Tahun 2017. Kamus Oxford menambahkan kata woke dan mendefinisikannya sebagai seseorang yang waspada terhadap ketidakadilan dalam masyarakat terutama rasisme.
Karena woke culture ini pula membuat banyak hal yang di masa lalu dianggap biasa namun di masa kini terasa sangat sensitif. Maka terjadilah kegagapan dalam menyikapi perubahan persepsi ini. Namun apa jadinya jika paham woke ini masih dianggap sebagai penyesuaian yang mengagetkan terutama di dunia akademis?
Dalam setahun terakhir tiba-tiba kita melihat sejumlah film dan serial yang berlatar dunia akademis dan mengaitkan dirinya dengan woke culture ini. Mulai dari film After the Hunt [2025] garapan Luca Guadagnino hingga serial terbatas Vladimir [2026] yang tayang di Netflix. Kita melihat kegagapan generasi X soal woke culture ketika berhadapan dengan Gen Z.
Yang terbaru memperlihatkannya namun dikemas dalam nuansa komedi adalah serial Rooster [2026] yang tayang di HBO Max. Meski bukan isu utama dalam serial ini namun menarik mencermati bagaimana kreator melihat fenomena yang masih menggelisahkan sejumlah pihak tersebut.
Dalam Rooster, aktor sekaligus komedian, Steve Carrell didaulat sebagai Greg Russo, seorang suami yang belum bisa bangkit dari perceraiannya yang sudah terjadi 5 tahun sebelumnya, seorang ayah yang peduli dengan masa depan putri satu-satunya dan seorang penulis buku laris yang tak terlalu bangga dengan karyanya.
Greg butuh pelarian dari hidupnya yang hampa. Meski ia sudah dikenal luas sebagai penulis buku laris namun ia merasa kesepian. Ia juga sering tidak nyaman dengan seseorang yang mengagumi novel-novel yang ditulisnya karena menurutnya novel tersebut hanyalah bacaan ringan semata. Hingga sebuah kesempatan tak terduga datang.
Ketika berkunjung ke universitas tempat putrinya, Katie, menjadi dosen, ia pun ditawari menjadi dosen tamu. Jauh di lubuk hatinya yang masih terluka, Greg merasa ingin mendekatkan dirinya dengan Katie. Namun di saat bersamaan hubungan Katie dan suaminya tengah bermasalah. Archie, suami Katie, berselingkuh dengan mahasiswinya sendiri hingga hamil. Dan Greg terjebak di situasi serba salah.
Di atas kertas formula ini seharusnya bisa bekerja dengan lebih baik apalagi ketika kita melihat filmografi kreatornya, Bill Lawrence, sebelumnya. Bill adalah sosok kunci di balik sukses fenomenal serial Ted Lasso, lantas disusul oleh Shrinking dan Bad Monkey, ketiganya tayang di Apple TV.
Tapi formula baru bisa bekerja dengan baik jika ia memberi kesempatan kepada 1 ide utama sebagai benang merah cerita dan menjadikan 2 ide lainnya sebagai sub plot. Yang terjadi di Rooster adalah ketiga ide seperti tak mau kalah ingin menjadi ide utama dan hasilnya adalah tontonan yang seringkali terasa tak konsisten dan fokus. Padahal jika saja Rooster mengulik lebih dalam hubungan emosional Greg dan putrinya, ia akan berkembang menjadi tontonan yang tak saja segar dan juga menarik. Jika di Vladimir yang kita lihat adalah sepasang suami istri yang jadi dosen, di Rooster kita melihat ayah dan anak yang sama-sama mencoba membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Bersamaan dengan itu Greg yang tak pernah menginjak bangku kuliah merasakan perubahan sangat fundamental terkait woke culture. Suatu kali ia dikeluhkan seorang mahasiswi atas sebuah frasa dari novel yang dipetiknya yang sesungguhnya tak bermakna melecehkan atau seksis, hanya saja frasa itu tak dicoba dipahami oleh si mahasiswi. Rasanya seperti ada cambuk besar yang siap mendera siapapun yang ingin menyampaikan apa yang dipikirkannya tanpa bermaksud menyinggung siapapun. Seperti maju kena mundur kena.
Tapi woke culture tentu saja tak seharusnya negatif. Ia selayaknya menjadi pengingat bagi siapapun untuk lebih bersimpati, berempati dan terutama menghargai orang lain. Dan seharusnya woke culture ini digunakan pula oleh kreator Rooster sebagai “jembatan” untuk menghubungkan dua generasi baik antara Greg dan Katie maupun Greg dan mahasiswanya agar kesepahaman bisa dicapai. Ia bisa jadi pintu masuk yang positif untuk memberitahu bahwa perubahan adalah keniscayaan dan kita semua perlu bisa beradaptasi dan sekuatnya dan sebisanya.
Begitupun Rooster jelas bukan tontonan berkualitas buruk. Selain faktor sejumlah ide yang berupaya mencari perhatian menjadi ide utama, Rooster tetap jenaka, menyenangkan dengan menyelipkan kritik sosial di sana-sini. Bisa jadi karena kekuatan trio pemeran utamanya: nomine Piala Oscar, Steve Carrell dan Danielle Deadwyler plus nomine Piala Emmy, Phil Dunster.
Steve kembali memperlihatkan kualitasnya sebagai komedian nomor wahid sekaligus aktor dengan sensitifitas yang menarik. Tentu saja meski ditopang skenario cemerlang namun jika tak berada di tangan yang tepat, bisa jadi kita melihat sosok Greg Russo sebagai seorang narsistik. Sementara Danielle, meski dengan screen time yang tak seberapa banyak, juga mencuri perhatian dalam salah satu penampilan komedinya. Mungkin yang paling menarik melihat Phil Dunster yang melejit lewat peran sebagai pesepakbola arogan di Ted Lasso menjadi dosen ganteng nan charming dengan aksen British yang hampir selalu terdengar eksotik. Dengan dream cast seperti ini apa yang bisa terjadi pada Rooster?


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY