari peraih Oscar, Charlize Theron, yang melakoni Sasha, ia tak dibekali skenario yang cukup detil untuk memberi petunjuk arah bagi penonton.
Dan tiba-tiba saja ritme film berubah. Ia bukan lagi sebagai perjalanan mencari ketenangan batin. Ia berubah menjadi perburuan kucing-tikus yang intens dan minusnya tanpa perkenalan karakter yang cukup. Tiba-tiba kita bertemu dengan Ben yang sekilas tampak baik tapi kita merasa ada sesuatu yang salah dengannya. Tiba-tiba kita melihat Ben ternyata sengaja menjebak Sasha yang tak memahami hutan Australia. Dan tiba-tiba saja Sasha berhadapan dengan seorang pembunuh berdarah dingin.
Karena tak ada introduksi yang cukup, tanpa latar belakang karakter yang jelas, jujur saja membuat saya susah sekali menikmati thriller yang coba ditawarkan Baltasar ini. Sebaik apapun reaksi kimiawi Charlize dan Taron Egerton [sebagai Ben] yang juga brilian, saya tak berdebar-debar menyaksikan perburuan kucing dan tikus ini. Mungkin juga karena selama ini saya selalu melihat Charlize sebagai sosok perempuan kuat gagah perkasa di banyak filmnya. Apalagi secara postur Taron lebih pendek meski juga tegap.
Fungsi film yang seharusnya paling kelihatan secara jelas adalah make-believe. Bagaimana sineas membuat penonton percaya dengan cerita yang mereka tuturkan, bagaimana penonton percaya dengan karakter-karakter di dalamnya dan membuat kita tergugah mengikuti petualangan mereka hingga film berakhir dan tentu saja bagaimana kelak nasib mereka. Fungsi make-believe ini seharusnya sudah terbaca dari skenario. Tak akan mungkin semuanya terbangun dari situasi yang tidak tertulis jelas di atas kertas yang menjadi panduan bagi semua orang yang terlibat dalam sebuah produksi film. Dan dalam hal ini Apex gagal memenuhi fungsi paling mendasar itu.
Perjalanan mencari ketenangan berubah menjadi kengerian itu bisa jadi hanya ada di kepala Baltasar. Sebagai penonton saya tak menemukan sekaligus mempercayainya.
APEX
Produser: Ian Bryce, Peter Chernin, AJ Dix, Beth Kono, Baltasar Kormakur, David Ready, Charlize Theron, Jenno Topping
Sutradara: Baltasar Kormakur
Penulis Skenario: Jeremy Robbins
Pemain: Charlize Theron, Taron Egerton, Eric Bana

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY