Januari 1994. Di Lousville, Kentucky, badai salju tengah menggulung kota. Dan menyebabkan kota tenggelam oleh gunungan 19 inci salju. Di tengah-tengahnya ada keluarga Schmitt yang ketar-ketir. Michelle, anak di keluarga itu, harus diberangkatkan ke Nebraska untuk menjalani operasi transplantasi hati. Dengan tenggang waktu super sempit dan semua jalan raya tertutup gunungan salju, bagaimana membawa Michelle ke luar dari sana?
Peristiwa ini lantas menjadi viral sebagai simbol bahwa dalam kesulitan warga bisa bersatu padu dan saling membantu. Karena menjadi simbol masih adanya kebaikan di dunia ini maka peristiwa tersebut ditulis ulang menjadi sebuah film berjudul Ordinary Angels.
Peristiwa-peristiwa seperti ini sesungguhnya sering terjadi di tengah masyarakat. Dan seringkali ada orang-orang biasa yang bertindak seperti malaikat [ordinary angels]. Mereka adalah orang-orang yang bisa dengan mudah menyingkirkan kepentingannya sendiri. Seringkali mereka juga bekerja dalam diam, tanpa sorotan kamera, tanpa ulasan media sosial. Dalam Ordinary Angels, malaikat itu adalah seorang perempuan penata rambut bernama Sharon Steven.
Yang saya sukai dari Sharon adalah betapa manusiawinya ia. Sharon seorang ibu yang pernah menelantarkan anaknya hingga ketika beranjak dewasa sang anak membencinya setengah mati. Sharon juga seorang alkoholik kelas kakap yang sudah berkali-kali meniatkan diri untuk berhenti minum namun selalu gagal. Hingga sebuah berita di televisi tentang seorang anak pengidap atresia bilar [kelainan hati] mengetuk hatinya. Jelas sekali Sharon bukan malaikat tapi kali ini ada malaikat di sampingnya yang membimbingnya bertemu Michelle dan keluarganya dan membuatnya menemukan kembali tujuan hidupnya.
Saya juga menyukai betapa film Kristiani ini tak dipenuhi khotbah verbal. Bandingkan dengan film religi kita yang sering sekali menampilkan karakter maha sempurna tanpa cela dan seringkali mengkhotbahi orang-orang di sekelilingnya namun tak terlihat sedikitpun kontribusinya di masyarakat. Dalam Ordinary Angels kita hanya melihat orang biasa penuh dosa dengan masa lalu buruk sekedar ingin menolong seseorang yang tak dikenalnya. Ia tak menyitir ayat apapun untuk menjustifikasi apa yang dilakukannya tapi kita tahu betapa Tuhan telah memaafkannya dan membiarkan iman kembali menghambur ke dalam hatinya.
Ordinary Angels menyenangkan hati dan mengharu biru sepanjang durasi filmnya bisa jadi juga karena kombinasi menarik dari dua pemeran utamanya, Hillary Swank dan Alan Ritchson. Bicara soal Hillary dengan 2 piala Oscar dalam genggamannya kita tak perlu meragukan kapasitas aktingnya. Yang menjadi kejutan justru bintang serial The Reacher itu. Meski tetap menampilkan sosok pria tegas-kasar namun Alan memberi kedalaman pada perannya sebagai suami yang berduka dan ayah yang akan melakukan apapun untuk anaknya. Sebagai ayah, saya paham betul kesulitan yang dialami Ed, tokoh yang diperankan Alan. Saya bisa memahami betapa ia ingin memastikan semua baik-baik saja padahal sesungguhnya tidak. Ia mencoba tegar dalam kerapuhannya. Ia mencoba tak menangis dalam kesedihannya.
Ordinary Angels tampak betul menghormati peristiwa aslinya sebagai simbol kebaikan yang masih ada di tengah masyarakat yang semakin individualistis. Malaikat-malaikat itu masih ada dan menunggu hatinya digerakkan oleh Tuhan untuk membantu sesama. Tak perlu badai salju setinggi 19 inci untuk melihat bagaimana keajaiban bisa datang tanpa diduga.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY