Home FILM PENDEK Berkenalan dan Berempati Dengan Penderita Resignation Syndrome

Berkenalan dan Berempati Dengan Penderita Resignation Syndrome

Film Life Overtakes Me [2019] - Tayang di Netflix

33
0
SHARE
Berkenalan dan Berempati Dengan Penderita Resignation Syndrome

Akhir tahun 1990-an. Sebuah penyakit misterius yang menimpa anak-anak muncul di Swedia. Gejalanya dimulai dari anak mulai berbicara dan makan lebih sedikit dan secara perlahan mereka berhenti bergerak/berfungsi [katatonik]. Menariknya karena penyakit ini muncul hanya pada anak-anak pengungsi sekaligus pencari suaka dari negara yang sedang mengalami peperangan.

Film dokumenter paling menarik ketika ia membicarakan sebuah hal yang masih sangat jarang diketahui orang lain dan bisa membuat kita berempati pada apa yang dibicarakannya. Pasangan suami istri, John Haptas dan Kristine Samuelson, melakukannya di film dokumenter pendek nomine Oscar, Life Overtakes Me [2019]. John yang memegang kamera dan Kristine yang merekam suara masuk ke dalam ruang-ruang kecil, ringkih namun masih dipenuhi cinta oleh sejumlah keluarga pengungsi di Swedia. Dan dari film ini kita berkenalan pertama kalinya dengan sebuah penyakit yang diberi nama Resignation Syndrome [sindrom pengunduran diri].

Sejak kasus penyakit misterius ini pertama kali ditemukan diperkirakan sekitar 400-an orang anak mengalaminya selama periode 2003-2005. Disinyalir penyakit ini dipicu oleh trauma mendalam sang anak yang tahu kondisi orangtuanya yang disiksa, dipukuli hingga diperkosa di negara tempat mereka tinggal yang mengalami konflik. Trauma ini tumbuh dan mengakar dan bisa jadi adalah respon alamiah dari sang anak yang tak tahu harus berbuat apa. Sekali lagi perang menjadikan anak-anak tak berdosa sebagai korbannya dan orang tua mereka yang harus menanggung akibatnya. Anak-anak itu mengundurkan diri dari dunia dengan berhenti berbicara/makan/beraktifitas normal dan hidup dalam kondisi koma. “Mereka pergi ke dunianya sendiri dan memutuskan segala hubungan dengan bagian kesadaran di otaknya, “ ujar pensiunan dokter bedah sekaligus sukarelawan Resignation Syndrome, Elisabeth Hultcrantz.

Hati kita teriris melihat bagaimana gadis kecil nan cantik bernama Daria hanya tergeletak di tempat tidurnya sepanjang hari seakan tertidur pulas. Tapi kita nyaris tak mendengar tangisan atau keluhan dari orangtuanya. Kita melihat bagaimana mereka sekuat tenaga berusaha menjalani hari-hari sewajar dan senormal mungkin demi kesehatan mental seluruh anggota keluarga. Maka kita melihat bagaimana harus diberi makan melalui selang, bagaimana ibunya berupaya menekuk sejumlah tangan dan kaki Daria agar tak kaku, bahkan kita melihat mereka membawa Daria ke luar rumah sekedar berjalan-jalan menghirup udara segar.

Kekuatan dokumenter pendek ini selain pada isunya yang sangat menarik juga terutama pada bagaimana John dan Kristine kembali mengingatkan kita harga dari sebuah peperangan. Dan harga itu harus dibayar mahal oleh para pengungsi yang melarikan diri dari negeri yang sebelumnya mereka anggap sebagai rumah. John dan Kristine tidak melakukannya dengan narasi berapi-api, keduanya hanya memperhatikan dampaknya seperti yang menimpa Daria. Kesuksesan dokumenter ini karena selain ketulusannya juga keterbukaan dari para subyeknya. Keluarga-keluarga ini hanya ingin mencari harapan di negeri asing namun harus menjalaninya dengan penuh ujian. Dan mereka menjalaninya dengan kepala tegak.

Jangan sampai ada Daria-Daria  lagi yang muncul dari belahan bumi lainnya.Jangan biarkan peperangan terus terjadi dan bisa menghancurkan masa depan sebuah generasi. Anak-anak itu adalah masa depan dunia yang kita tinggali kelak dan mereka sama berhaknya untuk kembali merasakan kehidupan yang aman, nyaman dan bahagia.

Video Terkait: