Home FILM Ada Apa di Brasil Tahun 1977?

Ada Apa di Brasil Tahun 1977?

Film The Secret Agent [2025] - Tayang di Klik Film

42
0
SHARE
Ada Apa di Brasil Tahun 1977?

Dua tahun berturut-turut sinema Brasil memukau dunia internasional. Tahun lalu I’m Still Here dari sutradara Walter Salles sukses membawa pulang piala Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Dan tahun ini The Secret Agent dari sutradara Kleber Mendonca Filho dinominasikan untuk 4 kategori di Academy Awards.

Ada kesamaan yang menarik dari kedua film di atas. Kedua film memotret sebuah periode di mana Brasil dicengkeram militer dengan segala dampaknya. Jika I’m Still Here memilih fokus pada bagaimana pihak militer melakukan penculikan para aktivis sementara The Secret Agent tampak lebih ambisius membongkar banyak hal: dari represi militer, pembungkaman oleh rezim hingga trauma kolektif yang dialami generasi setelahnya.

The Secret Agent memilih latar spesifik di Brasil di tahun 1977. Pada tahun ini Brasil mengalami krisis militer penting ketika Presiden Ernesto Geisel memecat Menteri Angkatan Darat, Jenderal Silvio Frota, yang menandai momen krusial dalam transisi demokrasi. Di film, karakter utama bernama Armando dalam misi mencari informasi tentang ibunya dan mendapati dirinya dikejar-kejar oleh pihak militer yang korup. Semuanya terkait dengan masa lalu Armando sebagai mantan profesor sekaligus peneliti di sebuah universitas dan mendapati dirinya harus berhadapan dengan pihak militer serakah yang ingin menghentikan penelitiannya.

Dalam keriuhan situasi politik yang tak menentu, nyawa Armando pun terancam. Pada suatu saat ia merasa harus menyelamatkan diri secepatnya dan membawa serta anak laki-lakinya pergi sejauh mungkin.

Dalam situasi politik yang penuh tekanan, Armando bertemu dengan beberapa orang yang juga menjadi sasaran persekusi. Untungnya memang ada perempuan tua nah lincah bernama Dona Sebastiana yang menampung mereka semua. Dalam pelarian mereka saling menguatkan. Dalam pelarian mereka saling berbagi pengalaman dan mencoba saling memahami.

Kleber melemparkan kita ke Brasil tahun 1977 tak saja dengan set lokasi yang luar biasa detil namun merambah hingga ke penampilan para aktor/aktrisnya yang terasa seperti hidup di tahun itu. Gabriel Domingues sebagai penata peran terlihat sangat teliti memilih dari aktor utama hingga sekedar figuran yang membuatnya beroleh nomine Piala Oscar.

Sinematografer Evgenia Alexandrova juga memilih berbagai teknik pengambilan gambar yang membuat gambar-gambar yang direkamnya terasa sangat alamiah seperti direkam di tahun 1970-an. Kealamiahan itu membuat teknis pewarnaan gambar tak terlalu banyak diperlukan. Sayangnya memang kecakapan Evgenia di The Secret Agent tak dilirik juri Oscar meski setara kualitasnya dengan kualitas gambar yang dihasilkan sesama sinematografer perempuan, Autumn Durald Arkapaw, yang beroleh piala Oscar dari Sinners.

Segala kelebihan teknis The Secret Agent diseimbangkan dengan kualitas skenario yang solid, dengan tiga pembabakan yang berfungsi baik mengantarkan cerita dan terutama bagaimana ambisi cerita menyampaikan banyak hal bisa terselesaikan dengan baik.

Apa yang terjadi di Brasil sesungguhnya juga pernah terjadi di Indonesia dalam kurun waktu yang kurang lebih sama. Dan kesamaan ini membuat kita bisa lebih mengerti apa yang terjadi, lebih bisa bersimpati pada mereka yang harus hidup dalam tekanan dan ketakutan yang seakan tak berujung. Era represi militer itu akhirnya pergi namun traumanya tetap hidup hingga hari ini.

Maka apa yang dilontarkan Wagner Moura saat menerima piala Golden Globe beberapa waktu lalu terasa penting untuk selalu kita ingat. “If trauma can be passed along generations, values can too.”

Video Terkait: