Home FILM Isu Fatherless Yang Penting dan Perlu Terus Dibicarakan

Isu Fatherless Yang Penting dan Perlu Terus Dibicarakan

Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya [2026]

39
0
SHARE
Isu Fatherless Yang Penting dan Perlu Terus Dibicarakan

Tahun 2024. Semesta mempertemukan saya dengan seorang aktor bernama Rendy Kjaernett. Saat itu Rendy baru saja diterpa badai terbesar dalam hidupnya.

Kami lantas cukup dekat seiring dengan proses syuting film SOLATA [2025] di mana Rendy bermain sebagai peran utama. Karena cukup dekat saya sering mendengar Rendy bercerita soal ayahnya yang pernah absen bertahun-tahun dari hidupnya.

Dalam bukunya berjudul 35 Tahun Jadi Pembohong yang diluncurkan tahun ini, Rendy banyak bercerita soal bagaimana ia terbiasa berbohong menutupi ketiadaan sosok ayah. Dan saya pun mulai banyak membaca buku/literatur terkait isu fatherless.

Isu fatherless menjadi isu utama yang dibahas di film Ayah, Ini Arahnya Kemana Ya? Tak banyak film Indonesia yang menguliti soal ini lebih jauh namun Oka Aurora dibantu sutradara Kuntz Agus mencoba melihat isu ini dengan jernih. Dalam film kita melihat isu ini dituturkan dari perspektif Dira, anak perempuan sulung di keluarga Ayah dan Ibu.

Dengan opening yang mengalir lancar dan metafora tentang ayah yang menyetir panik dan kehilangan arah, kita tahu film ini akan berbicara tentang apa. Kita melihat Dira dan adik laki-lakinya, Darin, diasuh oleh Ibu. Sosok Ayah seperti ada dan tiada. Bahkan kata Darin, Ayah hanyalah sosok bayangan di rumah. Ayah tak hadir di momen-momen terpenting seperti wisuda sarjana Dira. Ayah tak pernah lagi memeluk mereka saat mereka membutuhkannya.

Hingga Ibu mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Rumah itu timpang. Rumah itu kehilangan cahayanya. Ayah hadir untuk menemani Ibu tapi sekali lagi tak hadir untuk anak-anaknya. Tapi kita lantas tahu apa yang Ayah alami. Ia kehilangan sosok ayah saat masih belia. Hal itu tak pernah jadi masalah hingga Dira dan Darin lahir. Ayah tak tahu bagaimana menjadi ayah yang baik dan ia tak mencoba mencari jalan untuk memperbaikinya.

Di tengah-tengah berondongan film keluarga di bioskop dalam beberapa bulan terakhir, isu fatherless yang dibawa film ini harusnya menjadi senjata ampuh untuk menarik perhatian penonton. Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 [PK-2025] oleh BKKBN, 25,8% atau 1 dari 4 anak di Indonesia mengalami fatherless [ketidakhadiran peran ayah] secara emosional maupun fisik. Fenomena ini, yang menempatkan Indonesia di antara negara dengan tingkat fatherless tertinggi, memicu masalah perkembangan emosi, sosial dan kognitif pada anak. Karenanya secara isu ia relevan dan penting untuk dibicarakan secara terus menerus.

Begitupun dalam film memang ada sejumlah hal yang mungkin bisa menjadi catatan. Saya merasa cerita ini bisa jadi lebih baik dituturkan dari sudut pandang Darin karena kita bisa melihat ada siklus yang harus diputus dari Ayah ke anak laki-lakinya. Karena dampak ke Darin mungkin akan lebih terasa dibanding Dira karena suatu saat ia juga akan jadi ayah. Kita bisa melihat Darin yang punya ketakutan besar mengulang hal yang sama yang dilakukan Ayahnya.

Saya juga merasa alasan absennya Ayah dalam film ini kurang kuat. Alasan penyakit diabetes rasanya tak cukup kuat untuk membuat seorang ayah menjauh dari keluarganya. Saya membayangkan jika Ayah dalam film ini terkena depresi akibat PHK misalnya bisa jadi daya tekannya ke cerita akan lebih terasa. Ayah sering tak hadir karena ia perlu menyembuhkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Ia tak punya banyak pilihan dan pergulatannya dengan depresi juga bisa jadi sesuatu yang menarik dan tak klise.

Karenanya Ayah perlu hadir di ruang-ruang yang sepi, tanpa bising suara, juga dentuman instrumen musik di film yang terus menerus ada tanpa jeda.

Kita butuh lebih banyak film Indonesia dengan isu sepenting ini di bioskop. Bukan sekedar film dengan unsur drama lebay to the max dan dengan karakter-karakter yang terus menerus bercucuran airmata. Jenis film yang bisa kita bicarakan setelah menontonnya.

Video Terkait: