Tahun 2021. Sebuah tweet meluncur dari akun Bill Gates yang kini diikuti 62,8 juta pengikut. “When I was a kid, I was obsessed with science fiction. But @andyweirauthor’s latest book Project Hail Mary is a fun read even if you aren’t a sci-fi fan. I finished the whole thing in one weekend.”
Saya bukan penggemar fiksi ilmiah. Saya juga belum membaca novel Project Hail Mary sebelumnya. Tapi ketika novel ini kelak difilmkan dan rilis di bioskop setelah 5 tahun, saya setuju dengan pendapat Bill. Nuansa seru dan komedi masih terasa betul dalam film berdurasi 157 menit itu. Dan bisa jadi kombinasi keseruan dan kelucuan berpadu dengan fiksi ilmiah yang membuat saya betah menontonnya tanpa mengantuk sedikit pun hingga film berakhir.
Ryland adalah seorang guru sains yang ngocol di sebuah sekolah dasar. Sebelumnya ia adalah doktor biologi molekuler. Petaka datang ketika Ryland datang dengan sebuah teori dan mengolok-olok para pakar. Sontak saja harga dirinya hancur berantakan.
Wajar jika lantas Ryland merasa kurang berharga. Hingga ia ditemukan sesama ilmuwan lainnya bernama Eva Stratt. Perempuan asal Jerman ini memimpin misi penyelamatan bumi dari ancaman membeku karena adanya Astrophage, sejenis mikroorganisme yang memakan radiasi matahari. Jika tak dimusnahkan dalam 30 tahun separuh bumi akan terancam membeku.
Masalahnya selain merasa kurang berharga, Ryland juga merasa ia seorang pecundang dan jelas-jelas bukan seorang pahlawan. Bandingkan dengan karakter Pelangi dalam Pelangi di Mars yang digambarkan begitu heroik untuk menyelamatkan bumi dari krisis air namun sesungguhnya tak punya kelebihan apapun. Ryland menolak tegas penugasan itu hingga membuat Eva juga perlu bertindak tegas. Ia menyuntik Ryland menjadi koma dan mengirimnya ke luar angkasa.
Di sini kita berhadapan dengan etika dan moral ketika berhadapan dengan krisis, tindakan apa yang bisa dilakukan seseorang? Tapi duo sutradara Phil Lord dan Christopher Miller memilih untuk tak berlarut-larut dengan soal dilema dan berfokus pada bagaimana upaya Ryland untuk menjalankan apa yang dibebankan bumi kepadanya.
Bagian paling menarik dari Project Hail Mary bukan pada upaya heroik dan seorang diri Ryland mencari jalan keluar. Bagian terbaik justru ketika Ryland bertemu sesosok alien dari planet Eid yang diberinya nama Rocky. Tak terbayangkan memang topik seserius ini justru dituturkan dari perspektif dua sosok berbeda dunia yang kelak bersahabat dan saling membantu masalah masing-masing. Saya tak pernah sedikit pun menduga Project Hail Mary bisa dibangun sebagai buddy comedy yang asyik.
Tapi keasyikan ini mungkin tak akan terasa dalam film berdurasi lebih dari dua jam jika karakter Ryland tak dimainkan aktor kaliber. Terakhir kali kita melihat Ryan Gosling berakting komedi dengan sangat mulus di film Barbie yang kelak memberinya nomine Oscar. Di film ini tantangannya lebih besar karena Ryan harus berakting seorang diri selama lebih dari 2/3 durasi film. Ia harus bisa memperlihatkan sosok Ryland dari seorang pecundang menjadi seorang pahlawan. Ia harus bisa meyakinkan penonton bahwa Ryland yang penakut bisa menjadi sosok pemberani. Dan Ryan memperlihatkan transformasi perannya dalam jangkauan nan luas yang mengagumkan. Hingga akhirnya kita lupa sebelumnya Ryan adalah Ken di film Barbie.
Sudah cukup banyak novel hingga film memperlihatkan ancaman yang mengintai bumi. Dan ancaman itu sesungguhnya nyata di hadapan kita. Masih ingat bagaimana bencana ekologi di Sumatera pada November tahun lalu yang menghancurkan ratusan desa, menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan rumah dan menyebabkan kerugian trilyunan rupiah. Semuanya terjadi karena keserakahan manusia. Maka di balik kekocakan dan humor film ini terselip satu pesan penting: sebagai warga bumi kita bertanggung jawab atasnya dan bertanggung jawab menjaganya.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY