Tahun 1997. Jurnalis Steve Hartman baru setahun bergabung sebagai koresponden CBS. Tapi ia langsung mendapat penugasan untuk memberitakan seputar penembakan massal di sekolah yang seringkali menelan banyak korban anak-anak. Sekian tahun bergulat dengan penugasan itu, Steve merasakan kekosongan karena hanya berusaha memotret dari sisi pelaku dan berusaha keras mencari sisi kepahlawanan dari setiap peristiwa. Steve tahu ia harus mengubah perspektif.
“I saw that America was moving on from each school shooting quicker and quicker every time, “ ujarnya sebagaimana dikutip dari The Guardian. Maka sejak 8 tahun lalu Steve memilih memuliakan korban dan menjadikannya tak sekedar statistik atau nama di tugu peringatan. Bersama sahabatnya, fotografer Lou Bopp, kita diajak masuk ke kamar-kamar kosong dari sejumlah anak yang menjadi korban penembakan massal di sekolah. Kita diajak masuk ke kamar-kamar mereka yang seakan sengaja membeku dalam waktu. Setiap keluarga merawat ingatan dan kenangan manis tentang anak-anak mereka melalui kamar-kamar yang nyaris tak disentuh dan dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun. Dan pendekatan ini ternyata lebih emosional dari yang bisa kita bayangkan.
Steve dan Lou mengajak kita memasuki kamar Dominic Blackwell [14], Hallie Scruggs [9], Jackie Casarez [9] dan Gracie Muehlberger [15]. Kita melihat detil-detil khas kamar anak-anak/remaja yang menghancurkan hati. Dari pernak-pernik SpongeBob Squarepants, gelang persahabatan, catatan akan mimpi-mimpi mereka hingga pakaian kotor mereka yang masih berserakan. Steve dan Lou mengajak kita memasuki perspektif ini agar kita melihat keempat anak ini lebih dari sekedar korban. Mereka adalah anak-anak ceria, yang tengah menjalani hidupnya yang cemerlang dan punya banyak impian yang ingin diraih. Tapi pendekatan ini juga membuat kita terisak-isak membayangkan jika mereka adalah anak, keponakan atau saudara kita. Hati kita ikut hancur berantakan ketika melihat Steve sepeti mengorek luka lama yang mungkin belum sembuh pada orang tua mereka. Tapi Steve harus melakukannya agar masyarakat Amerika semakin sadar dengan bahaya penggunaan senjata yang mudah sekali didapatkan dan pada akhirnya disalahgunakan.
Menarik sekali melihat isu sepenting ini justru dituturkan dari sudut pandang manusiawi dan tak berapi-api. Selama 34 menit durasinya kita disadarkan oleh kenyataan betapa banyaknya anak-anak yang menjadi korban dari peristiwa serupa. Disinyalir setiap tahun terjadi lebih dari 75 kali penembakan massal di sekolah yang terjadi di Amerika. Dan pemerintahnya belum mengambil tindakan apapun untuk melindungi anak-anak tak berdosa.
Dan dari kamar-kamar kosong itu, dalam kebisuan yang menghunjam, Steve dan Lou berbicara banyak hal.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY