Tahun 2011. Saya pertama kali berkenalan dengan Diza Rasyid Ali, seorang pengusaha sekaligus pemilik/manajer klub sepakbola dari Makassar. Salah satu klub asuhannya, Makassar Football School [MFS], pernah mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.
Saya menghabiskan banyak waktu bersama Diza untuk memahami bagaimana ia beroperasi, bagaimana ia menyesuaikan diri dan bagaimana ia bertahan dalam dunia yang didominasi laki-laki. Saya melihat kegigihannya, keteguhannya, ambisinya dan terutama visinya untuk selalu menjadi pemenang.
Sosok Isla Gordon di serial Running Point yang sudah memasuki musim kedua di Netflix sedikit banyak mengingatkan saya pada sosok Diza. Bedanya Diza bukan party girl sebagaimana Isla, meski keduanya sama-sama berasal dari keluarga kaya. Bedanya lagi Diza mengelola klub sepakbola sebagai perintis sementara Isla mengelola klub basket sebagai pewaris.
Dalam musim pertama kita melihat bagaimana Isla yang selalu direndahkan oleh kakak lelakinya, Cam, dan nyaris tak pernah dibela oleh saudara laki-lakinya yang lain. Iya, Isla terlahir sebagai putri, satu-satunya anak perempuan di keluarga Gordon. Karenanya Isla banyak melakukan kesalahan demi kesalahan semasa mudanya yang kelak terasa menjadi semacam portfolio yang kurang asyik sebagai calon pimpinan tim basket profesional milik keluarganya, LA Waves. Apalagi Isla berada di dunia yang didominasi oleh laki-laki yang tentu saja selalu meragukan kemampuannya. Tapi Isla mencoba, gagal, jatuh dan bangkit lagi terus menerus untuk membuktikan dirinya bahwa tak salah memilihnya sebagai calon pemimpin. Dan ada sejumlah hal yang harus dikorbankan demi ambisinya ini termasuk soal kisah cintanya yang selalu kandas dikalahkan oleh urusan basket.
Dan di musim kedua yang juga masih berjumlah 10 episode, Isla masih melanjutkan perjuangannya. Kali ini masalahnya lebih kompleks. Dari mencari pelatih yang dirasakan sesuai dengan visi dan bujet yang dimiliki klub, melerai sesama pemain yang rebutan cewek, ditinggal sahabatnya yang sudah bertahun-tahun mendampinginya bekerja dan mencoba menata hidupnya dengan merencanakan pernikahannya.
Karena dituturkan dengan nuansa komedi, kita melihat apa yang dilakoni Isla selalu bisa ditanganinya meskipun tak selalu di waktu yang tepat. Dengan segala kejutan yang bisa terjadi pada kompetisi maupun dalam internal klubnya, Isla selalu mencoba mencari jalan terbaik. Ia sudah lebih paham untuk memutuskan hal terbaik meskipun pahit dan membuatnya dicap jahat.
Tapi yang Isla susah untuk kendalikan adalah kehidupan percintaannya dengan Lev, tunangannya. Mereka sudah merencanakan pernikahan setelah sepuluh tahun bersama. Lev sudah memahami apa yang diinginkan Isla dan Isla pun berupaya agar ia bisa menjadi pasangan yang baik untuk suaminya kelak. Tapi manusia bisa berencana, toh jodoh bisa di tangan siapapun. Dan kita tahu selalu ada hal yang perlu dikorbankan demi meraih sebuah ambisi besar.
Running Point menarik diikuti sejak musim pertamanya karena sejumlah alasan. Pertama, menempatkan perempuan sebagai sentral cerita dalam semesta yang didominasi laki-laki. Penempatan ini membuatnya tak sekedar menarik namun juga menyegarkan. Kedua, menyajikan cerita yang solid dengan skenario yang meski ringan dan bisa diikuti dengan asyik. Juga terutama kita bisa melihat dengan cukup baik apa yang sesungguhnya terjadi di balik layar klub-klub basket besar. Ketiga, durasi pendek dalam tiap episode dan ritme cerita yang bergerak cepat membuat kita bisa menikmatinya dengan asyik. Dan kempat, kita bisa menyaksikan Kate Hudson kembali tampil sebagai pusat semesta cerita dalam genre yang paling dikuasainya: komedi.
Kate Hudson yang telah beroleh nominee Oscar sebanyak 2 kali selalu tampil cemerlang dalam film bergenre komedi. Kita mengingatnya antara lain dalam How to Lose a Guy in 10 Days [2003], You, Me and Dupree [2006] dan Bride Wars [2009]. Karismanya yang loveable membuat kita mudah menyukainya meskipun karakter yang diperankannya sesungguhnya tak sebagaimana kebanyakan perempuan lainnya. Dan Kate bisa berakting dalam komedi fisik [terjatuh dari kursi, terantuk pintu yang terbuat dari kaca bening] hingga bisa melontarkan dialog-dialog lucu tanpa terlihat terlalu berusaha untuk melucu. Karenanya peran sebagai Isla Gordon terasa seperti dibuat khusus untuk Kate dan untungnya Kate bisa memainkannya dengan baik.
Dan setelah mencapai semua ambisi-ambisinya dalam dunia yang didominasi laki-laki, kira-kira apa lagi tantangan yang akan ditaklukkan Isla? Saya kira tantangan terbesar Isla kelak bukan lagi pada klub basket yang dipimpinnya tapi bagaimana ia bisa menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan profesionalnya. Dan tentu saja kita sebagai penonton menunggu bagaimana Isla akan menjawab tantangan itu. Mungkin di musim ketiga?
RUNNING POINT
Produser: Akshara Sekar, Erin Owens, Jordan Rambis, Missy Mansour
Sutradara: Michael Weaver, David Stassen, Thembi Banks, James Ponsoldt, Erica Oyama
Penulis Skenario: Mindy Kaling, David Stassen, Brandon Childs, Michael Chung, Bronson Diallo, Michael Rodriguez, David Phillips, Joe Mande, Grace Edwards, Talia Adaiah Caldwell
Pemain: Kate Hudson, Drew Tarver, Scott MacArthur

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](http://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY