Home FILM Yohana Tak Bicara Agama dan Moral, Ia Bicara Realita

Yohana Tak Bicara Agama dan Moral, Ia Bicara Realita

Film Yohana [2026]

12
0
SHARE
Yohana Tak Bicara Agama dan Moral, Ia Bicara Realita

Tahun 2025. Badan Pusat Statistik [BPS] menginformasikan penurunan jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur [NTT] menjadi 17,6%. Setidaknya sekitar 1,09 juta orang penduduk di sana masih hidup di bawah kemiskinan. Kondisi ini membuat NTT selalu masuk dalam peringkat teratas salah satu propinsi termiskin di Indonesia.

Kemiskinan hampir selalu erat dengan kesenjangan akses. Jika di film SOLATA [2025], saya mengaitkan kemiskinan dengan akses pendidikan yang masih kurang memadai di pedalaman, film Yohana masuk lebih menukik lagi. Ia bicara tentang bagaimana kemiskinan juga berkorelasi erat dengan eksploitasi anak hingga pernikahan dini. Dan yang bisa jadi membuatnya sangat menarik adalah Yohana menggunakan perspektif seorang biarawati muda.

Biarawati itu bernama Yohana [Laura Basuki dalam salah satu penampilannya yang paling cemerlang]. Sebagaimana biarawati pada umumnya, kerja-kerja yang mereka lakukan adalah pengabdian kepada masyarakat. Mereka datang ke sebuah daerah dan menjadi bagian darinya. Mereka datang dan melihat banyak hal-hal yang menyesakkan dada. Yohana melihat itu semua dan memilih menjalaninya dengan tenang. Oleh Razka Robby Ertanto sebagai sutradara, Yohana tak pernah diposisikan sebagai pahlawan. Ia datang, melihat, berbaur dan tak pernah secara heroik mencoba mencari jalan agar anak-anak bisa keluar dari kemiskinan. Di balik simbol agama yang melekat pada dirinya, Yohana tak bicara soal agama dan moral, ia bicara realita.

Dan inilah realita pahit dari negeri yang sudah merdeka selama 80 tahun. Masih banyak warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, berjibaku dengan kerasnya hidup setiap hari hanya agar bisa makan dua kali sehari. Di Jakarta kita melihat itu. Yohana juga melihat itu ribuan kilometer dari Jakarta tepatnya di Sumba Timur [NTT]. Tapi ini adalah kemiskinan yang struktural yang seakan sengaja dibiarkan oleh pemerintah.

Yohana melihat anak-anak yang tak bersekolah, Yohana melihat anak-anak yang dipaksa mencuri, Yohana melihat anak-anak yang harus berjualan tuak untuk menyambung hidup. Sebagai sutradara, Razka tak menggugat apapun di film ini, ia hanya membeberkan kenyataan pahit ke depan mata kita.

Di tangan sinematografer Odyssey Flores, Yohana memukau dengan padang tandus, matahari yang terik menghunjam dan anak-anak berkulit gelap berkejaran dengan hidup. Tapi sekaligus gambar-gambar ini menjadi tamparan bahwa kemiskinan tak boleh lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksotik dan perlu dilanggengkan. Ia adalah bukti kegagalan pemerintah menyediakan kebutuhan mereka. Kemiskinan tak cuma ada di Jakarta, ia terus menyebar seperti penyakit hingga jauh ke Sumba.

Film Indonesia perlu lebih banyak film seperti Solata dan Yohana. Agar kita selalu ingat bahwa Indonesia bukan cuma Jakarta dan Jawa. Bahwa kita tak perlu melulu berbicara soal agama dan moral di mimbar mesjid/gereja, sesekali kita perlu menyentakkan nurani kita bahwa kemiskinan masih ada di negeri ini hingga hari ini.

Video Terkait: